
IDENESIA.CO – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mengancam kelestarian sejumlah kawasan konservasi di Indonesia sepanjang 2026. Sedikitnya enam taman nasional mengalami kebakaran dengan luas area terdampak mencapai ribuan hektare.
Kebakaran tersebut tidak hanya menghanguskan vegetasi, tetapi juga mengancam ekosistem dan habitat satwa liar yang hidup di dalam kawasan konservasi. Sejumlah taman nasional yang terdampak antara lain Taman Nasional Wasur di Papua Selatan, Way Kambas di Lampung, hingga Bromo Tengger Semeru di Jawa Timur.
Berdasarkan data yang dihimpun, Taman Nasional Wasur mencatat area kebakaran terluas, yakni 8.708 hektare selama periode Januari hingga Oktober 2026.
Sementara itu, kebakaran di Taman Nasional Way Kambas mencapai 7.000 hektare pada Agustus hingga Oktober. Kemudian, Taman Nasional Lorentz di Papua mengalami kebakaran seluas 6.532 hektare sepanjang Januari hingga Agustus.
Kondisi serupa terjadi di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru dengan luas kebakaran mencapai 3.531 hektare selama Januari hingga September.
Adapun Taman Nasional Kerinci Seblat di Jambi mencatat kebakaran seluas 1.776 hektare pada Agustus. Sedangkan Taman Nasional Tanjung Puting di Kalimantan Tengah mengalami kebakaran seluas 1.234 hektare pada Oktober 2026.
Karhutla Ancam Ekosistem dan Habitat Satwa Liar
Kebakaran di kawasan taman nasional membawa dampak serius terhadap keberlangsungan lingkungan. Pasalnya, kawasan konservasi memiliki fungsi penting sebagai penyangga daerah aliran sungai (DAS), pengendali erosi, serta penyimpan karbon.
Kerusakan vegetasi akibat kebakaran juga mengganggu keseimbangan ekosistem. Selain itu, satwa liar kehilangan habitat dan ruang gerak akibat kawasan tempat mereka mencari makan dan berlindung terbakar.
Ancaman tersebut turut membayangi satwa dilindungi, termasuk gajah Sumatera dan rusa yang bergantung pada kelestarian habitat alaminya.
Sejumlah faktor memicu kebakaran tersebut. Di antaranya kondisi vegetasi yang mengering, kelalaian saat membuka lahan, serta minimnya curah hujan yang membuat kawasan hutan lebih mudah terbakar.
Tim Gabungan Intensif Tangani Kebakaran
Menghadapi situasi tersebut, tim gabungan terus memperkuat upaya penanganan karhutla di berbagai wilayah. Petugas melakukan pemadaman melalui jalur darat dan udara untuk mengendalikan titik api.
Selain pemadaman, petugas juga menjalankan penyekatan dan pendinginan guna mencegah api kembali menyala serta meluas ke kawasan lain.
Pemerintah turut mengoptimalkan operasi modifikasi cuaca (OMC) sebagai bagian dari upaya mendukung penanganan kebakaran.
Di kawasan wisata alam, pengelola juga mengambil langkah pengamanan dengan menutup sementara jalur pendakian. Kebijakan tersebut bertujuan melindungi pengunjung sekaligus memberikan ruang bagi petugas untuk menangani kebakaran.
Kepala BNPB Letjen TNI Kristomei Sianturi menegaskan pentingnya kerja sama seluruh pihak dalam menghadapi bencana karhutla.
Menurutnya, kolaborasi, respons cepat, integrasi, dan sinkronisasi menjadi prinsip utama agar penanganan kebakaran berjalan efektif.
Upaya tersebut diharapkan mampu menekan perluasan kebakaran sekaligus melindungi kawasan konservasi yang memiliki peran penting bagi keberlanjutan lingkungan dan keanekaragaman hayati Indonesia.
(Redaksi)
