
IDENESIA.CO – Gelombang demonstrasi meluas di Eropa pada Oktober 2026. Warga di sejumlah negara turun ke jalan untuk memprotes kenaikan biaya hidup, mahalnya harga rumah, serta persoalan pendidikan dan kesejahteraan. Prancis menjadi pusat perhatian setelah aksi mahasiswa berkembang menjadi gerakan yang melibatkan pekerja dan kelompok masyarakat lainnya.
Selain Prancis, demonstrasi juga berlangsung di Italia, Belgia, Portugal, Spanyol, dan Albania. Meski setiap negara memiliki persoalan berbeda, tekanan ekonomi dan ketidakpuasan terhadap kebijakan pemerintah menjadi isu yang menghubungkan berbagai aksi tersebut.
Prancis Menjadi Pusat Gelombang Demonstrasi Eropa
Di Prancis, aksi demonstrasi bermula dari kalangan pelajar sekolah menengah. Mereka memprotes jam belajar yang panjang, kekurangan tenaga pengajar, kerusakan ruang kelas, serta sistem penerimaan mahasiswa yang dinilai tidak transparan.
Aksi tersebut kemudian menarik dukungan masyarakat yang menghadapi kenaikan biaya hidup. Lonjakan harga bahan bakar dan tekanan terhadap pengeluaran rumah tangga memperbesar keresahan publik.
Konfederasi Umum Buruh (CGT), salah satu serikat pekerja terbesar di Prancis, turut mendukung demonstrasi. Serikat tersebut menuntut penurunan harga kebutuhan, kenaikan upah, dan peningkatan dana pensiun.
Menurut laporan Al Jazeera pada 17 Oktober 2026, Kementerian Dalam Negeri Prancis mencatat lebih dari 550.000 orang mengikuti demonstrasi nasional. Namun, sebagian aksi berujung bentrokan, penjarahan, dan perusakan properti. Polisi menggunakan gas air mata dan meriam air untuk membubarkan massa.
Demonstrasi Meluas ke Italia, Belgia, dan Portugal
Di Italia, demonstrasi di Milan yang awalnya berlangsung damai berubah menjadi kerusuhan. Sejumlah pengunjuk rasa bertopeng melemparkan batu ke arah polisi, membakar barikade, dan menjarah toko.
Polisi kemudian menggunakan gas air mata dan meriam air untuk mengendalikan situasi. Kerusakan terjadi di sekitar Piazza del Duomo dan kawasan perbelanjaan di pusat kota.
Sementara itu, demonstrasi di Belgia turut menyoroti persoalan pendidikan dan biaya hidup. Bentrokan antara sebagian demonstran dan polisi terjadi ketika aparat berusaha mengendalikan massa.
Di Portugal, warga berkumpul di Lisbon pada Sabtu, 17 Oktober 2026, untuk memprotes mahalnya harga rumah. Data resmi menunjukkan harga perumahan di negara tersebut meningkat 124 persen selama 2015–2024.
Kenaikan itu memperberat beban masyarakat, terutama pekerja dan anak muda yang kesulitan membeli atau menyewa tempat tinggal. Karena itu, demonstran mendesak pemerintah mengambil langkah untuk memperbaiki akses perumahan.
Krisis Perumahan Picu Protes di Spanyol
Di Spanyol, persoalan sewa rumah turut mendorong masyarakat turun ke jalan. Kasus pengusiran Maricarmen Abascal, perempuan berusia 87 tahun, memperkuat tuntutan perlindungan bagi penyewa.
Menurut laporan The Guardian, sebuah dana investasi menaikkan harga sewa rumah yang ditempati Abascal hingga 230 persen. Ia meninggal dunia dua minggu setelah pengusiran tersebut, seusai menjalani perawatan di rumah sakit.
Para demonstran menuntut pembatasan kenaikan sewa, penghentian pengusiran paksa, dan pembatasan pembelian properti oleh dana investasi.
Di Albania, demonstrasi membawa tuntutan politik yang lebih kuat. Para pengunjuk rasa mendesak Perdana Menteri Edi Rama mengundurkan diri. Aksi tersebut memperlihatkan bahwa ketidakpuasan masyarakat tidak hanya berkaitan dengan ekonomi, tetapi juga pemerintahan.
Mengapa Demonstrasi Terus Meluas?
Profesor hukum dan kebijakan Uni Eropa di HEC Paris Business School, Alberto Alemanno, menilai Prancis menjadi episentrum gerakan tersebut. Ia melihat tanda-tanda bahwa aksi protes mulai menyebar ke negara lain.
Alemanno juga memperkirakan demonstrasi belum tentu berakhir pada aksi 17 Oktober. Menurut dia, Yunani, Jerman, dan Austria menunjukkan tanda awal mobilisasi yang berpotensi berkembang dalam beberapa pekan berikutnya.
Meski demikian, setiap negara memiliki pemicu dan tuntutan berbeda. Kesamaan persoalan ekonomi tidak otomatis berarti seluruh demonstrasi bergerak di bawah satu komando.
Meluasnya demonstrasi kini menjadi tantangan bagi pemerintah Eropa. Mereka perlu merespons tuntutan mengenai harga kebutuhan, pendidikan, perumahan, dan kesejahteraan pekerja. Pada saat yang sama, aparat harus menjaga ketertiban serta menghormati hak masyarakat untuk menyampaikan pendapat secara damai.
(Redaksi)

