Internasional

Israel Lolos Ikuti Eurovision 2026, Empat Negara Putuskan Mundur

IDENESIA.CO – Eurovision 2026 seharusnya menjadi panggung selebrasi menuju usia ke-70 tahun. Namun alih-alih merayakan sejarah panjang ajang musik terbesar di Eropa, publik justru menyaksikan krisis yang mencoreng persiapan menuju acara di Wina, Austria. Empat negara Irlandia, Belanda, Slovenia, dan Spanyol memilih mundur setelah EBU mempertahankan keputusan untuk tetap mengizinkan Israel tampil pada Mei 2026.

Keputusan tersebut muncul di tengah desakan publik internasional yang semakin lantang menuntut diskualifikasi Israel menyusul eskalasi perang Gaza. Ketegangan ini kemudian bergulir menjadi drama besar yang menguji reputasi Eurovision sebagai simbol persatuan budaya Eropa. Situasi tersebut menciptakan friksi di antara penyiar publik, pemerintah, hingga komunitas musisi lintas negara.

Sidang Umum EBU Memicu Protes

Dalam rapat umum EBU pada Kamis, 4 Desember 2025, sejumlah penyiar publik berharap isu keikutsertaan Israel masuk ke tahap voting. Mereka menilai proses formal perlu berjalan untuk merespons tekanan publik yang terus meningkat. Namun momen yang dinanti justru tidak terjadi. Pimpinan sidang langsung mengumumkan bahwa mayoritas anggota EBU menyatakan Eurovision 2026 harus berjalan sesuai rencana tanpa pemungutan suara tambahan.

Pernyataan tersebut menciptakan ketegangan baru. Anggota yang mendorong voting merasa proses internal organisasi mengabaikan keresahan publik. Beberapa delegasi kemudian menyampaikan keberatan secara terbuka, tetapi pimpinan sidang memilih menutup agenda tanpa perubahan.

Begitu rapat berakhir, reaksi keras dari sejumlah negara muncul dalam hitungan jam. Sikap EBU dianggap mengesampingkan isu kemanusiaan yang berkembang di Gaza. Transisi dari forum formal menuju perbedaan sikap nasional berjalan cepat, memperlihatkan betapa rapuhnya konsensus di tubuh EBU. Banyak pengamat menilai EBU gagal membaca dinamika geopolitik dan opini publik yang berkembang begitu luas.

Irlandia, Belanda, Slovenia, dan Spanyol Meninggalkan Panggung, Boikot Terbesar sejak Era 1960-an

Irlandia menjadi yang pertama menyatakan mundur. RTÉ, penyiar nasionalnya, menegaskan bahwa Israel tidak layak tampil selama krisis kemanusiaan di Gaza belum mereda. RTÉ menekankan bahwa Eurovision seharusnya menjadi panggung budaya yang selaras dengan prinsip solidaritas. Keputusan tersebut langsung memicu diskusi besar di media Irlandia dan memengaruhi negara lain yang mempertimbangkan langkah serupa.

Belanda kemudian menyusul. AVROTROS menyebut partisipasi Israel bertentangan dengan nilai-nilai dasar organisasi, terutama kesetaraan dan kemanusiaan. Sikap tegas itu memperkuat tekanan terhadap EBU karena Belanda dikenal sebagai salah satu pendukung kuat Eurovision.

Slovenia mengambil langkah serupa. RTVSLO menilai keputusan EBU justru menjauhkan spirit perdamaian yang selama ini menjadi landasan utama ajang tersebut. Penyiar nasional negara itu menyampaikan bahwa Eurovision kehilangan arah jika tidak mampu merespons krisis kemanusiaan dengan empati yang seharusnya melekat pada dunia seni.

Spanyol memberikan langkah paling drastis. RTVE tidak hanya mundur, tetapi juga memutuskan untuk tidak menyiarkan ajang tersebut. Pemerintah Spanyol memberi dukungan penuh dan menegaskan bahwa negara itu menempatkan nilai kemanusiaan di atas popularitas ajang internasional. Situasi ini membuat Eurovision menghadapi ancaman reputasi paling serius dalam puluhan tahun terakhir.

Pemerintah Eropa Turun Tangan, Arena Musik Bertemu Pertarungan Moral dan Politik

Sikap RTVE segera mendapat dukungan dari Menteri Kebudayaan Spanyol, Ernest Urtasun. Pemerintah Spanyol menegaskan bahwa negara tersebut tidak ingin terlibat dalam acara yang dianggap mengabaikan penderitaan warga sipil. Perdana Menteri Pedro Sánchez memperkuat pernyataan tersebut dengan menegaskan kembali seruannya sejak Mei 2025 untuk menyingkirkan Israel dari Eurovision sampai konflik Gaza memasuki fase penyelesaian yang transparan.

Perhatian publik dari panggung musik menuju diskusi moral berjalan cepat. Press briefing pemerintah Spanyol bahkan lebih banyak membahas isu Eurovision dibanding agenda ekonomi nasional selama dua hari berturut-turut. Kondisi ini memperlihatkan betapa kuatnya tekanan moral yang mengikat keputusan politik negara-negara Eropa.

Negara lain yang belum mundur juga sedang memantau situasi. Beberapa anggota parlemen di Prancis, Belgia, dan Swedia mulai mendorong penyiar nasional masing-masing untuk mengevaluasi keikutsertaan. Tekanan ini menciptakan ketidakpastian baru bagi EBU, terutama karena kritik tidak hanya datang dari sektor budaya, tetapi juga dari pemerintahan demokratis yang memiliki suara signifikan di Eropa.

70 Alumni Eurovision dan JJ Menggugat

Di luar arena politik, dunia musik Eropa turut mengguncang EBU. Lebih dari 70 alumni Eurovision menandatangani surat terbuka yang menuntut agar Israel dikeluarkan dari ajang tersebut. Mereka menilai Eurovision tidak dapat mengabaikan laporan investigasi independen PBB yang menyebut tindakan Israel di Gaza sebagai bentuk genosida—klaim yang terus dibantah pemerintah Israel.

Gerakan musisi itu semakin solid setelah JJ, pemenang Eurovision 2025, memutuskan bergabung dalam barisan kritikus. JJ menegaskan bahwa kemenangan tahun lalu tidak berarti ia harus menutupi isu kemanusiaan. Sikap ini memukul EBU dari dalam karena JJ selama ini tampil sebagai ikon resmi menjelang Eurovision 2026.

Musisi dari berbagai negara Eropa juga menggalang kampanye digital. Mereka menggunakan media sosial untuk mengajak publik memberi tekanan kepada penyiar nasional masing-masing. Transisi dari surat terbuka ke gerakan digital membuat isu ini masuk ke ruang publik generasi muda yang menjadi basis utama penonton Eurovision. Gerakan ini mempertebal persepsi bahwa EBU gagal membaca gelombang opini yang terus meluas.

Eurovision 2026 Menanggung Risiko Besar: Persatuan Budaya Eropa Teruji

Eurovision selalu mengusung slogan persatuan melalui musik. Namun tahun ini, konsep tersebut menghadapi tantangan berat. Mundurnya empat negara, desakan musisi, dan tekanan pemerintah memperlihatkan bahwa panggung budaya tidak lagi steril dari isu politik.

EBU berupaya menenangkan situasi dengan memastikan persiapan teknis tetap berjalan. Panitia di Wina terus menyusun produksi panggung, menyelesaikan desain tata cahaya, dan mempersiapkan pemilihan artis untuk pembukaan acara. Meski begitu, kepercayaan publik tidak sepenuhnya pulih.

Banyak analis budaya menilai Eurovision 2026 berpotensi menjadi ajang dengan tingkat kontroversi tertinggi sepanjang sejarahnya. Beberapa menyebut format kompetisi akan pincang tanpa kehadiran negara-negara besar seperti Spanyol dan Belanda. Sebagian lainnya menilai event tetap dapat berjalan, tetapi tanpa semangat persatuan yang selama ini menjadi daya tarik.

Eurovision 2026 kini berada pada titik krusial. Publik Eropa menunggu apakah EBU akan membuka kembali ruang diskusi atau mempertahankan keputusan awal. Apa pun langkah berikutnya, dampaknya akan mencoreng atau menegaskan kembali reputasi Eurovision sebagai ajang budaya terbesar di benua tersebut.

(Redaksi)

Show More
Back to top button