Internasional

AS Perketat Tekanan ke Venezuela, China Ambil Sikap Hati Hati

IDENESIA.CO – Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Venezuela kembali meningkat, sementara China memilih bersikap hati-hati dan menahan diri dari dukungan material terbuka kepada Caracas. Sikap Beijing tersebut memunculkan sorotan internasional, mengingat hubungan strategis China–Venezuela yang telah terjalin selama bertahun-tahun dan eskalasi militer AS yang semakin agresif di kawasan Amerika Latin.

Situasi memanas setelah Amerika Serikat memberlakukan blokade terhadap kapal-kapal tanker minyak Venezuela yang terkena sanksi. Langkah Washington itu memicu kekhawatiran akan meluasnya konflik, tidak hanya di kawasan Amerika Selatan, tetapi juga dalam dinamika global yang melibatkan kekuatan besar dunia.

China Pilih Dukungan Verbal untuk Venezuela

China hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda akan memberikan bantuan konkret kepada Venezuela. Sikap tersebut terlihat dari pernyataan resmi Beijing usai percakapan telepon antara Menteri Luar Negeri China Wang Yi dan Menteri Luar Negeri Venezuela Yvan Gil.

Dalam pernyataan itu, China hanya menyampaikan dukungan politik dan diplomatik kepada Venezuela tanpa menyebutkan bentuk bantuan ekonomi atau militer. Beijing menegaskan hubungan kedua negara sebagai “mitra strategis”, namun tetap menghindari komitmen yang dapat memicu konfrontasi langsung dengan Amerika Serikat.

“China menentang semua bentuk perundungan sepihak dan mendukung negara-negara dalam membela kedaulatan serta martabat nasional mereka,” kata Wang Yi dalam pernyataan resmi yang dikutip media internasional, Kamis (18/12/2025).

Pernyataan tersebut tidak secara eksplisit menyebut Amerika Serikat maupun Presiden Donald Trump. Namun, absennya penyebutan langsung justru menegaskan kehati-hatian Beijing dalam merespons situasi yang berkembang.

Dilema Beijing di Tengah Persaingan Global

Sikap China mencerminkan dilema strategis yang dihadapi Beijing. Di satu sisi, China memiliki hubungan ekonomi dan politik yang erat dengan Venezuela. Selama bertahun-tahun, Beijing telah mengucurkan pinjaman senilai puluhan miliar dolar AS kepada Caracas, yang sebagian besar dibayar melalui ekspor minyak.

Di sisi lain, China berupaya menjaga stabilitas hubungan dengan Amerika Serikat, terutama di tengah ketegangan perdagangan yang kembali mencuat. Perselisihan kedua negara meliputi isu tarif, logam tanah jarang, teknologi chip canggih, hingga tudingan peran China dalam rantai produksi fentanil.

Beijing tampak berhitung agar dukungan kepada Venezuela tidak memicu eskalasi konflik ekonomi baru dengan Washington. Dalam konteks itu, China memilih jalur diplomasi dan pernyataan normatif, sambil tetap membuka ruang komunikasi dengan Amerika Serikat.

AS Tingkatkan Tekanan Militer dan Ekonomi

Sementara China menahan langkah, Amerika Serikat justru meningkatkan tekanannya terhadap Venezuela. Pemerintahan Presiden Donald Trump menegaskan kembali kebijakan blokade terhadap kapal-kapal tanker minyak Venezuela yang berada di bawah sanksi AS.

Trump mengaitkan kebijakan tersebut dengan klaim kerugian perusahaan minyak Amerika Serikat akibat nasionalisasi sektor energi Venezuela. Ia juga menuntut Caracas mengembalikan aset-aset yang disita dari perusahaan AS bertahun-tahun lalu.

“Kami tidak akan membiarkan siapa pun lewat yang seharusnya tidak lewat,” kata Trump kepada wartawan.

Trump juga menuding Venezuela mengambil alih hak energi milik perusahaan Amerika secara ilegal. Tuduhan itu kembali membuka luka lama hubungan kedua negara, yang memburuk sejak Venezuela menasionalisasi industri minyaknya pada era 1970-an dan diperkuat pada masa kepemimpinan Hugo Chávez serta Nicolás Maduro.

Sengketa Minyak dan Warisan Nasionalisasi

Perusahaan minyak Amerika Serikat pernah mendominasi industri perminyakan Venezuela hingga pemerintah Caracas mengambil alih sektor tersebut. Proses nasionalisasi itu memicu sengketa panjang, termasuk gugatan hukum internasional.

Pada 2014, sebuah panel arbitrase internasional memerintahkan pemerintah Venezuela membayar kompensasi sebesar 1,6 miliar dolar AS kepada ExxonMobil. Putusan tersebut menjadi salah satu dasar klaim Washington terkait kerugian investasi di Venezuela.

Meski isu minyak menjadi akar konflik, pemerintahan Trump kini menyoroti tudingan lain yang lebih serius, yakni dugaan keterlibatan pemerintah Venezuela dalam jaringan perdagangan narkoba internasional.

Tuduhan Narkoba dan Eskalasi Militer AS

Amerika Serikat menuduh pemerintahan Presiden Nicolás Maduro memfasilitasi pengiriman narkotika berbahaya ke wilayah AS. Tuduhan tersebut berulang kali dibantah oleh Caracas.

Dalam unggahan media sosial, Trump menuding Venezuela menggunakan pendapatan minyak untuk mendanai perdagangan narkoba dan kejahatan lintas negara. Maduro menolak tudingan tersebut dan menyebut kebijakan AS sebagai bentuk agresi.

Ketegangan meningkat setelah pasukan AS menyita sebuah kapal tanker minyak di lepas pantai Venezuela. Maduro menyebut penyitaan itu sebagai tindakan “pembajakan” dan pelanggaran hukum internasional.

Militer AS juga melancarkan serangkaian operasi terhadap kapal-kapal yang dicurigai mengangkut narkoba di Laut Karibia dan Samudra Pasifik bagian timur. Serangan-serangan tersebut dilaporkan menewaskan sedikitnya 99 orang, termasuk empat orang dalam satu serangan terbaru.

Jalur Diplomasi Masih Terbuka

Di tengah meningkatnya ketegangan, sinyal diplomasi tetap muncul. Presiden China Xi Jinping dan Presiden AS Donald Trump dilaporkan saling bertukar undangan untuk kunjungan kenegaraan pada tahun depan. Langkah itu menunjukkan kedua negara masih berupaya menjaga jalur komunikasi tetap terbuka.

China juga menyatakan dukungannya terhadap permintaan Venezuela untuk menggelar pertemuan darurat Dewan Keamanan PBB guna membahas situasi blokade dan eskalasi militer di kawasan tersebut.

Namun, dengan tekanan AS yang terus meningkat dan sikap hati-hati China, konflik Venezuela kini berada di persimpangan berbahaya. Banyak pengamat menilai ketegangan ini berpotensi memicu eskalasi yang lebih luas jika tidak segera diredam melalui jalur diplomasi internasional.

(Redaksi)

Show More
Back to top button