IDENESIA.CO – Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali membuat pernyataan kontroversial yang mengguncang panggung politik nasional.
Menjelang pemilihan wali kota New York City yang akan digelar pekan ini, Trump mengancam akan memotong alokasi dana federal untuk Kota New York apabila kandidat dari Partai Demokrat, Zohran Mamdani, memenangkan kontestasi tersebut.
Trump, yang dikenal dengan gaya politik konfrontatifnya, menyebut Mamdani sebagai komunis dan memperingatkan bahwa kemenangan politikus Muslim berusia 34 tahun itu akan menjadi “bencana ekonomi dan sosial total bagi New York City.”
“Jika kandidat komunis Zohran Mamdani memenangkan pemilihan wali kota New York City, sangat kecil kemungkinan saya akan menyalurkan dana federal selain dalam jumlah paling minimal sebagaimana diwajibkan untuk kota pertama yang saya cintai,” tulis Trump melalui akun Truth Social, dikutip The Guardian, Senin (3/11/2025).
“Saya tidak ingin mengirimkan uang baik untuk menutupi hal yang buruk. Saya sangat yakin bahwa New York City akan menjadi bencana apabila Mamdani menang,” lanjutnya.
Dalam pernyataan yang mengejutkan banyak pihak, Trump justru menyerukan para pendukung Partai Republik di New York untuk memilih eks Gubernur Andrew Cuomo, politikus dari Partai Demokrat yang menjadi pesaing utama Mamdani.
“Apakah Anda menyukai Andrew Cuomo atau tidak, Anda sebenarnya tidak punya pilihan lain. Anda harus memilihnya dan berharap ia dapat menjalankan tugasnya dengan baik. Ia mampu melakukannya, Mamdani tidak,” kata Trump.
Ia bahkan menyebut bahwa memilih Curtis Sliwa, kandidat resmi dari Partai Republik, sama saja dengan memberikan suara kepada Mamdani.
“Lebih baik mendukung Demokrat berpengalaman daripada seorang komunis tanpa rekam jejak,” sindir Trump dalam unggahannya.
Pernyataan itu langsung memicu perdebatan di internal Partai Republik. Sejumlah anggota partai menilai sikap Trump pragmatis dan berorientasi pada pengaruh politik nasional, sementara sebagian lainnya menyebutnya sebagai bentuk pengkhianatan terhadap kader sendiri.
Pemilihan wali kota New York kali ini menjadi salah satu pertarungan paling menarik dalam sejarah kota itu.
Menurut jajak pendapat RealClearPolitics terbaru yang dirilis Senin (3/11), Mamdani memimpin dengan 45,8 persen suara, unggul jauh dari Cuomo yang meraih 31,1 persen dan Sliwa di posisi ketiga dengan 17,3 persen.
Lebih dari 735 ribu warga New York telah memberikan suara awal, angka yang empat kali lipat lebih tinggi dibandingkan pemilihan 2021 menandakan antusiasme publik yang luar biasa terhadap pemilihan kali ini.
Trump memanfaatkan momentum tersebut untuk kembali memainkan narasi klasiknya: mengaitkan lawan politik dengan komunisme dan radikalisme sayap kiri.
“New York tidak butuh seorang aktivis radikal yang ingin memajaki warga kaya untuk membiayai bus gratis. Itu bukan kebijakan ekonomi, itu sosialisme terselubung,” kata Trump dalam kampanye Partai Republik di Pennsylvania, sehari sebelum unggahannya di Truth Social.
Zohran Kwame Mamdani merupakan anggota Majelis Negara Bagian New York yang dikenal sebagai politikus progresif dari sayap kiri Partai Demokrat.
Pria kelahiran Uganda dengan darah keturunan India itu tumbuh besar di New York dan dikenal luas karena vokalnya memperjuangkan kebijakan transportasi publik gratis, pembekuan sewa, dan layanan penitipan anak universal.
Dalam kampanyenya, Mamdani berjanji akan membebaskan biaya transportasi bus, menyediakan daycare gratis bagi keluarga pekerja, serta menekan biaya hidup melalui pajak bagi warga terkaya New York.
Kampanyenya dijalankan dalam berbagai bahasa termasuk Arab, Spanyol, Urdu, dan Bengali untuk menjangkau komunitas imigran dan pekerja berpenghasilan rendah.
Jika menang, Mamdani akan mencatat sejarah sebagai wali kota Muslim pertama New York City, sekaligus orang pertama keturunan Afrika dan Asia Selatan yang menduduki jabatan tersebut.
Namun perjalanan politik Mamdani tidak mulus. Selama kampanye, ia menjadi sasaran serangan Islamofobia dan rasisme, baik dari lawan politik maupun kelompok ekstrem kanan.
Cuomo bahkan menggunakan dukungan Mamdani terhadap perjuangan Palestina sebagai amunisi dalam debat terakhir calon wali kota.
Dalam salah satu serangan retorisnya, Cuomo menyebut, Mamdani lebih sibuk mengurus urusan luar negeri daripada memperbaiki New York.
Pernyataan itu memicu kecaman dari aktivis hak asasi manusia dan kelompok anti-diskriminasi di Amerika Serikat.
Menanggapi ancaman Trump dan sindiran Cuomo, Mamdani menyebut keduanya sebagai simbol politik lama yang gagal memahami penderitaan rakyat pekerja di New York.
“Jika Cuomo terpilih sebagai wali kota, kota kita akan semakin tenggelam dalam kegelapan yang membuat rakyat pekerja tak bisa lagi hidup dengan bermartabat,” kata Mamdani dalam pidatonya di Balai Kota Brooklyn, dikutip Al Jazeera.
“Trump menyebut saya komunis karena saya ingin warga bisa naik bus gratis. Jika memperjuangkan kesetaraan sosial disebut komunisme, maka biarlah saya disebut demikian,” ujarnya menambahkan.
Mamdani juga menegaskan bahwa kemenangan dirinya akan menjadi kemenangan bagi masyarakat kecil yang selama ini termarjinalkan.
“Tidak banyak yang berani membayangkan kita bisa menang. Tapi kemenangan ini adalah kemenangan mereka yang bekerja sejak matahari terbit hingga terbenam untuk membuat kota ini hidup,” ujarnya.
Pemilihan wali kota New York kali ini diyakini akan berdampak luas pada peta politik nasional menjelang pemilu presiden 2028.
Sebagai kota terbesar di AS dan pusat ekonomi global, arah politik New York sering dianggap cerminan dari sentimen publik terhadap kepemimpinan nasional.
Jika Mamdani menang, hal itu akan menandai pergeseran besar dari politik moderat ke arah progresif radikal di jantung Partai Demokrat.
Sementara ancaman Trump untuk memotong dana federal dipandang sebagai upaya menekan suara oposisi dan mengamankan pengaruh politiknya di negara bagian yang selama ini dikenal liberal.
Namun satu hal yang pasti, New York City kini menjadi pusat perhatian dunia, tempat di mana isu agama, ekonomi, dan ideologi bertabrakan di panggung demokrasi terbesar di dunia.
(Redaksi)

