
El-Sayed, 42, menyampaikan sindiran terbuka kepada Vance setelah hasil pemilihan menunjukkan keunggulannya atas Mike Rogers, kandidat yang mendapat dukungan Trump. Di hadapan para pendukungnya, ia menyinggung kewajiban konstitusional wakil presiden untuk memimpin pelantikan anggota Senat.
“JD, habibi, ada sesuatu yang cukup ironis. Konstitusi justru menempatkan Anda pada posisi untuk melantik saya sebagai senator pada Januari mendatang,” kata El-Sayed.
Pernyataan tersebut mengundang sorakan para pendukungnya. El-Sayed kemudian mengarahkan sindirannya kepada Trump, yang sebelumnya mengejek nama dan identitas dirinya.
Abdul El-Sayed Balas Ejekan Trump dan JD Vance
Perseteruan El-Sayed dengan Trump dan Vance mengemuka selama masa kampanye pemilihan paruh waktu Amerika Serikat. Keduanya melontarkan sejumlah pernyataan yang menyasar latar belakang nama, identitas keagamaan, serta pandangan politik El-Sayed.
Trump bahkan menyebut El-Sayed sebagai seorang “jihadis”. Presiden AS itu juga mengejek namanya dan menyatakan memiliki kebebasan untuk memanggil mantan pejabat kesehatan masyarakat tersebut dengan sebutan apa pun.
Sementara itu, Vance menggunakan istilah “psikopat” untuk menggambarkan politikus Demokrat tersebut. Serangan verbal itu kemudian menjadi bagian dari dinamika politik menjelang pemungutan suara di Michigan.
Namun, hasil pemilihan justru memberikan kemenangan kepada El-Sayed. Ia kemudian memanfaatkan momentum pidato kemenangan untuk merespons ejekan yang sebelumnya menyerangnya.
Kepada Trump, El-Sayed menyampaikan bahwa presiden tersebut tidak perlu bersusah payah melafalkan namanya. Ia cukup menggunakan sebutan senator setelah pelantikan pada Januari 2027.
“Donald, saya memahami bahwa nama saya mungkin sulit Anda ucapkan. Karena itu, setelah JD melantik saya nanti, cukup panggil saya Senator. Saya berharap Michigan tidak perlu lagi menghadapi kepemimpinan seperti Anda,” ujar El-Sayed.
Kemenangan El-Sayed Catat Sejarah Muslim di Senat AS
Kemenangan atas Mike Rogers menjadi pencapaian penting dalam perjalanan politik El-Sayed. Hasil tersebut menjadikannya politikus Muslim pertama yang terpilih sebagai anggota Senat Amerika Serikat, berdasarkan informasi dalam bahan berita.
Pencapaian itu juga memiliki makna politik di tengah kampanye yang berlangsung dengan perdebatan mengenai identitas keagamaan dan kebijakan luar negeri Amerika Serikat.
Selama kampanye, El-Sayed menghadapi kritik karena pandangannya yang menentang keterlibatan militer Amerika Serikat di Timur Tengah. Ia juga menyuarakan penolakan terhadap dukungan Washington kepada Israel.
Isu tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam persaingan politik di Michigan. Meski menghadapi serangan personal, El-Sayed tetap mempertahankan pesan kampanyenya hingga berhasil memenangkan pemilihan.
Kemenangannya sekaligus memperlihatkan bahwa isu identitas dan perbedaan pandangan politik menjadi bagian dari persaingan dalam pemilu tersebut.
Pesan El-Sayed kepada Keluarga Muslim Amerika
Dalam pidato kemenangan, El-Sayed juga menyampaikan pesan kepada keluarga yang selama ini menghadapi kesulitan menjelaskan diskriminasi kepada anak-anak mereka.
Ia menyoroti bagaimana seorang presiden secara terbuka mengejek seseorang karena nama dan cara orang tersebut menjalankan keyakinannya.
El-Sayed kemudian mengajak para orang tua menjadikan hasil pemilihan sebagai pesan bahwa serangan berbasis identitas tidak selalu menentukan hasil politik.
“Kepada para orang tua yang kesulitan menjelaskan kepada anak-anak mengapa seorang presiden mengejek seseorang karena nama atau cara berdoanya, katakan kepada mereka bahwa pihak yang menyebarkan kebencian akhirnya mengalami kekalahan,” ungkapnya.
Pernyataan tersebut menjadi salah satu pesan utama El-Sayed setelah memenangkan kontestasi di Michigan.
Kemenangan ini sekaligus membuka babak baru perjalanan politiknya di tingkat federal. Setelah pelantikan pada Januari 2027, El-Sayed akan menjalankan tugas sebagai anggota Senat Amerika Serikat di tengah dinamika politik nasional yang masih diwarnai perbedaan pandangan mengenai identitas, kebijakan luar negeri, dan kehidupan masyarakat Muslim.
(Redaksi)

