
IDENESIA.CO – Aksi teror penembakan massal di Pantai Bondi, Sydney, mengguncang Australia dan memicu evaluasi serius terhadap sistem keamanan nasional. Perdana Menteri Australia Anthony Albanese mengungkapkan dua pelaku penembakan, seorang ayah dan anak laki-lakinya, menjalankan aksi tersebut setelah terpapar dan diradikalisasi ideologi Islamic State (ISIS), meski aparat intelijen pernah memantau salah satu pelaku sejak 2019.
Serangan yang menewaskan sedikitnya 15 orang itu terjadi saat komunitas Yahudi setempat menggelar perayaan Hanukkah di ruang publik terbuka. Pemerintah Australia langsung mengklasifikasikan insiden tersebut sebagai aksi terorisme bermotif antisemitisme dan ekstremisme agama.
Albanese Soroti Radikalisasi Domestik sebagai Ancaman Nyata
Perdana Menteri Anthony Albanese menegaskan pemerintah Australia melihat indikasi kuat keterlibatan ideologi ISIS dalam penembakan massal di Pantai Bondi. Albanese menyampaikan pernyataan itu pada Selasa (16/12/2025) waktu setempat, seperti dilaporkan AFP.
Albanese menilai ideologi ekstrem tersebut terus bertahan dan berkembang lebih dari satu dekade. Ideologi itu, kata Albanese, mendorong kebencian sistematis dan membentuk kesiapan individu untuk melakukan pembunuhan massal terhadap warga sipil. Pemerintah pusat memandang ancaman radikalisasi domestik sebagai tantangan serius yang tidak boleh diremehkan.
Albanese menegaskan pemerintah federal akan memperkuat kerja sama antar lembaga keamanan dan meningkatkan pencegahan ekstremisme di tingkat komunitas. Pemerintah juga berkomitmen melindungi semua warga negara tanpa memandang latar belakang agama dan etnis.
Serangan Teror Menyasar Perayaan Hanukkah di Ruang Publik
Sajid Akram (50) dan Naveed Akram (24) melancarkan serangan pada Minggu (14/12) waktu setempat di Pantai Bondi, salah satu kawasan wisata paling ramai di Sydney. Lokasi tersebut menjadi pusat perayaan Hanukkah yang dihadiri keluarga, anak-anak, dan wisatawan.
Kedua pelaku datang dengan membawa sejumlah senjata laras panjang. Tanpa peringatan, mereka langsung menembaki kerumunan secara brutal dan acak. Selama sekitar 10 menit, pelaku menghujani area pantai dengan tembakan, menciptakan kepanikan massal.
Serangan itu menewaskan sedikitnya 15 orang dan melukai banyak lainnya. Aparat keamanan menerima laporan warga dan langsung mengerahkan pasukan ke lokasi. Otoritas New South Wales menyebut pelaku secara sengaja menyasar komunitas Yahudi dan simbol kegiatan keagamaan.
Pemerintah daerah segera meningkatkan pengamanan di tempat ibadah, pusat keramaian, dan kawasan wisata. Aparat mengimbau masyarakat tetap tenang dan tidak menyebarkan spekulasi yang dapat memperkeruh situasi.
Intelijen Pernah Memantau Pelaku Sejak 2019
Anthony Albanese mengungkapkan Naveed Akram pernah menarik perhatian badan intelijen Australia pada 2019. Aparat intelijen memantau Naveed karena hubungan dengan individu-individu yang terlibat jaringan ekstremis.
Dua orang dalam lingkaran relasi Naveed kemudian menjalani proses hukum dan menerima hukuman penjara. Namun, aparat intelijen pada saat itu tidak menilai Naveed sebagai ancaman langsung. Penilaian tersebut kini menjadi sorotan tajam setelah terjadinya serangan mematikan di Pantai Bondi.
Albanese mengakui pemerintah perlu melakukan evaluasi menyeluruh terhadap mekanisme penilaian risiko radikalisasi. Pemerintah pusat memulai audit internal untuk memastikan sistem deteksi dini bekerja lebih efektif dan responsif terhadap ancaman ekstremisme domestik.
Pemerintah juga mendorong pendekatan pencegahan yang melibatkan masyarakat, pemimpin agama, dan lembaga pendidikan untuk memutus rantai radikalisasi sejak tahap awal.
Polisi Tewaskan Ayah Pelaku, Anak Dalam Koma
Kepolisian Australia menghadapi kedua pelaku di lokasi kejadian setelah menerima laporan penembakan. Dalam upaya menghentikan serangan, polisi menembak mati Sajid Akram di tempat kejadian.
Aparat kemudian menangkap Naveed Akram dalam kondisi luka serius. Tim medis membawa Naveed ke rumah sakit dan merawatnya dalam keadaan koma. Kepolisian menempatkan Naveed di bawah penjagaan ketat sambil menunggu perkembangan kondisi kesehatannya.
Polisi federal dan kepolisian negara bagian terus melakukan penyelidikan mendalam. Aparat mengumpulkan barang bukti, memeriksa rekaman kamera pengawas, dan meminta keterangan saksi mata. Penyidik juga menelusuri sumber senjata serta kemungkinan keterlibatan jaringan yang lebih luas.
Pemerintah Australia menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban dan komunitas Yahudi. Albanese menegaskan Australia tidak akan memberi ruang bagi kebencian, antisemitisme, dan ekstremisme. Pemerintah berjanji menjaga keamanan publik sekaligus mempertahankan nilai toleransi dan kebinekaan sebagai fondasi kehidupan berbangsa.
(Redaksi)


