
IDENESIA.CO – Tim bulu tangkis Indonesia memastikan tetap ambil bagian pada turnamen bergengsi Malaysia Open 2026 meski tidak menurunkan kekuatan penuh. Dari lima sektor yang dipertandingkan, Indonesia hanya mengirim sembilan wakil, dengan kekosongan signifikan di sektor tunggal putri setelah Gregoria Mariska Tunjung memutuskan mundur.
Malaysia Open 2026 akan berlangsung di Axiata Arena, Kuala Lumpur, pada 6–11 Januari 2026. Turnamen ini menjadi pembuka kalender BWF World Tour 2026 sekaligus berstatus Super 1.000, level tertinggi dalam rangkaian turnamen tahunan BWF.
PBSI tetap menargetkan hasil optimal meski komposisi pemain tidak ideal. Kejuaraan ini dipandang penting sebagai tolok ukur awal kesiapan atlet menghadapi musim kompetisi yang padat.
Tunggal Putra Dapat Momentum dari Absennya Unggulan Dunia
Sektor tunggal putra Indonesia mengandalkan dua nama, Jonatan Christie dan Alwi Farhan. Jonatan masih menjadi tulang punggung utama Merah Putih di nomor ini berkat pengalaman dan konsistensinya di level internasional.
Peluang Jonatan dan Alwi terbuka setelah dua pemain papan atas dunia, Viktor Axelsen asal Denmark dan Li Shi Feng dari China, dipastikan tidak tampil. Kondisi tersebut membuat peta persaingan lebih cair, meski ancaman dari pemain unggulan lain tetap besar.
Bagi Alwi Farhan, Malaysia Open 2026 menjadi panggung penting untuk mengukur kapasitasnya menghadapi lawan kelas dunia. PBSI memberi kepercayaan kepada pemain muda ini sebagai bagian dari strategi regenerasi jangka panjang.
Keikutsertaan dua wakil ini diharapkan mampu mengangkat prestasi Indonesia di sektor tunggal putra, yang dalam beberapa tahun terakhir masih mencari konsistensi di level Super 1.000.
Gregoria Mundur, Putri Kusuma Tampil Sendirian
Indonesia hanya mengirim satu wakil di sektor tunggal putri, yakni Putri Kusuma Wardani. Kondisi ini terjadi setelah Gregoria Mariska Tunjung memilih mundur dari turnamen karena kondisi kesehatan yang belum pulih sepenuhnya.
PBSI menilai keputusan Gregoria sebagai langkah tepat untuk mencegah risiko cedera yang lebih serius. Turnamen Super 1.000 dengan jadwal padat menuntut kesiapan fisik dan mental yang prima.
Putri Kusuma Wardani kini memikul tanggung jawab besar sebagai satu-satunya wakil Indonesia di sektor ini. Meski menghadapi persaingan ketat dari pemain elite dunia, Putri diharapkan mampu tampil tanpa beban dan memaksimalkan kesempatan yang ada.
Turnamen ini juga menjadi ajang evaluasi bagi PBSI untuk melihat perkembangan Putri di level tertinggi sekaligus memetakan kebutuhan penguatan sektor tunggal putri ke depan.
Ganda Putra Jadi Tulang Punggung Harapan Indonesia
Sektor ganda putra menjadi andalan utama Indonesia dengan mengirim tiga pasangan. Mereka adalah Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri, Sabar Karyaman Gutama/Mohammad Reza Pahlevi, serta Raymond Indra/Nikolaus Joaquin.
Fajar/Fikri diharapkan mampu bersaing di jalur juara berkat pengalaman dan kematangan bermain. Pasangan ini kerap tampil stabil di turnamen besar dan memiliki modal kuat menghadapi tekanan laga penting.
Sementara itu, Sabar/Reza dan Raymond/Nikolaus membawa misi pembuktian. Keikutsertaan mereka di Malaysia Open menjadi kesempatan untuk menunjukkan daya saing di level Super 1.000 serta menambah jam terbang internasional.
PBSI berharap sektor ganda putra dapat menyumbang hasil signifikan, mengingat tradisi panjang Indonesia di nomor ini. Namun, persaingan dipastikan berlangsung ketat karena hampir seluruh pasangan elite dunia akan turun.
Ganda Putri dan Campuran Usung Agenda Regenerasi
Di sektor ganda putri, Indonesia hanya menurunkan satu pasangan, Febriana Dwi Kusuma/Meilysa Trias Puspitasari. Pasangan ini diharapkan mampu menjaga performa dan memperlihatkan konsistensi di tengah persaingan global yang semakin kompetitif.
Keterbatasan wakil di sektor ganda putri mencerminkan fase transisi yang sedang dijalani PBSI. Turnamen ini dimanfaatkan sebagai sarana evaluasi dan pematangan pasangan yang ada.
Sementara itu, sektor ganda campuran diisi dua pasangan muda, Marwan Faza/Aisyah Salsabila Putri Pranata serta Jafar Hidayatullah/Felisha Alberta Nathaniel Pasaribu. Keduanya diharapkan mampu menunjukkan potensi dan keberanian bersaing melawan pasangan mapan dunia.
Malaysia Open 2026 menjadi panggung penting bagi Indonesia untuk mengukur kesiapan atlet sejak awal musim. Meski jumlah wakil terbatas, PBSI tetap menaruh harapan agar para pemain mampu tampil kompetitif dan membawa modal positif untuk rangkaian turnamen berikutnya.
(Redaksi)
