
IDENESIA.CO – Krisis iklim tidak hanya mengubah kondisi lingkungan, tetapi juga dapat memengaruhi hubungan sosial masyarakat. Cuaca ekstrem seperti gelombang panas, banjir, badai, dan kebakaran hutan dapat membatasi aktivitas warga, menghilangkan ruang berkumpul, serta memperburuk kesepian.
Fiona Doherty, asisten profesor bidang pekerjaan sosial di University of Tennessee, menilai hubungan sosial memiliki peran penting bagi kesejahteraan individu dan masyarakat. Ia meneliti hubungan antara krisis sosial dan lingkungan, termasuk keterasingan sosial serta cuaca ekstrem.
Menurut Doherty, salah satu dampak krisis iklim yang sering terabaikan adalah potensinya dalam memperburuk masalah kesepian. Ia menyampaikan pandangan tersebut dalam tulisannya pada Rabu (5/8).
Krisis Iklim Membatasi Interaksi Sosial
Doherty menjelaskan bahwa interaksi dengan orang lain membantu menjaga aktivitas otak, mengurangi stres, dan memberikan dukungan ketika bencana terjadi. Hubungan tersebut juga dapat membantu warga menghadapi kondisi cuaca ekstrem.
Saat suhu meningkat tajam, misalnya, teman dan tetangga dapat saling memberikan peringatan mengenai bahaya panas. Mereka juga dapat memeriksa kondisi lansia dan membantu warga mencari tempat yang memiliki pendingin udara.
Namun, krisis iklim yang meningkatkan frekuensi cuaca ekstrem dapat melemahkan jaringan sosial tersebut. Panas ekstrem membuat sebagian warga memilih tetap berada di dalam rumah karena kondisi luar ruangan terasa tidak aman atau tidak nyaman.
Seorang pekerja sosial berusia 28 tahun di wilayah pedesaan Appalachia, Amerika Serikat, mengatakan kepada tim penelitian Doherty bahwa warga cenderung menghindari kegiatan masyarakat ketika cuaca sangat panas.
Badai dan banjir juga dapat menghambat mobilitas. Kondisi jalan yang berbahaya atau tidak dapat dilalui membuat warga kesulitan mengunjungi keluarga, menghadiri pertemuan, atau mengikuti kegiatan komunitas.
Cuaca Ekstrem Mengganggu Komunikasi
Dampak krisis iklim tidak berhenti pada pembatasan aktivitas fisik. Cuaca ekstrem juga dapat menyebabkan pemadaman listrik serta mengganggu jaringan internet dan telepon seluler.
Gangguan tersebut dapat memutus berbagai bentuk komunikasi, mulai dari panggilan telepon hingga pesan singkat, media sosial, dan surat elektronik. Kondisi itu menjadi semakin penting ketika masyarakat membutuhkan informasi selama bencana.
Seorang warga pedesaan berusia 74 tahun mengatakan bahwa pemadaman listrik dapat membuat layanan telepon seluler ikut terputus. Situasi tersebut membuat warga kehilangan akses terhadap koneksi dengan orang lain.
Kondisi ini dapat meningkatkan risiko keterasingan, terutama bagi warga yang tinggal jauh dari pusat permukiman. Lansia dan masyarakat yang tidak memiliki akses transportasi atau internet yang memadai juga menghadapi tantangan lebih besar.
Ruang Berkumpul Ikut Terancam
Krisis iklim juga dapat merusak tempat yang memiliki nilai sosial dan budaya bagi masyarakat. Banjir, misalnya, dapat mengubah kondisi ruang terbuka yang sebelumnya digunakan warga untuk berenang, berpiknik, dan berkumpul.
Doherty menceritakan pengalamannya ketika Badai Irene dan Badai Tropis Lee melanda Cherry Valley, New York, pada 2011. Banjir yang menjebol tanggul merusak sebuah danau kecil yang dikenal masyarakat sebagai “the reservoir”.
Tempat tersebut sebelumnya menjadi salah satu ruang berkumpul bagi keluarga-keluarga di wilayah pedesaan tersebut. Setelah badai merusaknya, masyarakat kehilangan salah satu tempat yang memiliki fungsi sosial penting.
Kekeringan berkepanjangan juga dapat menurunkan permukaan air sungai dan danau. Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko kebakaran hutan dan merusak hasil pertanian yang menopang berbagai tradisi masyarakat.
Menurut Doherty, hilangnya tempat dan tradisi bersama dapat mengurangi kesempatan masyarakat untuk membangun hubungan antargenerasi. Dampaknya dapat terasa lebih kuat pada kelompok yang sebelumnya sudah menghadapi keterisolasian sosial.
Pusat Komunitas Bisa Perkuat Ketahanan
Doherty menyarankan pemerintah memperkuat fasilitas yang dapat menjadi ruang interaksi sekaligus mendukung masyarakat menghadapi cuaca ekstrem. Perpustakaan umum dan pusat komunitas dapat menjalankan fungsi tersebut.
Fasilitas itu dapat menyediakan ruang belajar, tempat berlindung ketika suhu meningkat, akses internet, serta lokasi untuk mengisi daya perangkat ketika terjadi pemadaman listrik.
Langkah tersebut dapat membantu masyarakat mempertahankan interaksi sosial ketika cuaca ekstrem menghambat kegiatan sehari-hari. Pusat komunitas juga dapat memberikan ruang aman bagi warga yang membutuhkan koneksi dengan lingkungan sekitarnya.
Menurut Doherty, hubungan sosial menjadi salah satu aset penting bagi komunitas dalam menghadapi gangguan iklim. Namun, jaringan sosial juga memiliki kerentanan ketika cuaca ekstrem terus mengganggu aktivitas, komunikasi, dan ruang berkumpul masyarakat.
(Redaksi)

