
IDENESIA.CO – Risiko penyakit jantung ternyata sudah muncul pada sebagian besar orang ketika memasuki usia 20-an. Studi Future of Families, Cardiovascular Health Among Young Adults (FF-CHAYA) menemukan sekitar 79 persen peserta penelitian memiliki sedikitnya satu faktor risiko cardiovascular-kidney-metabolic (CKM).
Peneliti melibatkan hampir 1.300 orang dewasa muda dengan rata-rata usia 23 tahun. Mereka menggunakan kriteria terbaru American Heart Association (AHA) untuk melihat kondisi kesehatan jantung, ginjal, dan metabolisme peserta.
Hasil penelitian tersebut memberi gambaran bahwa usia muda tidak selalu berarti seseorang memiliki kondisi kardiovaskular yang ideal. Sejumlah perubahan pada berat badan, tekanan darah, kadar gula darah, dan fungsi ginjal dapat mulai membentuk risiko sejak usia produktif.
Penyakit Jantung Berkaitan dengan Kondisi Metabolik
Penelitian FF-CHAYA menggunakan pembaruan kriteria AHA yang terbit pada 2023. Dalam pembaruan tersebut, AHA memasukkan penyakit ginjal kronis atau chronic kidney disease (CKD) dalam penilaian yang berkaitan dengan kesehatan kardiovaskular.
AHA juga menggunakan konsep CKM untuk melihat hubungan antara kesehatan jantung, ginjal, dan metabolisme. Konsep tersebut membantu peneliti melihat faktor risiko secara lebih menyeluruh.
Peneliti membagi kondisi peserta ke dalam tahap CKM dari 0 sampai 4. Hanya 21 persen peserta yang berada pada tahap 0. Kelompok tersebut tidak menunjukkan faktor risiko CKM.
Sebanyak 40 persen peserta berada pada tahap 1. Kelompok ini mengalami masalah yang berkaitan dengan kelebihan lemak tubuh atau adiposity.
Kemudian, 36 persen peserta masuk tahap 2. Mereka memiliki faktor risiko metabolik, termasuk tekanan darah tinggi atau kadar gula darah tinggi.
Sebanyak 3 persen peserta berada pada tahap 3. Kelompok ini menunjukkan penyakit ginjal tingkat lanjut atau tanda awal penyakit kardiovaskular.
Data tersebut menunjukkan bahwa faktor risiko penyakit jantung dapat muncul jauh sebelum seseorang memasuki usia lanjut. Kondisi metabolik juga dapat berperan dalam perkembangan risiko tersebut.
Pemeriksaan Pembuluh Darah Menunjukkan Perubahan Dini
Peneliti juga menggunakan Life’s Essential 8 untuk menilai berbagai perilaku dan indikator kesehatan peserta. Penilaian tersebut mencakup sejumlah faktor yang berhubungan dengan kesehatan kardiovaskular.
Hasil penelitian memperlihatkan hubungan antara tahap CKM dengan kualitas kesehatan peserta. Peserta dengan tahap CKM yang semakin tinggi cenderung memiliki skor Life’s Essential 8 yang semakin rendah.
Peneliti kemudian memeriksa arteri karotis menggunakan ultrasonografi atau USG. Arteri karotis merupakan pembuluh darah yang berada di leher dan membawa darah menuju otak.
Pemeriksaan tersebut menemukan penebalan arteri karotis pada peserta dengan risiko CKM lebih tinggi. Penebalan itu dapat menjadi salah satu tanda awal aterosklerosis, yaitu proses penyempitan atau pengerasan pembuluh darah.
Temuan tersebut memperlihatkan bahwa perubahan pembuluh darah dapat berkembang sebelum seseorang merasakan gejala penyakit jantung. Kondisi ini membuat pemeriksaan faktor risiko dan penerapan pola hidup sehat sejak usia muda menjadi penting.
Gaya Hidup Ikut Memengaruhi Risiko Penyakit Jantung
Temuan penelitian tersebut sejalan dengan perhatian terhadap meningkatnya gangguan kardiovaskular pada kelompok usia produktif. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menilai perubahan gaya hidup turut mendorong munculnya penyakit jantung pada kelompok usia tersebut.
Kebiasaan merokok sejak usia dini, konsumsi makanan tinggi gula, garam, dan lemak, serta kurang aktivitas fisik dapat meningkatkan risiko kesehatan kardiometabolik. Obesitas juga dapat memperbesar risiko ketika seseorang menjalani pola hidup sedentari.
Kemenkes RI mencatat 39 persen orang dengan penyakit jantung di Indonesia berasal dari kelompok usia di bawah 44 tahun. Dari angka tersebut, 22 persen berada pada rentang usia 15 hingga 35 tahun.
Data tersebut menunjukkan bahwa penyakit jantung juga menjadi perhatian bagi kelompok usia muda. Seseorang dapat memiliki faktor risiko tanpa merasakan gejala yang jelas.
Pencegahan Penyakit Jantung Dimulai dari Kebiasaan Sehari-hari
Pencegahan penyakit jantung dapat dimulai melalui perubahan pola hidup. Masyarakat dapat meningkatkan konsumsi buah, sayuran, dan biji-bijian utuh untuk membantu memenuhi kebutuhan serat.
Pola makan juga dapat memasukkan sumber protein rendah lemak, baik dari sumber nabati maupun hewani. Masyarakat dapat memilih sumber lemak tak jenuh, seperti minyak zaitun dan minyak alpukat.
Sebaliknya, konsumsi daging olahan, lemak jenuh, gula tambahan, dan natrium perlu dibatasi. Kebiasaan tersebut dapat membantu menjaga faktor metabolik yang berkaitan dengan kesehatan kardiovaskular.
Aktivitas fisik juga memiliki peran penting. Rekomendasi umum mencakup aktivitas olahraga sedikitnya 150 menit setiap minggu.
Selain olahraga, tidur selama 7–8 jam setiap hari dan berhenti merokok dapat mendukung kesehatan jantung. Pengelolaan stres juga menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan secara menyeluruh.
Dengan mengenali faktor risiko sejak usia muda, seseorang dapat mengambil langkah pencegahan lebih awal. Upaya tersebut dapat membantu mengurangi kemungkinan berkembangnya masalah kardiovaskular pada masa berikutnya.
(Redaksi)
