
IDENESIA.CO –Ketegangan di Selat Hormuz semakin meningkat setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump meminta negara-negara sekutu mengirim kapal perang guna mengamankan jalur pelayaran tersebut. Permintaan itu muncul setelah Iran memblokir selat strategis yang menjadi jalur utama distribusi minyak dunia.
Trump menilai pengamanan internasional perlu agar arus perdagangan energi global tidak terganggu di tengah konflik militer yang melibatkan AS dan Israel dengan Iran.
Trump Ajak Negara Besar Kirim Armada Militer
Dilansir BBC, Minggu (15/3/2026), Trump berharap sejumlah negara besar ikut terlibat dalam pengamanan kawasan tersebut. Ia menyebut China, France, Japan, South Korea, serta United Kingdom sebagai negara yang bergantung pada jalur energi di Selat Hormuz.
Melalui unggahan di platform Truth Social, Trump mengatakan sejumlah negara diperkirakan akan bergabung dengan AS untuk menjaga selat tersebut tetap terbuka.
“Semoga China, Prancis, Jepang, Korea Selatan, Inggris, dan negara-negara lain yang terpengaruh oleh kendala buatan ini akan mengirimkan kapal ke daerah tersebut sehingga Selat Hormuz tidak lagi menjadi ancaman dari negara yang telah benar-benar dilumpuhkan,” ujar Trump.
Trump juga mengklaim kemampuan militer Iran telah hancur hampir sepenuhnya. Namun ia mengakui Iran masih dapat melancarkan serangan terbatas menggunakan drone, ranjau laut, atau rudal jarak pendek di jalur pelayaran tersebut.
“Sementara itu, Amerika Serikat akan membombardir garis pantai habis-habisan, dan terus menembak jatuh kapal-kapal Iran. Dengan satu atau lain cara, kita akan segera membuka, mengamankan, dan membebaskan Selat Hormuz,” lanjutnya.
Iran Bersumpah Terus Blokir Selat Hormuz
Di sisi lain, pemerintah Iran menegaskan tidak akan membuka kembali Selat Hormuz selama konflik dengan AS dan Israel masih berlangsung.
Selat tersebut terkenal sebagai jalur pelayaran minyak tersibuk di dunia. Sekitar 20 persen pasokan minyak global biasanya melewati perairan sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab itu.
Penutupan jalur ini serta serangan terhadap infrastruktur energi di kawasan Teluk telah memicu lonjakan harga minyak global sejak perang bermula pada 28 Februari.
Menurut laporan United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO), sedikitnya 16 kapal telah mendapat serangan di sekitar Selat Hormuz sejak konflik pecah.
Inggris KajI Opsi Pengamanan Pelayaran
Menanggapi permintaan Trump, Kementerian Pertahanan Inggris menyatakan pihaknya sedang membahas berbagai opsi bersama sekutu untuk menjamin keamanan pelayaran di kawasan tersebut.
“Kami sedang membahas berbagai opsi untuk memastikan keamanan pelayaran di kawasan tersebut bersama sekutu,” demikian pernyataan kementerian tersebut.
Sementara itu, kapal perusak milik Angkatan Laut Inggris HMS Dragon (D35) telah bergerak menuju Siprus untuk memperkuat pangkalan udara RAF Akrotiri setelah fasilitas tersebut sempat menjadi sasaran serangan drone.
Trump Ancam Serang Infrastruktur Minyak Iran
Trump juga memperingatkan bahwa AS siap menargetkan fasilitas minyak utama Iran jika kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz terus mendapat gangguan.
Ia secara khusus menyebut infrastruktur energi di Pulau Kharg, yang merupakan pusat ekspor minyak Iran.
Trump mengklaim militer AS telah menghancurkan sejumlah target militer di pulau tersebut pada Jumat (13/3), yang ia sebut sebagai salah satu serangan bom terbesar dalam sejarah konflik di Timur Tengah.
Sebagai respons, militer Iran memperingatkan bahwa seluruh fasilitas energi milik perusahaan yang bekerja sama dengan Amerika Serikat akan menjadi sasaran jika infrastruktur minyak Iran mendapat serangan.
Ketegangan yang terus meningkat di kawasan Teluk ini menimbulkan kekhawatiran global terhadap stabilitas energi dan keamanan jalur perdagangan internasional.
(Redaksi)



