
IDENESIA.CO – Pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait penutupan Selat Hormuz terus berubah dalam beberapa pekan terakhir. Di tengah konflik dengan Iran, sikap Trump bergeser dari meminta dukungan internasional hingga melontarkan ancaman keras.
Perubahan ini memicu perhatian global karena Selat Hormuz merupakan jalur vital distribusi energi dunia.
Awalnya Minta Dukungan NATO Buka Selat Hormuz
Pada 14 Maret, Donald Trump meminta negara-negara NATO ikut terlibat membuka jalur Selat Hormuz yang terdampak pengetatan oleh Iran.
“Banyak negara, terutama yang terdampak oleh upaya Iran untuk menutup Selat Hormuz, akan mengirimkan kapal perang bersama Amerika Serikat,” ujarnya.
Ia juga berharap negara seperti Tiongkok, Jepang, hingga Inggris ikut serta menjaga jalur tersebut tetap aman.
Berbalik, Trump Klaim AS Tak Butuh Bantuan
Dua hari berselang, sikap Trump berubah. Ia menyatakan Amerika Serikat tidak membutuhkan bantuan dari negara lain.
“Kita tidak butuh bantuan. Perang itu sudah berlangsung lama menurut saya,” katanya pada 16 Maret.
Pernyataan ini muncul setelah sejumlah negara menolak permintaan keterlibatan militer dari AS.
Sindir NATO hingga Sebut Sekutu Pengecut
Pada 20 Maret, Donald Trump melontarkan kritik tajam terhadap NATO. Ia menyebut aliansi tersebut tidak berdaya tanpa Amerika Serikat.
“Tanpa AS, NATO hanya macan kertas!” tulisnya.
Ia juga menuding negara-negara sekutu tidak berani terlibat langsung meski terdampak kenaikan harga minyak.
“Para pengecut, dan kita akan mengingatnya!” tambahnya.
Enggan Bantu Sekutu, Minta Negara Lain Bertindak Sendiri
Memasuki 26 hingga 31 Maret, Trump kembali mengubah sikap. Ia menyatakan tidak akan lagi membantu sekutu yang dianggap tidak mendukung AS.
“Mereka seharusnya melompat untuk membantu kita,” ujarnya.
Ia bahkan meminta negara lain untuk membuka Selat Hormuz secara mandiri.
“Pergilah ke selat itu, dan ambillah saja,” katanya.
Di sisi lain, Trump sempat menyebut konflik akan segera berakhir dalam waktu dekat.
“Kita sedang menyelesaikan pekerjaan ini, mungkin dalam dua minggu,” ujarnya.
Ancam Serang Iran hingga “Zaman Batu”
Namun, pada 1 April, Donald Trump kembali mengeluarkan pernyataan keras dengan ancaman serangan terhadap Iran.
“Kita akan menyerang mereka dengan sangat keras selama dua hingga tiga minggu ke depan,” katanya.
Ia bahkan menyebut akan membawa Iran “kembali ke zaman batu”.
Pernyataan ini disampaikan di Gedung Putih dan mempertegas eskalasi retorika di tengah konflik yang belum mereda.
(Redaksi)

