IDENESIA.CO - Di tengah situasi darurat pasca-gempa dahsyat yang menewaskan hampir 2.900 orang, junta militer Myanmar akhirnya mengumumkan genca...
IDENESIA.CO - Di tengah situasi darurat pasca-gempa dahsyat yang menewaskan hampir 2.900 orang, junta militer Myanmar akhirnya mengumumkan gencatan senjata selama tiga minggu, mulai 2 April hingga 22 April 2025.
Namun, keputusan ini memunculkan pertanyaan: apakah ini murni langkah kemanusiaan atau bagian dari strategi politik?
Sebelumnya, junta menolak tawaran gencatan senjata dari kelompok pemberontak yang bertujuan membuka jalur bantuan bagi korban bencana.
Baru setelah insiden dugaan serangan terhadap konvoi Palang Merah China pada 1 April, junta mengubah sikapnya dan mengeluarkan pernyataan resmi soal gencatan senjata.
Keputusan ini juga bertepatan dengan rencana kunjungan kepala junta, Min Aung Hlaing, ke Bangkok, Thailand, untuk menghadiri pertemuan puncak regional.
Beberapa analis menduga bahwa gencatan senjata ini bisa menjadi langkah taktis untuk mengamankan posisi politik Myanmar di kancah internasional, terutama di tengah tekanan komunitas global terkait konflik berkepanjangan di negara itu.
Meski ada harapan bahwa gencatan senjata dapat memfasilitasi operasi kemanusiaan, junta tetap mengeluarkan peringatan keras kepada kelompok pemberontak.
Jika gencatan senjata dilanggar, militer Myanmar mengancam akan melakukan "tindakan balasan yang diperlukan."
Dengan situasi yang masih tegang, masyarakat Myanmar kini menunggu apakah gencatan senjata ini benar-benar akan membawa bantuan bagi para korban atau sekadar menjadi strategi politik yang tidak berdampak nyata bagi mereka yang membutuhkan.
(Redaksi)