Internasional

Trump Kecewa Zelensky Terkait Proposal Damai

IDENESIA.ID – Ketegangan diplomatik antara Amerika Serikat, Ukraina, dan Rusia kembali meningkat setelah Presiden AS Donald Trump mengekspresikan kekecewaannya terhadap Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky. Pernyataan itu muncul ketika proses negosiasi perdamaian memasuki fase yang semakin rumit. Washington berharap proposal damai terbaru bisa membuka jalan menuju penghentian perang Ukraina–Rusia, tetapi respons Kyiv belum sesuai ekspektasi Gedung Putih.

Dalam upacara penghargaan tahunan Kennedy Center, Trump menegaskan bahwa Zelensky belum menunjukkan komitmen serius terkait dokumen perdamaian yang baru disampaikan Washington. Menurut Trump, Ukraina seharusnya menanggapi proposal tersebut dengan lebih cepat karena konflik berkepanjangan terus menelan korban dan menguras anggaran besar dari berbagai negara pendukung.

Trump mengatakan sudah berbicara langsung dengan Presiden Rusia Vladimir Putin dan para pemimpin Ukraina, termasuk Zelensky. Setelah percakapan itu, Trump mengaku cukup kecewa karena Zelensky disebut belum membaca dokumen perdamaian yang dipersiapkan secara intens oleh timnya.

Pernyataan tersebut langsung menarik perhatian publik internasional. Beberapa pengamat melihat komentar Trump sebagai bentuk tekanan halus terhadap Ukraina agar bergerak lebih lentur dalam negosiasi dengan Moskow. Namun, sebagian analis menilai komentar itu dapat memperburuk dinamika diplomasi yang sudah rapuh.

Pertemuan Delegasi AS-Ukraina

Sebelum pernyataan Trump mencuat, delegasi tingkat tinggi dari Amerika Serikat dan Ukraina sudah bertemu di Miami. Pertemuan tersebut berlangsung selama beberapa hari dan berakhir pada Sabtu tanpa menghasilkan terobosan nyata.

Untuk menjaga komunikasi, Zelensky ikut hadir melalui sambungan telepon. Dalam pidato malamnya, Zelensky menilai diskusi tersebut tetap membawa nilai positif meskipun penuh tantangan. Ia menekankan bahwa perwakilan Amerika memahami posisi dasar Ukraina, termasuk syarat keamanan yang harus dijaga jika Kyiv mempertimbangkan jalan damai.

Meski diskusi berlangsung konstruktif, dinamika lapangan terus berubah. Zelensky tetap menekankan komitmen untuk melanjutkan pembicaraan demi mencapai “perdamaian sejati”. Presiden Ukraina tersebut menegaskan bahwa Kyiv tidak ingin menerima perjanjian yang dapat melemahkan kedaulatan negara atau merugikan posisi strategis Ukraina di masa depan.

Pertemuan tersebut membuka gambaran bahwa negosiasi masih jauh dari kata selesai. Amerika ingin menekan percepatan, sementara Ukraina ingin memastikan keamanan jangka panjang tidak dikorbankan.

Rusia Tolak Sebagian Proposal AS

Sebelum delegasi AS dan Ukraina bertemu di Miami, utusan khusus AS Steven Witkoff dan Jared Kushner sudah melangsungkan kunjungan ke Kremlin pada 2 Desember. Dalam pertemuan itu, Moskow menolak beberapa poin penting dari formula perdamaian yang dibawa Washington.

Penolakan tersebut menambah beban negosiasi. Rusia menilai rencana damai AS belum mencerminkan realitas situasi di lapangan, termasuk posisi pasukan Moskow yang terus bergerak di beberapa wilayah timur dan selatan Ukraina.

Rencana AS sendiri sudah mengalami beberapa modifikasi sejak pertama kali diperkenalkan pada November. Para pemimpin Eropa sebelumnya mengkritik rencana tersebut karena dianggap terlalu lunak terhadap Rusia. Beberapa pemimpin NATO bahkan meminta Amerika memperketat syarat-syarat yang diajukan agar tidak merugikan Ukraina.

Namun, Washington tetap bersikukuh bahwa proposal itu bisa menciptakan titik temu pertama setelah perang berjalan hampir empat tahun.

Trump Desak Ukraina Terima Rencana Damai

Setelah berbagai penolakan muncul, Trump mengambil langkah lebih tegas. Presiden Amerika Serikat itu mendesak Ukraina menerima rencana damai yang berisi sejumlah poin kompromi. Salah satu poin paling kontroversial adalah penyerahan sebagian wilayah Ukraina kepada Rusia sebagai syarat penghentian konflik.

Trump bahkan menyatakan bahwa Zelensky “harus menyukainya”. Menurutnya, jika Ukraina tidak menerima rencana itu, maka Kyiv harus melanjutkan perang tanpa batas waktu yang jelas.

Pernyataan tersebut memperlihatkan tekanan diplomatik yang terus meningkat. Washington ingin perang segera berhenti karena konflik tersebut memberikan dampak besar terhadap ekonomi global, terutama di sektor energi dan pangan.

Reaksi Rusia kemudian memperlihatkan dinamika negosiasi yang semakin kompleks.

Putin Sambut Baik Proposal AS, tetapi Sertai Ancaman

Berbeda dengan reaksi Zelensky, Presiden Rusia Vladimir Putin justru menyambut baik proposal damai dari AS. Menurut Putin, rencana itu dapat menjadi dasar penyelesaian final konflik, terutama karena beberapa poin di dalamnya memenuhi tuntutan Moskow setelah invasi pada Februari 2022.

Dalam rapat Dewan Keamanan Rusia, Putin berkata bahwa Ukraina harus menerima rencana damai tersebut jika ingin menghentikan serangan lanjutan. Dia menegaskan bahwa pasukan Rusia akan terus bergerak maju jika Kyiv menolak bernegosiasi.

Putin juga mengklaim bahwa pasukannya sudah menguasai hampir seluruh kota Kupiansk, meski Kyiv membantah hal itu. Menurut Putin, kemajuan seperti itu akan terus terjadi apabila Ukraina menolak proposal damai.

Ancaman itu bukan sekadar retorika karena Moskow kini menguasai sekitar 19 persen wilayah Ukraina. Rusia juga menargetkan penguasaan penuh atas Donbas, Kherson, dan Zaporizhzhia.

Negosiasi Masih Panjang

Walaupun Trump mendorong percepatan, Rusia memberikan sinyal menerima sebagian besar isi dokumen, dan Ukraina berusaha mempertahankan kedaulatan, jalan damai masih tampak jauh. Perbedaan posisi antara ketiga pihak terlalu besar untuk dijembatani dalam waktu singkat.

Negosiasi selanjutnya kemungkinan besar akan berlangsung lebih intens, terutama jika tekanan internasional semakin menguat. Di sisi lain, Ukraina tidak dapat mengambil keputusan yang melemahkan posisi militernya, sementara Rusia melihat momentum untuk memperluas wilayah jika pembicaraan kembali menemui jalan buntu.

Dalam situasi seperti ini, dunia menunggu langkah berikutnya dari Washington, Kyiv, dan Moskow. Pertarungan diplomatik baru saja memasuki fase yang lebih panas, dan setiap pernyataan pemimpin negara berpotensi mengubah arah konflik.

(Redaksi)

Show More
Back to top button