
IDENESIA.CO – Penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh pasukan Amerika Serikat memicu keguncangan politik di Amerika Latin dan meningkatkan ketegangan global. Sejumlah negara menyerukan penahanan diri setelah Washington melancarkan operasi militer ke Caracas pada Sabtu (3/1) dini hari waktu setempat.
Serangan udara AS melumpuhkan sebagian ibu kota Venezuela sebelum pasukan elite bergerak cepat ke kediaman presiden. Dalam operasi singkat tersebut, militer AS menangkap Maduro dan istrinya, Cilia Flores, lalu mengevakuasi keduanya ke luar negeri.
Langkah Presiden Donald Trump itu langsung menjadi sorotan dunia karena melibatkan penangkapan kepala negara aktif dengan kekuatan militer lintas batas.
Operasi Militer Kilat Lumpuhkan Caracas
Militer Amerika Serikat mengerahkan pasukan elite Delta Force dalam operasi tersebut. Pesawat tempur AS menyerang sejumlah titik strategis di sekitar Caracas.
Serangan itu memicu pemadaman listrik luas dan memutus komunikasi di beberapa wilayah penting. Setelah kondisi dinilai terkendali, pasukan darat bergerak menuju kediaman presiden.
Pasukan AS mengamankan Maduro tanpa perlawanan terbuka yang berarti. Militer kemudian membawa Maduro dan istrinya ke pangkalan udara sebelum menerbangkan mereka ke New York.
Otoritas federal AS langsung menahan Maduro setibanya di Amerika Serikat. Hingga kini, Caracas masih berada dalam situasi siaga tinggi.
Pemerintah AS Tegaskan Alasan Hukum Penangkapan
Pemerintah Amerika Serikat menyatakan operasi tersebut bertujuan menegakkan hukum federal. Senator Partai Republik Mike Lee mengungkapkan informasi awal mengenai penangkapan itu.
Lee menyebut Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio memberinya penjelasan langsung. Menurut Lee, aparat AS menangkap Maduro untuk menjalankan surat perintah pengadilan.
“Personel AS menangkap Nicolas Maduro untuk diadili di Amerika Serikat,” tulis Lee, dikutip CNN.
Lee menambahkan Presiden Trump memiliki kewenangan konstitusional untuk memerintahkan tindakan tersebut. Ia merujuk Pasal II Konstitusi AS yang memberi presiden otoritas melindungi personel dari ancaman langsung.
Sebelumnya, Lee sempat mempertanyakan legalitas operasi militer itu. Namun, ia menyatakan dukungan setelah menerima penjelasan pemerintah.
Jaksa Agung AS Beberkan Dakwaan terhadap Maduro
Jaksa Agung AS Pam Bondi menegaskan Maduro telah lama menjadi target aparat penegak hukum. Ia menyampaikan pernyataan itu melalui akun resmi X miliknya.
Bondi menyebut jaksa federal mendakwa Maduro dengan konspirasi narkoterorisme dan impor kokain. Ia juga menuduh Maduro memiliki senjata api serta perangkat destruktif secara ilegal.
Selain itu, aparat AS menuding Maduro berencana menggunakan senjata mesin dan alat destruktif terhadap kepentingan Amerika Serikat.
“Nicolas Maduro menghadapi dakwaan serius terkait narkoterorisme dan kejahatan berat lainnya,” tulis Bondi.
Bondi memastikan pemerintah AS akan memproses Maduro sesuai hukum federal. Ia menegaskan status politik tidak memberikan kekebalan hukum.
Trump Singgung Minyak, Dunia Nilai Motif AS
Presiden Donald Trump mengaitkan operasi ini dengan kepentingan strategis Amerika Serikat. Ia menyinggung potensi ekonomi Venezuela, khususnya sektor energi.
Trump menyebut Venezuela memiliki cadangan minyak terbesar di dunia. Ia juga menyatakan AS akan mengambil peran sementara dalam pengelolaan negara tersebut.
“Mari kita mulai menghasilkan uang untuk negara ini,” ujar Trump kepada media.
Pernyataan itu memicu kritik dari pengamat internasional. Sejumlah pihak menilai AS tidak hanya mengejar penegakan hukum.
Negara-negara Amerika Latin menggelar pertemuan darurat untuk menyikapi situasi ini. Beberapa pemimpin dunia juga menyerukan penyelesaian diplomatik.
Perserikatan Bangsa-Bangsa mempertimbangkan langkah lanjutan di Dewan Keamanan. Penangkapan Maduro kini menjadi ujian serius bagi stabilitas regional dan tatanan hukum internasional.
(Redaksi)

