
IDENESIA.CO – Pemerintah bersama pihak swasta akan membangun 1.500 unit rumah warga terdampak gempa Flores di Nusa Tenggara Timur (NTT). Pemerintah pusat menyiapkan 1.000 unit rumah, sedangkan pihak swasta melalui Yayasan Buddha Suci akan mendukung pembangunan 500 unit.
Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena menyampaikan rencana tersebut saat meninjau sejumlah wilayah terdampak gempa pada 22-23 Agustus 2026. Ia mengunjungi wilayah Ngada, Nagekeo, Ende, hingga Sikka untuk melihat langsung kondisi masyarakat setelah gempa.
Sebelumnya, Laka Lena juga meninjau wilayah terdampak mulai dari Labuan Bajo hingga Maumere. Dalam rangkaian kunjungan tersebut, pemerintah daerah mengidentifikasi kebutuhan warga, termasuk kebutuhan tempat tinggal setelah gempa merusak puluhan ribu rumah.
Laka Lena mengatakan pemerintah pusat melalui Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) akan membangun 1.000 rumah bagi masyarakat yang terdampak. Pemerintah memprioritaskan pembangunan tahap awal di Kabupaten Manggarai, Manggarai Timur, dan Nagekeo.
“Saya mewakili tiga bupati dan warganya yang terdampak, sebagai gubernur, mengucapkan terima kasih kepada Pak Menteri PKP yang sudah memberikan dukungan perumahan kepada kami,” kata Laka Lena dalam keterangannya, Minggu (23/8/2026).
Dukungan Swasta Tambah 500 Rumah
Selain program pemerintah pusat, pihak swasta juga ikut membantu pemulihan masyarakat. Yayasan Buddha Suci akan mendukung pembangunan 500 unit rumah bagi warga yang terdampak gempa.
Dengan dukungan tersebut, pemerintah dan pihak swasta menargetkan pembangunan total 1.500 unit rumah. Program ini menjadi bagian dari upaya pemulihan permukiman warga setelah gempa merusak banyak rumah di sejumlah wilayah NTT.
Pembangunan rumah juga menjadi kebutuhan penting karena banyak warga masih berada di lokasi pengungsian. Pemerintah perlu memastikan masyarakat memiliki tempat tinggal yang aman sehingga proses pemulihan dapat berjalan secara bertahap.
Data kerusakan menunjukkan skala dampak gempa cukup besar. Karena itu, pemerintah perlu memprioritaskan warga yang kehilangan atau mengalami kerusakan berat pada tempat tinggal mereka.
BNPB Catat 91 Orang Meninggal
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 91 orang meninggal dunia akibat gempa dahsyat di NTT hingga Minggu (23/8/2026). Selain korban meninggal, gempa juga menyebabkan 1.286 orang mengalami luka-luka.
BNPB juga mencatat sebanyak 156.782 orang masih mengungsi akibat bencana tersebut. Jumlah pengungsi yang besar menunjukkan kebutuhan masyarakat tidak hanya mencakup tempat tinggal, tetapi juga kebutuhan dasar selama masa pemulihan.
Kerusakan rumah juga mencapai puluhan ribu unit. BNPB mencatat sebanyak 58.360 rumah rusak akibat gempa di sejumlah wilayah NTT.
Jumlah kerusakan tersebut belum mencakup berbagai fasilitas umum yang ikut terdampak. Fasilitas pendidikan, rumah ibadah, fasilitas kesehatan, serta fasilitas publik lainnya juga mengalami kerusakan akibat gempa.
Pembangunan Rumah Jadi Bagian Pemulihan
Pembangunan rumah warga terdampak gempa Flores menjadi salah satu langkah penting dalam pemulihan pascabencana. Pemerintah pusat dan pemerintah daerah perlu mengarahkan bantuan kepada warga yang paling membutuhkan.
Dukungan dari pihak swasta melalui Yayasan Buddha Suci juga menambah kapasitas pembangunan rumah bagi masyarakat. Dengan total 1.500 unit rumah, program tersebut dapat membantu sebagian warga kembali memiliki tempat tinggal setelah kehilangan rumah akibat gempa.
Pemerintah juga menghadapi kebutuhan pemulihan di berbagai sektor lain. Kerusakan fasilitas pendidikan, kesehatan, rumah ibadah, dan fasilitas publik membutuhkan penanganan secara bertahap agar aktivitas masyarakat dapat kembali berjalan.
Peninjauan Gubernur NTT ke sejumlah wilayah terdampak menjadi bagian dari koordinasi pemulihan. Pemerintah daerah dapat menggunakan hasil peninjauan tersebut untuk menentukan kebutuhan prioritas masyarakat dan mengarahkan bantuan sesuai kondisi di lapangan.
Pemulihan pascagempa membutuhkan koordinasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, lembaga swasta, dan masyarakat. Pembangunan rumah menjadi salah satu kebutuhan utama untuk membantu warga NTT kembali menjalani aktivitas setelah bencana.
(Redaksi)

