
IDENESIA.CO – Pergerakan Bitcoin (BTC) yang tertinggal dari reli emas dan silver dalam beberapa hari terakhir memunculkan spekulasi di pasar keuangan global. Saat logam mulia mencetak rekor baru di tengah pelemahan dolar AS dan meningkatnya ketegangan geopolitik, Bitcoin justru bergerak lebih lambat dan sempat bertahan di bawah level USD 90.000.
Kondisi tersebut memicu anggapan bahwa investor mulai meninggalkan aset kripto dan kembali memburu safe haven tradisional. Namun, analis senior Bloomberg menilai kesimpulan itu terlalu terburu-buru.
Analis Bloomberg: Pelemahan BTC Hanya Fase Konsolidasi
Analis ETF senior Bloomberg, Eric Balchunas, menegaskan bahwa pelemahan Bitcoin saat ini tidak mencerminkan perubahan tren jangka panjang. Menurutnya, pergerakan BTC lebih tepat dibaca sebagai fase konsolidasi setelah reli besar dalam dua tahun terakhir.
“The dread I see from bitcoiners… is very short-sighted,” tulis Balchunas dalam unggahan media sosialnya, 27 Januari 2026.
Balchunas memaparkan bahwa sejak 2022, Bitcoin telah mencatat kenaikan sekitar 429%. Angka tersebut jauh melampaui kinerja emas yang naik sekitar 177% dan silver yang menguat 350% dalam periode yang sama.
Kinerja Jangka Panjang Bitcoin Masih Unggul
Menurut Balchunas, banyak pelaku pasar terlalu fokus pada perbandingan jangka pendek. Padahal, secara historis Bitcoin masih menjadi aset dengan performa paling agresif dariapada instrumen utama lainnya.
Ia menilai lonjakan besar Bitcoin sepanjang 2023 hingga 2024 membuat pasar membutuhkan jeda alami. Koreksi yang terjadi saat ini disebutnya sebagai proses “bernapas”, bukan tanda kelelahan atau pelemahan struktural.
Emas dan Silver Diuntungkan Faktor Makro Global
Reli emas dan silver terjadi di tengah kombinasi faktor makro yang kuat. Pelemahan dolar AS meningkatkan daya tarik logam mulia, sementara ketidakpastian geopolitik dan tekanan ekonomi global mendorong permintaan aset lindung nilai.
Di sisi lain, Bitcoin sempat melemah dalam sepekan terakhir dan gagal menembus kembali level USD 90.000. Namun, Balchunas menilai perbandingan ini tidak sepenuhnya seimbang karena Bitcoin telah mencatat lonjakan signifikan lebih awal.
Menurutnya, emas dan silver sudah lama berada di level harga tinggi, tetapi tetap belum mampu menandingi laju kenaikan Bitcoin sejak 2022.
Koreksi Bitcoin Jadi Bagian Normal Siklus Pasar
Balchunas menekankan bahwa koreksi setelah reli panjang merupakan bagian normal dari siklus pasar. Ia menolak anggapan bahwa penurunan harga Bitcoin menandakan “koma pasar” atau awal tren bearish baru.
Dengan latar tersebut, pergerakan Bitcoin saat ini dinilai lebih sehat sebagai konsolidasi, sembari pasar menunggu arah baru yang dipengaruhi kondisi makro dan arus likuiditas global.
Pandangan Bloomberg menegaskan bahwa ketertinggalan Bitcoin dari emas dan silver dalam jangka pendek tidak menunjukkan masalah fundamental. Dengan kenaikan sekitar 429% sejak 2022, Bitcoin masih unggul secara kinerja jangka panjang. Koreksi saat ini sebagai jeda alami setelah reli besar, bukan sinyal pembalikan tren.
(Reda


