
IDENESIA.CO – Memasuki penghujung 2025, Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur meningkatkan kewaspadaan menghadapi potensi bencana hidrometeorologi yang kerap terjadi pada periode pergantian tahun.
Melalui Dinas Sosial (Dinsos), Pemprov Kaltim memperkuat kesiapan logistik bencana dengan percepatan distribusi, penambahan stok, dan penempatan buffer zone di wilayah rawan. Langkah ini dilakukan sebagai respons terhadap peningkatan curah hujan, ancaman banjir di wilayah hulu, serta cuaca ekstrem yang biasanya terjadi pada awal tahun.
Kepala Dinas Sosial Kaltim, Andi Muhammad Ishak, memastikan bahwa stok logistik bencana hingga akhir tahun berada dalam kondisi aman.
Ia menjelaskan bahwa Dinsos menyusun strategi pengadaan secara bertahap setiap triwulan, termasuk triwulan IV yang sebagian besar paketnya sudah didistribusikan ke kabupaten/kota. Dengan strategi tersebut, pemerintah ingin memastikan tidak ada kekosongan logistik ketika bencana terjadi tiba-tiba.
“Kami masih punya stok untuk antisipasi di akhir dan awal tahun. Biasanya kebutuhan meningkat di awal tahun. Mudah-mudahan kasusnya tidak seberat sebelumnya,” ujar Andi seusai rapat di Gedung B DPRD Kaltim, Minggu (30/11/2025).
Distribusi Lebih Awal untuk Percepat Respons Darurat
Percepatan distribusi menjadi salah satu strategi utama Dinsos Kaltim. Andi menjelaskan bahwa pihaknya mengirim stok lebih awal ke daerah dengan potensi bencana tinggi agar bantuan dapat diterima lebih cepat ketika situasi darurat terjadi. Distribusi ini bertujuan memperpendek waktu tanggap lapangan yang sering kali menjadi kendala, terutama pada wilayah yang sulit diakses.
“Sebagian sudah kami distribusikan ke kabupaten/kota untuk antisipasi jika terjadi bencana, sehingga logistik berada lebih dekat di lokasi,” jelas Andi.
Menurutnya, kebijakan penempatan stok lebih dekat ke daerah rawan bencana merupakan evaluasi penting dari kejadian banjir besar di Mahakam Ulu.
Saat itu, medan yang sulit dijangkau membuat mobilisasi logistik membutuhkan penanganan cepat dan jumlah bantuan besar. Dengan memperkuat buffer zone logistik di daerah tersebut, pemerintah berharap dapat meningkatkan ketepatan distribusi pada peristiwa mendadak.
Stok 4.000 Paket Dinilai Mencukupi untuk Periode Kritis
Hingga akhir November, Dinsos Kaltim mencatat ketersediaan sekitar 4.000 paket logistik di gudang provinsi. Jumlah tersebut dianggap memadai untuk kebutuhan jangka pendek, terutama menghadapi masa kritis di akhir tahun dan awal 2026.
Paket yang disiapkan mencakup makanan siap saji, matras, selimut, family kit, hingga perlengkapan dapur umum yang diperlukan untuk penanganan darurat.
Andi menegaskan bahwa pihaknya harus menyisakan stok untuk awal tahun. Ia menyebutkan bahwa kebutuhan biasanya melonjak pada Januari–Februari, sehingga pemerintah perlu memastikan ketersediaan logistik tanpa harus menunggu anggaran baru berjalan.
“Kami harus menyisakan stok untuk awal tahun. Jika menunggu anggaran berjalan, butuh satu hingga dua bulan prosesnya. Itu yang kami hindari agar tidak terjadi kekosongan,” tegasnya.
Pengalaman pada tahun-tahun sebelumnya menunjukkan bahwa periode awal tahun sering ditandai peningkatan frekuensi banjir, cuaca ekstrem, dan berbagai bentuk bencana hidrometeorologi. Karena itu, Andi menyebutkan bahwa kestabilan stok menjadi prioritas yang tidak bisa dinegosiasikan.
Dukungan Pemerintah Pusat Perkuat Kesiapsiagaan Daerah
Selain memperkuat stok daerah, kesiapsiagaan Kaltim juga bertambah dengan datangnya bantuan logistik dari pemerintah pusat.
Baru-baru ini, bantuan senilai hampir Rp1 miliar tiba di gudang Dinsos Kaltim. Bantuan tersebut terdiri atas peralatan darurat, kebutuhan dasar, serta perlengkapan evakuasi yang akan menambah cadangan logistik provinsi.
“Alhamdulillah, kami juga mendapat support dari pusat. Bantuan hampir Rp1 miliar untuk logistik dan peralatan bencana baru datang,” kata Andi.
Ia menilai bahwa dukungan pusat sangat penting, terutama jika terjadi bencana skala besar yang melampaui kemampuan pembiayaan daerah. Selama ini, Kementerian Sosial menjadi mitra utama dalam memperkuat perlindungan sosial saat terjadi keadaan darurat.
Meski stok dianggap memadai, Andi tidak menutup kemungkinan mengajukan permintaan tambahan ke Kemensos apabila kebutuhan lapangan meningkat drastis. Menurutnya, mekanisme permohonan bantuan dilakukan ketika stok daerah diproyeksikan tidak mampu menutupi kebutuhan tanggap darurat dua hingga tiga hari pertama.
Pemprov Perkuat Koordinasi Antarinstansi Jelang Pergantian Tahun
Menjelang akhir 2025, Pemprov Kaltim meningkatkan kewaspadaan menghadapi ancaman banjir, tanah longsor, dan cuaca ekstrem.
Dinsos Kaltim bekerja bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) serta instansi teknis lainnya untuk memperkuat koordinasi operasional, terutama pada jalur distribusi bantuan, kesiapan personel, dan kecepatan mobilisasi lapangan.
Pemerintah menilai bahwa keberhasilan penanganan darurat tidak hanya bergantung pada jumlah logistik, melainkan juga pada kecepatan distribusi, kesiapan petugas, dan koordinasi lintas sektor.
Karena itu, rapat-rapat koordinasi intensif terus dilakukan menjelang pergantian tahun.
“Kita tetap berharap tidak ada bencana besar. Tapi kesiapsiagaan harus maksimal, karena keselamatan masyarakat menjadi prioritas,” tutup Andi.
Dengan ketersediaan stok yang dinilai aman hingga awal 2026 dan dukungan pusat yang sudah diterima, Pemprov Kaltim optimistis dapat mempercepat respons darurat jika bencana terjadi.
Pemerintah juga mengajak seluruh pemangku kepentingan memperkuat kolaborasi agar penanganan bencana dapat dilakukan lebih cepat, tepat, dan efisien.
(Redaksi)

