Ekonomi

Utang RI ke AS dan China Menyusut, Tapi Utang dalam Yuan Justru Cetak Rekor Baru

IDENESIA.CO – Ketergantungan Indonesia terhadap pembiayaan dari Amerika Serikat (AS) dan China menunjukkan tren menurun pada April 2026. Namun di saat yang sama, utang Indonesia dalam mata uang yuan China justru terus meningkat dan mencapai level tertinggi sepanjang sejarah.

Data tersebut tercantum dalam Statistik Utang Luar Negeri Indonesia (SULNI) edisi Juni 2026 yang dirilis Bank Indonesia (BI). Laporan itu mencatat posisi utang luar negeri (ULN) Indonesia pada April 2026 mencapai US$439,7 miliar atau sekitar Rp7.773,9 triliun dengan asumsi kurs Rp17.680 per dolar AS.

Secara tahunan, posisi ULN tumbuh 1,9 persen. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pada Maret 2026 yang sebesar 1 persen.

Bank Indonesia menjelaskan bahwa kenaikan ULN terutama berasal dari sektor publik. Sementara itu, sektor swasta masih mencatat kontraksi meski lajunya mulai melambat.

Utang Indonesia ke AS dan China Sama-Sama Turun

Jika ditinjau berdasarkan negara kreditur utama, posisi utang Indonesia dari AS dan China sama-sama mengalami penurunan dibandingkan bulan sebelumnya.

Utang Indonesia kepada AS tercatat sebesar US$27,99 miliar pada April 2026. Nilai tersebut turun tipis dari posisi Maret yang mencapai US$28,02 miliar.

Penurunan itu memang hanya sekitar US$30 juta atau 0,11 persen secara bulanan. Meski demikian, angka tersebut menunjukkan koreksi setelah tren kenaikan yang terjadi pada awal tahun.

Sementara itu, utang Indonesia kepada China turun lebih dalam. Pada April 2026, nilainya mencapai US$25,43 miliar atau lebih rendah dibandingkan Maret yang sebesar US$25,62 miliar.

Dengan demikian, posisi utang dari China berkurang sekitar US$190 juta atau turun 0,74 persen dalam sebulan.

Meski sama-sama turun, AS masih menjadi kreditur yang lebih besar dibandingkan China. Selisih utang Indonesia dari kedua negara mencapai US$2,56 miliar atau sekitar Rp45,26 triliun.

AS dan China Tetap Jadi Mitra Pembiayaan Penting

Perbedaan struktur pembiayaan membuat AS dan China tetap memiliki peran strategis dalam perekonomian Indonesia.

China selama ini banyak mendukung proyek infrastruktur, energi, transportasi, dan kawasan ekonomi. Sebaliknya, keterlibatan AS lebih dominan melalui pasar keuangan, investasi, serta sektor bernilai tambah tinggi seperti teknologi dan energi.

Karena itu, meski nilai utangnya menurun, kedua negara masih menjadi sumber pembiayaan luar negeri yang signifikan bagi Indonesia.

Data BI juga menunjukkan bahwa ULN pemerintah mencapai US$216,4 miliar pada April 2026 atau tumbuh 3,7 persen secara tahunan.

Di sisi lain, ULN swasta tercatat sebesar US$193,2 miliar. Angka tersebut masih mengalami kontraksi 0,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Utang dalam Yuan China Pecah Rekor

Menariknya, penurunan utang Indonesia dari China tidak sejalan dengan perkembangan utang dalam denominasi yuan.

Bank Indonesia mencatat posisi utang dalam mata uang yuan mencapai US$17,24 miliar pada April 2026. Nilai tersebut menjadi yang tertinggi sepanjang sejarah.

Sebulan sebelumnya, posisi utang dalam yuan berada di level US$16,99 miliar. Artinya, terjadi kenaikan sekitar US$248 juta atau 1,46 persen hanya dalam satu bulan.

Peningkatan tersebut mencerminkan semakin luasnya penggunaan yuan dalam transaksi perdagangan dan pembiayaan antara Indonesia dan China.

Kerja Sama BI dan PBOC Perkuat Penggunaan Yuan

Tren kenaikan penggunaan yuan semakin terlihat setelah Bank Indonesia dan People’s Bank of China (PBOC) memperkuat kerja sama keuangan bilateral.

Dalam pertemuan tingkat tinggi di Shanghai pada 11 Juni 2026, kedua bank sentral sepakat memperluas penggunaan mata uang lokal dalam transaksi kedua negara.

Kerja sama tersebut mencakup penguatan skema Local Currency Transaction (LCT), pengembangan Bilateral Currency Swap Agreement (BCSA), hingga rencana pembentukan fasilitas kliring renminbi di Indonesia.

Selain itu, kedua negara mulai mengimplementasikan pembayaran QR lintas batas Indonesia-China. Mereka juga memperkuat konektivitas sistem pembayaran melalui partisipasi Bank Mandiri dalam Cross-border Interbank Payment System (CIPS).

Langkah-langkah tersebut perkiraannya akan mendorong penggunaan yuan dalam perdagangan dan investasi bilateral. Kondisi itu sekaligus memperkuat tren kenaikan utang Indonesia dalam denominasi mata uang China yang terus tumbuh dalam beberapa tahun terakhir.

(Redaksi)

Show More
Back to top button