
Perhatian tersebut muncul setelah manajemen RSUD I.A. Moeis memaparkan rencana penerapan Allegra, sebuah teknologi skrining kesehatan yang memanfaatkan kamera telepon seluler. Sistem ini menawarkan pemeriksaan sejumlah indikator kesehatan melalui pemindaian wajah dalam waktu singkat.
Andi Harun menilai inovasi digital dapat membuka peluang peningkatan pelayanan kesehatan. Namun, pemerintah perlu memastikan teknologi tersebut benar-benar bekerja sesuai klaim perusahaan penyedia.
“Sebelum teknologi ini diterapkan kepada masyarakat, saya ingin memastikan izin edar dari Kementerian Kesehatan, validitas ilmiah, dan kemampuan sistemnya. Semua dokumen perizinan harus melalui pemeriksaan,” ujar Andi Harun saat menerima paparan RSUD I.A. Moeis di Ruang Rapat Wali Kota Samarinda, Selasa (3/11/2026)
Andi Harun Tekankan Akurasi AI Kesehatan
Andi Harun menyoroti klaim Allegra yang menawarkan kemampuan analisis terhadap 62 parameter kesehatan. Menurutnya, pemerintah harus mengetahui dasar pengujian dan tingkat akurasi setiap parameter tersebut.
Ia meminta perusahaan penyedia melengkapi dokumen dengan publikasi ilmiah yang telah melalui proses peer review. Pemerintah juga membutuhkan data sensitivitas, spesifisitas, serta tingkat kesalahan (error rate) untuk mengukur keandalan teknologi.
Selain itu, Andi Harun mempertanyakan mekanisme algoritma dalam memperkirakan sejumlah indikator klinis tanpa pengambilan sampel darah. Indikator tersebut meliputi kadar glukosa, kolesterol, hemoglobin, dan asam urat.
Pemerintah ingin mengetahui metode yang digunakan sistem dalam menghasilkan estimasi kesehatan tersebut. Penjelasan juga harus mencakup landasan penelitian dan batas kemampuan teknologi.
“Jangan sampai masyarakat menganggap hasil skrining sebagai diagnosis medis, padahal hasilnya masih berupa estimasi awal. Kita harus mengetahui sejauh mana hasil pemeriksaan tersebut dapat dipertanggungjawabkan secara medis,” tegasnya.
Ia menilai transparansi informasi sangat penting agar masyarakat memahami fungsi teknologi. Dengan demikian, hasil pemindaian tidak menggantikan pemeriksaan dan penilaian dokter.
RSUD I.A. Moeis Paparkan Teknologi Allegra
Dalam pertemuan tersebut, Direktur Utama RSUD I.A. Moeis, dr. Osa Rafshodia, menjelaskan mekanisme kerja Allegra sebagai teknologi deteksi dini kesehatan.
Allegra memanfaatkan kamera telepon seluler untuk memindai wajah pengguna selama 20–30 detik. Sistem kemudian mengolah hasil pemindaian untuk memperkirakan sejumlah indikator kondisi tubuh.
Teknologi tersebut diklaim mampu menganalisis komposisi tubuh, indikator kardiovaskular, kondisi fisiologis, hingga tingkat stres seseorang.
Rencana penerapannya juga mencakup integrasi hasil pemindaian dengan rekam medis rumah sakit. Selanjutnya, pasien dapat memperoleh tindak lanjut melalui konsultasi bersama dokter.
Meski demikian, Osa menegaskan Allegra hanya berfungsi sebagai sarana penapisan awal. Teknologi tersebut tidak menggantikan pemeriksaan medis konvensional maupun Medical Check Up (MCU).
Karena itu, rumah sakit tetap menempatkan pemeriksaan dokter sebagai bagian penting dalam menentukan kondisi kesehatan pasien.
Aspek Hukum dan Keselamatan Pasien Menjadi Perhatian
Selain akurasi teknologi, Andi Harun meminta kejelasan mengenai aspek kerja sama bisnis antara rumah sakit dan perusahaan penyedia Allegra.
Ia ingin mengetahui mekanisme pembagian hasil serta tanggung jawab hukum apabila muncul keluhan atau kesalahan hasil pemeriksaan. Kejelasan tersebut penting untuk melindungi masyarakat sekaligus memberikan kepastian bagi rumah sakit.
Andi Harun juga mengingatkan bahwa pengelolaan layanan kesehatan harus mengikuti ketentuan perundang-undangan. Ia merujuk Pasal 193 Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan yang mengatur tanggung jawab rumah sakit sebagai penyelenggara fasilitas pelayanan kesehatan.
Dengan demikian, kerja sama pemanfaatan teknologi AI tidak boleh hanya mempertimbangkan aspek bisnis. Rumah sakit juga harus memastikan perlindungan pasien dan mekanisme pertanggungjawaban apabila terjadi persoalan.
Pemkot Samarinda Buka Peluang Inovasi AI
Meski meminta verifikasi menyeluruh, Andi Harun menegaskan Pemerintah Kota Samarinda tetap membuka peluang pemanfaatan AI untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan.
Menurutnya, perkembangan teknologi dapat mendukung deteksi dini dan memperluas akses masyarakat terhadap informasi kesehatan. Namun, setiap inovasi harus memenuhi standar keselamatan, ketentuan hukum, dan pembuktian ilmiah.
Pemerintah karena itu meminta seluruh dokumen dan aspek teknis Allegra mendapat pemeriksaan sebelum teknologi tersebut diterapkan kepada masyarakat.
Langkah ini menjadi bagian dari upaya menjaga keseimbangan antara perkembangan teknologi medis dan tanggung jawab pelayanan kesehatan. Pemkot Samarinda ingin memastikan inovasi digital memberikan manfaat nyata tanpa mengabaikan akurasi pemeriksaan serta keselamatan pasien.
(Redaksi)




