Pemerintah Jepang merespons cepat potensi bencana tersebut dengan menerbitkan peringatan resmi bagi penduduk di sepanjang kawasan pantai Pasifik. Badan Meteorologi Jepang memproyeksikan gelombang tsunami setinggi satu meter atau sekitar tiga kaki berpotensi menyapu sejumlah area pelabuhan dan pemukiman pesisir mulai pukul 11.30 waktu setempat.
Sementara itu, konfirmasi mengenai kedatangan gelombang laut pasca-gempa sudah berembus dari wilayah timur Nusantara. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengumumkan bahwa sebaran dampak tsunami Mindanao secara nyata melanda tiga titik pemantauan di Maluku Utara dan Sulawesi Utara.
Hasil Monitoring Instrumen BMKG di Wilayah Pesisir Indonesia
Berdasarkan alat pencatat monitoring laut, wilayah Melonguane mencatat alat deteksi menyentuh angka 0,19 meter pada pukul 07.27 WIB. Pada menit yang sama, instrumen pengukur di Ulu Siau juga menangkap perubahan permukaan air dengan ketinggian 0,18 meter akibat rambatan energi dampak tsunami Mindanao tersebut.
Sinyal ancaman pertama kali menyentuh daratan Indonesia di wilayah Kedi, Maluku Utara. Di lokasi ini, petugas mendeteksi kedatangan gelombang awal setinggi 0,09 meter pada pukul 07.20 WIB, sebelum riak gelombang berikutnya merambat menuju kawasan kepulauan di sekitarnya.
Melalui saluran komunikasi resmi, BMKG menegaskan data visual penyerangan gelombang laut itu terdeteksi berturut-turut di Kedi Maluku Utara setinggi 0,09 meter pada pukul 07.20 WIB, kemudian menyusul di Ulu Siau setinggi 0,18 meter pada pukul 07.27 WIB, serta Melonguane setinggi 0,19 meter pada pukul 07.27 WIB.
(Redaksi)
