Nasional

Teknologi Robotik dan AI Siloam Perkuat Keselamatan Pasien

IDENESIA.CO – Digitalisasi layanan kesehatan mendorong rumah sakit mengembangkan metode pengobatan yang lebih presisi dan responsif. Di Indonesia, pemanfaatan robotik medis dan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) mulai memperkuat proses pembedahan hingga pemantauan pasien kritis. Siloam International Hospitals menjadi salah satu penyedia layanan yang mengembangkan teknologi tersebut untuk mendukung ketepatan tindakan medis dan keselamatan pasien.

Presiden Direktur Siloam International Hospitals, David Utama, menjelaskan bahwa teknologi robotik membantu dokter melakukan pembedahan melalui sayatan yang lebih kecil.

“Pendekatan ini memungkinkan dokter menjalankan tindakan dengan presisi lebih tinggi sekaligus mendukung proses pemulihan pasien” kata David, Senin (26/10/2026)

Menurut dia, pemanfaatan teknologi medis tidak sekadar memperbarui peralatan rumah sakit, tetapi juga mengubah cara tenaga kesehatan mengantisipasi risiko dan menentukan langkah penanganan.

Teknologi robotik medis mendukung operasi minimal invasif

Salah satu manfaat teknologi robotik terletak pada dukungannya terhadap prosedur bedah minimal invasif. Metode ini menggunakan sayatan berukuran kecil untuk memberikan akses bagi instrumen bedah menuju bagian tubuh yang memerlukan tindakan.

David menjelaskan bahwa sistem robotik membantu dokter mengarahkan instrumen dengan lebih presisi. Mekanisme tersebut memungkinkan dokter menjangkau area operasi melalui sudut gerak yang luas tanpa harus selalu melakukan pembedahan terbuka dengan sayatan besar.

“Robot ini menjadi alat bantu agar tindakan lebih presisi dan akurat. Dokter dapat menggunakan sayatan kecil untuk memasukkan instrumen robotik, sehingga risiko infeksi dapat ditekan dan pasien berpeluang pulih lebih cepat,” ujar David.

Menurut dia, pendekatan tersebut juga mendukung pasien untuk kembali menjalankan aktivitas setelah operasi. Meski demikian, hasil pemulihan tetap bergantung pada jenis tindakan, kondisi pasien, dan faktor klinis lainnya.

Penggunaan robot tidak menggantikan peran dokter dalam mengambil keputusan medis. Sebaliknya, teknologi tersebut menjadi perangkat pendukung yang membantu tenaga medis menjalankan prosedur sesuai kebutuhan pasien.

Siloam mengoperasikan robot untuk berbagai kebutuhan bedah

Siloam International Hospitals mengembangkan teknologi robotik untuk sejumlah bidang kedokteran. David menyebut jaringan rumah sakit tersebut mengoperasikan berbagai perangkat yang mendukung kebutuhan pembedahan spesifik.

Pada layanan bedah abdomen dan urologi, Siloam menghadirkan dua unit robot da Vinci di cabang Kebon Jeruk dan Asri. Kedua bidang tersebut mencakup tindakan medis pada organ di dalam rongga perut serta sistem saluran kemih.

Sementara itu, layanan ortopedi menggunakan sejumlah perangkat robotik, antara lain VELYS, CORI, ROSA, dan Q-Vis. Teknologi tersebut mendukung prosedur seperti penggantian sendi lutut, penggantian panggul, serta tindakan pada tulang belakang.

Siloam juga memanfaatkan teknologi Brainlab untuk mendukung pembedahan otak dan menyediakan perangkat robotik khusus untuk operasi mikro. Penggunaan beragam sistem ini menunjukkan bahwa rumah sakit menyesuaikan teknologi dengan kebutuhan dan karakteristik tindakan medis.

Pada September 2025, Siloam Hospitals Lippo Village memperkenalkan Brainlab Cirq Robotic Suite untuk mendukung tindakan bedah saraf dan otak. Kehadiran teknologi tersebut menjadi bagian dari pengembangan layanan spesialisasi di jaringan rumah sakit itu.

Meski menawarkan dukungan teknis, robotik medis tetap memerlukan keahlian dokter, pemilihan pasien yang tepat, dan prosedur keselamatan yang sesuai. Karena itu, keberadaan perangkat canggih tidak dengan sendirinya menjamin keberhasilan setiap operasi.

Smart ICU membantu dokter mengantisipasi kondisi kritis

Transformasi digital Siloam tidak hanya menyasar ruang operasi. Rumah sakit tersebut juga mengembangkan pemanfaatan AI untuk mendukung pemantauan pasien dan membantu tenaga medis mengenali potensi kondisi darurat lebih awal.

Salah satu penerapannya ialah Smart ICU, yang menjadi bagian dari pengembangan Enterprise AI Foundation. Sistem ini menggunakan analisis prediktif untuk membantu tim medis mengidentifikasi tanda-tanda penurunan kondisi pasien kritis.

David menjelaskan bahwa teknologi tersebut dapat memberikan waktu bagi dokter untuk mempersiapkan tindakan sebelum kondisi pasien memburuk. Menurut dia, sistem ini menggeser pola penanganan dari respons setelah kejadian menjadi langkah antisipatif.

“Dulu kita bereaksi setelah pasiennya drop. Sekarang, 30 menit sebelum pasiennya drop, kita mengantisipasi,” kata David.

Informasi prediktif tersebut memberi tim medis kesempatan untuk mengevaluasi kondisi pasien dan menyiapkan penanganan yang diperlukan. Namun, prediksi sistem bukan pengganti pemeriksaan klinis maupun keputusan dokter. Tim medis tetap perlu menilai kondisi aktual pasien sebelum menentukan tindakan.

Pengembangan AI di bidang kesehatan juga memerlukan perhatian terhadap kualitas data, keamanan informasi pasien, serta ketepatan hasil analisis. Faktor-faktor tersebut penting agar teknologi mendukung pelayanan tanpa mengesampingkan keselamatan dan privasi pasien.

Integrasi teknologi mengubah pola pelayanan kesehatan

Penerapan robotik dan AI memperlihatkan dua fungsi teknologi yang saling melengkapi. Robotik membantu dokter menjalankan prosedur tertentu dengan dukungan presisi mekanis, sedangkan AI membantu tenaga medis menganalisis informasi dan mengantisipasi perubahan kondisi pasien.

Dalam praktiknya, manfaat kedua teknologi bergantung pada integrasi dengan alur kerja rumah sakit. Tenaga medis perlu memahami cara menggunakan perangkat, membaca hasil analisis, dan menentukan respons yang sesuai dengan kebutuhan klinis.

Bagi pasien, pendekatan tersebut berpotensi mendukung tindakan yang lebih terarah, pemulihan yang lebih baik, serta penanganan risiko secara lebih dini. Namun, hasil akhirnya tetap dipengaruhi kondisi kesehatan, jenis penyakit, kompleksitas prosedur, dan respons tubuh setiap pasien.

David menegaskan bahwa teknologi menjadi bagian penting dalam mendukung kesiapan dokter menghadapi perubahan kondisi pasien. Melalui pengembangan robotik dan AI, Siloam berupaya memperkuat kemampuan layanan bedah sekaligus pemantauan pasien kritis.

Ke depan, efektivitas penerapan teknologi medis perlu dinilai melalui hasil klinis, keselamatan pasien, dan mutu pelayanan. Dengan evaluasi tersebut, rumah sakit dapat memastikan bahwa inovasi tidak hanya menghadirkan peralatan modern, tetapi juga memberi manfaat nyata bagi pasien.

(Redaksi)

Show More
Back to top button