IDENESIA.CO – Pemerintah federal Australia mengalokasikan dana segar senilai belasan juta dolar untuk menyelamatkan program pengajaran bahasa Indonesia di negaranya. Anggota Parlemen Australia, Tim Watts, mengumumkan langsung kebijakan tersebut melalui akun media sosial resminya. Langkah strategis ini bertujuan untuk menguatkan hubungan diplomatik sekaligus mencegah kepunahan pengajaran bahasa sekunder tersebut di sekolah-sekolah Australia.
Pemerintah Alokasikan Ratusan Miliar Rupiah
Tim Watts menjelaskan bahwa pemerintah Australia sepakat menyuntikkan dana sebesar AUD 11,4 juta atau sekitar Rp 145 miliar untuk pendidikan bahasa Indonesia. Anggaran tersebut masuk ke dalam paket besar senilai AUD 33,2 juta untuk menyokong implementasi Perjanjian Keamanan Bersama Australia-Indonesia. Kerja sama pertahanan dan keamanan ini lahir dari kesepakatan antara Presiden Prabowo Subianto dan Perdana Menteri Anthony Albanese pada Februari lalu.
Melalui unggahan video, legislator tersebut sempat menarik perhatian netizen karena menggunakan jargon lokal saat mengumumkan kepastian dana kerja sama ini. Anggota parlemen tersebut menulis istilah ‘oke gas’ sebagai padanan kata dari ajakan untuk bergerak maju bersama.
“Anggaran Federal menyatakan ‘Oke Gas!’ atau ‘Ayo kita mulai’ untuk memacu keterlibatan Australia dengan tetangga, mitra, dan sahabat kita, yaitu Indonesia,” kata Watts melalui akun media sosialnya.
Cegah Kepunahan Bahasa Indonesia di Kampus Australia
Watts menegaskan bahwa kebijakan ini bersifat mendesak demi masa depan pemahaman kebudayaan antarnegara. Ia melihat ada penurunan drastis jumlah sekolah dan kampus di Australia yang membuka kelas bahasa Indonesia. Pemerintah menyadari bahwa tanpa adanya suntikan dana khusus, program edukasi ini terancam hilang dalam waktu dekat.
“Australia tidak memiliki mitra yang lebih penting daripada Indonesia, dan warga kami harus memahami negara tersebut. Tanpa adanya intervensi finansial, pengajaran bahasa Indonesia di Australia akan punah pada masa jabatan Parlemen berikutnya,” ucap Watts dalam pernyataan tertulisnya.
Ia juga menambahkan bahwa hubungan bilateral kedua negara sekarang sudah menginjak fase baru yang lebih solid. Oleh karena itu, masyarakat Australia perlu memperdalam penguasaan bahasa mitra strategis mereka tersebut.
“Sangat jelas bahwa Australia harus memahami Indonesia lebih dari mitra lainnya. Alasan itulah yang membuat pemerintahan Albanese mengalokasikan AUD 33,2 juta untuk mendukung implementasi Perjanjian Keamanan Bersama Australia-Indonesia. Nilai tersebut mencakup AUD 11,4 juta untuk memperkuat pendidikan bahasa Indonesia, serta AUD 3,4 juta untuk mendanai Dialog Kepemimpinan Australia-Indonesia,” tutur Watts.
Tambah Beasiswa dan Perkuat Hubungan Pemuda
Selain memberikan bantuan dana operasional sekolah, pemerintah Australia juga menyiapkan skema bantuan finansial langsung untuk para pelajar. Mereka menyediakan tambahan beasiswa agar para murid Australia bisa menetap dan belajar bahasa langsung di wilayah Indonesia. Program ini menjadi instrumen investasi jangka panjang untuk mencetak ahli-ahli bahasa baru yang kompeten.
Watts kemudian membagikan pengalaman pribadinya saat melakukan kunjungan kerja ke Kota Solo, Jawa Tengah. Ia menilai kunjungan ke daerah asal para pemimpin nasional Indonesia tersebut memberikan perspektif baru yang sangat berharga bagi delegasi Australia.
“Bulan lalu, saya mendatangi Indonesia bersama Wakil Pimpinan Senat, Richard Colbeck, dalam kelompok mitra Parlemen Indonesia. Kami mengunjungi Solo yang merupakan pusat politik dan kebudayaan di Jawa Tengah. Kota tersebut merupakan daerah asal Presiden terdahulu, Jokowi, serta Wakil Presiden saat ini, Gibran, yang mana mereka berdua merupakan mantan wali kota di sana. Kami membangun dialog dengan para pemimpin muda, termasuk Wali Kota Respati Ardi dan Pangeran Mangkunegara X,” jelas Watts mengenai kunjungannya.
Sebelum mengakhiri penjelasannya, Watts kembali mengingatkan pesan penting dari sejarah diplomasi kedua negara. Ia mengutip pidato kenegaraan Presiden ke-7 Republik Indonesia di Canberra beberapa tahun lalu sebagai landasan kebersamaan.
“Seperti pernyataan Presiden Indonesia terdahulu, Jokowi, di tempat ini pada tahun 2020 bahwa ‘Australia adalah sahabat paling dekat Indonesia’. Pada tahun ini pendanaan federal telah menyatakan ‘Oke gas’ atau ‘Let’s Go’ untuk meningkatkan hubungan dengan tetangga dan teman kita, Indonesia,” pungkas Watts.
(Redaksi

