
IDENESIA.CO – Pemerintah Belanda tidak sekadar mengimbau warganya untuk waspada terhadap krisis, tetapi juga membekali mereka dengan panduan rinci tentang cara bertahan hidup selama 72 jam pertama dalam kondisi darurat nasional.
Melalui sebuah buku panduan yang dikirim langsung ke rumah-rumah warga, negara tersebut menjabarkan langkah konkret yang harus masyarakat lakukan ketika situasi krisis terjadi.
Buku panduan bertahan hidup ini menjadi bagian dari kampanye nasional “Think Ahead” (Denk Vooruit) oleh National Coordinator for Counterterrorism and Security (NCTV). Panduan setebal sekitar 33 halaman itu sebagai rancangan pedoman praktis, bukan dokumen teknis, agar mudah dipahami dan diterapkan oleh seluruh lapisan masyarakat.
Informasi ini dirangkum dari Liputan6.com berdasarkan laman resmi denkvooruit.nl, Jumat (16/1/2026). Pemerintah Belanda menegaskan bahwa fokus utama buku ini adalah membantu warga bertahan secara mandiri selama tiga hari pertama saat krisis melanda.
Penjelasan Risiko dan Ancaman Nyata
Pada bagian awal, buku panduan ini memaparkan berbagai risiko yang berpotensi terjadi di Belanda. Pemerintah menyebut pemadaman listrik skala besar, gangguan internet, serangan siber, banjir akibat cuaca ekstrem, hingga konflik bersenjata sebagai ancaman nyata di era modern.
Panduan tersebut menjelaskan dampak langsung dari kondisi darurat terhadap kehidupan sehari-hari. Warga memahami kemungkinan tidak berfungsinya pom bensin, kosongnya rak supermarket, terputusnya layanan perbankan digital, serta terganggunya komunikasi. Pendekatan ini bertujuan meningkatkan kesadaran tanpa menciptakan ketakutan berlebihan.
Panduan Menyusun Paket Darurat 72 Jam
Bagian inti buku membahas penyusunan paket darurat (emergency kit) yang cukup untuk bertahan hidup selama 72 jam. Pemerintah Belanda menyarankan setiap rumah tangga menyediakan air minum, makanan tahan lama, senter, baterai cadangan, lilin, radio, kotak P3K, serta obat-obatan pribadi.
Selain itu, buku juga menyarankan warga menyimpan salinan dokumen penting, peluit untuk menarik perhatian, peta lingkungan sekitar, dan perlengkapan khusus sesuai kebutuhan keluarga. Pemerintah menekankan bahwa paket darurat tidak harus mahal, karena sebagian besar barang umumnya sudah tersedia di rumah.
Rencana Darurat Keluarga Jadi Perhatian Utama
Buku panduan ini tidak hanya berfokus pada perlengkapan fisik. Pemerintah Belanda juga menyoroti pentingnya memiliki rencana darurat keluarga. Warga harus menentukan titik kumpul, skema komunikasi alternatif jika jaringan digital terputus, serta rencana penjemputan anak jika sekolah tidak dapat dihubungi.
Panduan ini juga mengingatkan warga untuk memperhatikan kelompok rentan seperti lansia, penyandang disabilitas, bayi, dan hewan peliharaan. Pemerintah menilai perencanaan sederhana dapat mencegah kebingungan dan kepanikan saat krisis terjadi.
Sistem Informasi dan Peringatan Darurat
Dalam buku tersebut, pemerintah menjelaskan cara kerja sistem peringatan darurat nasional Belanda. Warga harus memahami penggunaan NL-Alert di ponsel, sirene lingkungan, dan siaran radio publik sebagai sumber informasi resmi.
Pemerintah menekankan pentingnya tetap mengakses informasi yang akurat meskipun listrik dan internet terputus. Oleh karena itu, radio bertenaga baterai menjadi salah satu anjuran perlengkapan yang ada dalam paket darurat.
Dorong Solidaritas dan Ketahanan Sosial
Pada bagian akhir, buku panduan bertahan hidup ini menegaskan bahwa kesiapsiagaan bukan hanya soal bertahan hidup secara individu. Pemerintah Belanda mendorong warga untuk saling membantu, berbagi informasi, dan memperkuat solidaritas di tingkat lingkungan.
Panduan tersebut menekankan bahwa ketahanan sosial menjadi kunci dalam menghadapi krisis nasional. Dengan masyarakat yang saling mendukung, tekanan terhadap layanan darurat dapat berkurang, sekaligus mencegah kepanikan massal.
Pemerintah Tekankan Tanggung Jawab Bersama
Caretaker Minister of Justice and Security, Foort van Oosten, menyatakan bahwa buku panduan ini untuk membangun kesadaran bahwa tanggung jawab menghadapi krisis tidak sepenuhnya berada di tangan pemerintah. Tiga hari pertama merupakan fase kritis yang membutuhkan kesiapan bersama antara negara dan warga.
Melalui buku panduan bertahan hidup 72 jam ini, pemerintah Belanda berharap masyarakat dapat menghadapi krisis dengan lebih tenang, terorganisir, dan rasional. Pendekatan edukatif ini menunjukkan bagaimana negara berupaya membangun budaya siaga di tengah ketidakpastian global.
