Nasional

Wisudawan Doktor Termuda UGM Raih Gelar Pada Usia 27 Tahun

IDENESIA.CO – Perasaan bahagia dan bangga mewarnai momen wisuda Universitas Gadjah Mada (UGM). Pada acara berharga tersebut, Yesita Vera Saraswati berhasil meraih gelar doktor dari Fakultas Peternakan UGM. Prestasi ini terasa semakin istimewa karena ia meraih predikat sebagai wisudawan doktor termuda UGM pada usia yang baru menginjak 27 tahun.

Pencapaian Yesita menarik perhatian publik kampus. Pasalnya, data menunjukkan bahwa rata-rata lulusan doktor pada periode yang sama berada pada rentang usia 42 tahun. Angka tersebut mencakup 90 lulusan periode berjalan dan 19 lulusan periode sebelumnya. Yesita menyelesaikan seluruh rangkaian ujian akademik jauh lebih cepat dari statistik rata-rata tersebut.

Perjuangan panjang selama masa studi akhirnya membuahkan hasil manis. Keberhasilan ini menghadirkan rasa lega luar biasa bagi Yesita setelah melewati berbagai dinamika riset. Seluruh pengorbanan tenaga, biaya, pikiran, dan waktu kini terbayar tuntas bersamaan dengan penyerahan ijazah doktor tersebut.

Raihan IPK Hampir Sempurna dari Fakultas Peternakan

Yesita tidak sekadar menyelesaikan studi dalam usia muda. Ia juga mengukir prestasi akademik membanggakan lewat capaian Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) sebesar 3,99. Angka ini mencerminkan keunggulan kualitas akademik sang wisudawan doktor termuda UGM dari program studi S3 Ilmu Peternakan.

Proses meraih gelar doktor ini menuntut pengorbanan besar. Yesita harus membagi waktu antara menyusun disertasi pribadi dan mengelola tim penelitian skala besar. Selama masa penyelesaian tugas akhir, ia memimpin sekitar 70 hingga 80 mahasiswa program Sarjana (S1) dan Magister (S2) yang menjalankan riset bersama di laboratorium.

Manajerial tim laboratorium menjadi tantangan tersendiri bagi Yesita. Ia harus menyelaraskan jadwal kerja lintas laboratorium agar riset berjalan efektif. Kemampuan memimpin anggota tim sekaligus menjaga fokus penyusunan disertasi pribadi membuktikan kapasitas keilmuan serta kepemimpinan akademiknya.

Melaju Lewat Program PMDSU Fast Track UGM

Kelulusan cepat ini tidak terjadi secara kebetulan. Yesita mengambil jalur Pendidikan Magister menuju Doktor untuk Sarjana Unggul (PMDSU). Program beasiswa terintegrasi dari pemerintah ini memungkinkan mahasiswa berprestasi menempuh pendidikan S2 dan S3 secara langsung dalam waktu singkat.

Sebelumnya, Yesita tidak pernah merencanakan jalur percepatan studi ini. Situasi pandemi Covid-19 beberapa tahun lalu justru membuka peluang tersebut. Ia kemudian memutuskan mendaftar program PMDSU dan melanjutkan studi lanjut di Fakultas Peternakan UGM.

Keputusan memanfaatkan peluang PMDSU menjadi langkah strategis bagi karier akademiknya. Lewat skema terakselerasi ini, ia mampu memangkas durasi studi tanpa mengurangi bobot ilmiah maupun kualitas riset yang ia hasilkan.

Riset Pembentukan Ayam Lokal Galur Baru untuk Indonesia

Karya ilmiah utama yang mengantarkan gelar doktor tersebut berjudul “Studi Karakteristik Eksterior dan Genetik Ayam Lokal dan Persilangannya”. Dalam penelitian ini, Yesita fokus mengkaji potensi genetik ayam-ayam lokal Indonesia yang memiliki ceruk pasar tersendiri di masyarakat.

Tim peneliti melakukan perbaikan mutu genetik melalui metode persilangan dan seleksi terencana. Riset jangka panjang ini telah mencapai generasi kelima pada saat penyelesaian disertasi. Keberhasilan penelitian tersebut membuka peluang besar bagi penyediaan bibit unggul ternak unggas lokal berkualitas di tanah air.

Proses penelitian eksperimental tentu menghadirkan berbagai kendala teknis. Yesita menghadapi tahapan uji coba dan evaluasi secara berulang saat mengawinkan serta menyilangkan sampel ayam. Hambatan tersebut justru memperkaya pengalaman praktisnya di lapangan.

Menjaga Keseimbangan Hidup dan Cita-Cita Menjadi Dosen

Di luar aktivitas laboratorium, sang wisudawan doktor termuda UGM tetap aktif menjalankan berbagai kegiatan non-akademik. Ia terlibat dalam organisasi kampus, kegiatan kesenian, serta pendaftaran hak cipta karya riset. Keseimbangan antara kegiatan akademik dan interaksi sosial menjadi kunci ketahanan mentalnya.

Yesita memegang prinsip bahwa hubungan sosial yang harmonis dan kegiatan penyegaran sangat penting untuk menjaga kesehatan jiwa. Keseimbangan ini membantunya melewati tekanan tinggi selama menempuh pendidikan doktor di usia muda.

Ke depan, Yesita mantap memilih profesi dosen sebagai jalan pengabdian. Keinginan mengajar sudah tumbuh sejak masa sekolah menengah atas ketika ia gemar mengumpulkan serta mendampingi anak-anak belajar. Bagi Yesita, penyelesaian gelar S3 bukanlah akhir, melainkan awal dari proses belajar sepanjang hayat.

(Redaksi)

Show More
Back to top button