
IDENESIA.CO – Hubungan dagang antara Rusia dan China menunjukkan pergeseran dinamika yang signifikan setelah meletusnya konflik Ukraina pada Februari 2022. Sanksi ekonomi yang ketat dari negara-negara Barat memaksa Moskow mengalihkan jalur perdagangan mereka ke Asia. Kondisi tersebut memicu peningkatan ketergantungan teknologi Rusia terhadap China guna mempertahankan stabilitas domestik dan industri pertahanan mereka.
Moskow kini menghadapi pembatasan akses terhadap berbagai pasokan komponen canggih dari Amerika Serikat, Uni Eropa, dan Inggris. Larangan ekspor tersebut mencakup produk semikonduktor, mikroelektronika, serta peralatan mesin presisi yang menjadi komponen vital dalam produksi persenjataan. Situasi ini menyebabkan kelangkaan perangkat keras yang parah di pasar domestik Rusia.
Lonjakan Impor Komponen dan Ketergantungan Teknologi Rusia terhadap China
Untuk mengatasi kelangkaan tersebut, Rusia mengalihkan pusat pembelian mereka ke Beijing. China memasok sekitar 90 persen impor teknologi Rusia yang terkena sanksi pada tahun 2025. Angka tersebut menunjukkan kenaikan dari tahun sebelumnya yang berada pada posisi 80 persen.
Meskipun demikian, perolehan barang-barang sensitif seperti mesin perakitan rudal dan pesawat nirawak kini menjadi lebih rumit bagi Moskow. Rusia harus melewati jaringan pasokan pihak ketiga melalui negara-negara lain. Jalur logistik yang memutar ini menyebabkan biaya pengadaan membengkak hingga hampir 90 persen lebih mahal daripada harga sebelum perang.
Selain pasokan perangkat keras, Beijing juga menyokong Rusia melalui penyediaan intelijen pengamatan bumi, citra satelit militer, dan pasokan pesawat nirawak. Pasokan teknologi dari China ini membantu Rusia untuk tetap mengoperasikan serta memperluas produksi rudal maupun senjata lainnya di tengah tekanan ekonomi global.
Dedolarisasi dan Dominasi Mata Uang Yuan
Tekanan sanksi Barat juga menyasar sektor keuangan dengan mengeluarkan bank-bank besar Rusia dari sistem pembayaran internasional SWIFT. Barat juga membekukan sekitar 300 miliar dolar AS atau setara Rp4.950 triliun cadangan bank sentral Rusia yang berada di luar negeri. Kebijakan ini membuat transaksi menggunakan mata uang dolar AS atau euro mengandung risiko tinggi bagi Kremlin.
Menanggapi sanksi keuangan tersebut, Moskow dan Beijing mempercepat proses dedolarisasi dalam transaksi bilateral mereka. Menteri Keuangan Rusia, Anton Siluanov, memberikan penjelasan resmi mengenai perkembangan sistem pembayaran kedua negara.
“Pada akhir tahun 2025, Rusia dan China telah merampungkan lebih dari 99 persen perdagangan bilateral mereka menggunakan mata uang rubel dan yuan,” kata Anton Siluanov dalam keterangan resminya.
Peralihan mata uang ini memicu fenomena ekonomi baru yang para ahli sebut sebagai yuanisasi. Langkah tersebut menciptakan tantangan baru bagi Moskow karena Rusia kerap menghadapi kelangkaan mata uang yuan yang berdampak pada tingginya biaya pinjaman. Kondisi ini menempatkan Beijing pada posisi yang lebih kuat dalam mengendalikan setiap negosiasi bilateral.
Pengaruh Ekonomi Beijing dalam Jangka Panjang
Para analis memprediksi pengaruh ekonomi Beijing terhadap Moskow akan terus menguat dalam beberapa tahun ke depan. Pada pertemuan bilateral pekan ini, Rusia berencana mengajukan percepatan pembangunan serta perluasan pipa minyak dan gas alam demi mengamankan pendapatan ekspor mereka.
Rencana ekspansi jalur energi ini juga memberikan keuntungan strategis tersendiri bagi pihak Beijing. Peneliti Senior di Atlantic Council, Joseph Webster, memberikan pandangannya melalui sebuah tulisan analisis ekonomi.
“Peningkatan kapasitas pipa Rusia ke China akan secara signifikan meningkatkan keamanan pasokan minyak Beijing dalam situasi darurat di Taiwan,” tulis Joseph Webster dalam publikasi resminya.
Webster menilai pasokan energi melalui jalur darat yang andal menjadi prioritas utama China pasca munculnya gangguan keamanan di Selat Hormuz. Namun, proyek pipa gas Power of Siberia 2 yang dapat mengirimkan hingga 50 miliar meter kubik gas per tahun masih mengalami penundaan. Kedua negara belum mencapai kesepakatan final terkait detail teknis dan kecocokan harga jual-beli gas tersebut.
Di sisi lain, upaya Amerika Serikat dan China untuk menstabilkan hubungan dagang global turut memengaruhi sikap Beijing. Dinamika hubungan Washington-Beijing membuat China bersikap lebih hati-hati dalam memberikan dukungan ekonomi kepada Rusia demi melindungi aset serta kepentingan dagang mereka di pasar Amerika dan Eropa.
(Redaksi)


