Internasional

AS Persiapkan Aksi Militer, Blokade di Selat Hormuz Untuk Kontrol Total

IDENESIA.CO – Pemerintah Amerika Serikat kini tengah Persiapkan Aksi Militer besar-besaran di kawasan Timur Tengah setelah jalur diplomasi dengan Iran menemui jalan buntu. Langkah drastis ini mencakup rencana blokade total di Selat Hormuz untuk merebut kendali atas jalur distribusi energi dunia. Washington menilai tindakan ini perlu guna mengakhiri dominasi sepihak Iran yang telah mengganggu stabilitas pasar minyak global selama beberapa pekan terakhir.

Ketegangan mencapai titik puncak setelah perundingan damai di Pakistan gagal membuahkan kesepakatan apa pun. Amerika Serikat menuding Iran tidak memiliki niat baik untuk menurunkan tensi konflik bersenjata. Sebagai respons, Gedung Putih segera memerintahkan Angkatan Laut untuk mengambil posisi strategis. Mereka akan menutup akses keluar-masuk perairan Selat Hormuz bagi seluruh kapal yang terafiliasi dengan rezim Teheran mulai awal pekan ini.

Strategi Washington Persiapkan Aksi Militer di Jalur Energi

Pihak Pentagon menyatakan bahwa mereka sedang Persiapkan Aksi Militer yang terukur namun sangat mematikan. Fokus utama operasi ini adalah melumpuhkan kemampuan Iran dalam menarik biaya transit ilegal dan memblokir kapal-kapal Barat. Sebelumnya, Iran mewajibkan pembayaran biaya transit menggunakan mata uang nasional mereka. Hal tersebut memicu kemarahan Amerika Serikat dan sekutunya karena dianggap sebagai pemerasan ekonomi di perairan internasional.

Presiden Amerika Serikat secara terbuka mengonfirmasi bahwa armada tempur mereka sudah bergerak menuju koordinat yang ditentukan. Ia menegaskan bahwa kekuatan militer Washington merupakan yang terbaik di dunia dan siap menjalankan tugas ini tanpa ragu. Presiden juga menjamin bahwa blokade ini akan berjalan secara adil bagi negara-negara yang tidak mendukung agresi Iran di kawasan tersebut.

“Berlaku segera, Angkatan Laut Amerika Serikat akan memulai proses pemblokadean terhadap setiap dan seluruh kapal yang mencoba masuk, atau keluar, dari Selat Hormuz,” ujar Trump melalui platform Truth Social, sebagaimana melansir laporan AFP, Minggu (12/4/2026).

Operasi ini juga bertujuan untuk membersihkan ranjau-ranjau laut yang diduga kuat telah Iran tebar di sepanjang jalur pelayaran. Trump memperingatkan bahwa setiap upaya perlawanan dari pihak lawan akan mendapat balasan yang sangat keras. “Setiap orang Iran yang menembak ke arah kami, atau ke arah kapal-kapal damai, akan diledakkan sampai hancur!” tegas sang Presiden dalam pernyataan lanjutannya.

Dampak Kegagalan Diplomasi di Pakistan Terhadap Keamanan Global

Amerika Serikat memilih Persiapkan Aksi Militer karena menganggap Iran telah menyia-nyiakan kesempatan damai di Islamabad. Perundingan yang melibatkan delegasi tingkat tinggi dari kedua negara tersebut berakhir dengan aksi saling tuduh. Iran menolak tuntutan AS untuk menghentikan kampanye pengeboman, sementara AS menolak syarat-syarat ekonomi yang Iran ajukan. Kegagalan ini seketika mengakhiri gencatan senjata singkat yang sempat berlangsung selama dua minggu.

Selama masa perundingan, harga minyak dunia sempat mengalami fluktuasi yang sangat tajam. Blokade yang Iran lakukan sebelumnya telah memicu gangguan logistik global secara masif. Biaya pengiriman barang naik berkali-kali lipat karena kapal kargo harus mencari rute alternatif yang lebih jauh dan mahal. Hal inilah yang mendorong Washington untuk mengambil alih kontrol perairan tersebut melalui kekuatan senjata.

Ketua parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, memberikan tanggapan sinis sekembalinya dari Pakistan. Ia menyatakan bahwa delegasi Iran telah mencoba menawarkan argumen logis namun Amerika Serikat tetap memilih jalur pemaksaan. Ghalibaf menegaskan bahwa negaranya memiliki tekad baja untuk mempertahankan kedaulatan wilayah Selat Hormuz dari campur tangan asing.

Iran Siagakan Garda Revolusi Hadapi Langkah Amerika Serikat

Mengetahui Amerika Serikat sedang Persiapkan Aksi Militer, pihak Teheran tidak tinggal diam. Mereka segera menyiagakan komando angkatan laut Garda Revolusi di sepanjang pesisir Teluk Oman. Iran mengklaim bahwa Selat Hormuz berada di bawah kedaulatan penuh mereka secara hukum internasional. Mereka memperingatkan bahwa setiap kapal asing yang masuk tanpa izin akan menghadapi konsekuensi fatal.

“Seluruh lalu lintas di wilayah ini berada di bawah kendali penuh angkatan bersenjata kami,” tulis pernyataan resmi Garda Revolusi melalui kantor berita AFP. Mereka menambahkan bahwa musuh akan masuk ke dalam “pusaran mematikan” jika berani melakukan manuver fisik di wilayah tersebut. Ancaman ini menunjukkan bahwa potensi perang terbuka di laut kini berada di depan mata.

Di sisi lain, Komando Pusat AS (CENTCOM) mengumumkan bahwa blokade versi Amerika akan mulai berlaku pada hari Senin pukul 14.00 GMT. Blokade ini menyasar seluruh pelabuhan utama Iran di Teluk Arab. AS ingin memastikan tidak ada satu pun barel minyak Iran yang dapat keluar untuk membiayai operasional militer mereka. Pengawasan ketat ini akan melibatkan pesawat pengintai dan kapal perusak berkekuatan nuklir.

Masa Depan Ekonomi Dunia di Tengah Blokade Militer

Langkah AS yang Persiapkan Aksi Militer ini tentu membawa risiko besar bagi ekonomi dunia. Selat Hormuz merupakan urat nadi energi bagi banyak negara di Asia dan Eropa. Sekitar 20 juta barel minyak melintasi jalur ini setiap harinya dalam kondisi normal. Jika blokade ini berlangsung lama, dunia mungkin akan menghadapi krisis energi yang jauh lebih parah daripada dekade sebelumnya.

Namun, Washington berargumen bahwa aksi militer ini justru bertujuan untuk “membersihkan” selat tersebut dari kontrol ilegal Iran. Mereka berjanji akan segera membuka kembali pelayaran internasional setelah pengaruh militer Iran berhasil mereka lumpuhkan. Amerika Serikat mengklaim tindakan ini adalah demi kepentingan kebebasan navigasi global yang selama ini terancam oleh kebijakan Teheran.

Dua kapal perang Amerika Serikat kabarnya telah melintasi selat tersebut pada fase awal operasi. Mereka sedang melakukan pemindaian ranjau untuk memastikan jalur aman bagi armada tambahan yang akan menyusul. Presiden Trump menutup pernyataannya dengan ancaman bahwa pasukan AS akan menghabisi sisa-sisa kekuatan Iran jika mereka terus menghalangi operasi tersebut. Kini, mata dunia tertuju pada hari Senin mendatang untuk melihat apakah blokade ini akan memicu ledakan konflik yang lebih besar.

(Redaksi)

Show More
Back to top button