
IDENESIA.CO – Majelis Ahli Iran resmi menunjuk Ayatollah Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Iran untuk menggantikan mendiang ayahnya. Keputusan besar ini muncul melalui pernyataan resmi Majelis Pakar Iran yang beranggotakan 88 ulama senior. Penunjukan putra kedua Ali Khamenei tersebut terjadi di tengah situasi keamanan yang sangat genting setelah serangan militer mengguncang wilayah Teheran.
Pihak Majelis Pakar mengonfirmasi bahwa pemilihan Ayatollah Mojtaba Khamenei berdasarkan hasil suara yang menentukan. Badan ulama tersebut kini mendesak seluruh elemen rakyat Iran, mulai dari kalangan intelektual hingga elit universitas, untuk menyatakan kesetiaan mereka. Langkah ini bertujuan untuk menjaga persatuan nasional di masa transisi kekuasaan yang krusial ini.
Profil dan Rekam Jejak Ayatollah Mojtaba Khamenei
Lahir pada tahun 1969 di kota suci Mashhad, Ayatollah Mojtaba Khamenei tumbuh besar dalam lingkungan politik dan agama yang kental. Ia belajar di bawah bimbingan para ulama konservatif di Qom, pusat pembelajaran ajaran Syiah yang paling terpandang. Meskipun jarang tampil di depan publik, ia memiliki pengaruh yang sangat besar di lingkaran dalam pemerintahan Iran selama puluhan tahun.
Selama ini, pria berusia 57 tahun tersebut lebih banyak bergerak di balik layar tanpa memegang posisi formal di pemerintahan. Namun, ia memiliki hubungan yang sangat erat dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Kedekatan ini bermula saat ia bergabung dengan Batalyon Habib dalam Perang Iran-Irak pada dekade 1980-an. Koneksi militer yang kuat ini menjadi modal utama bagi faksi garis keras untuk mempertahankan stabilitas kekuasaan di Iran.
Berbeda dengan ayahnya, Mojtaba tidak pernah mengikuti proses pemungutan suara publik atau pemilihan umum. Ia merupakan sosok yang sangat tertutup dan hampir tidak pernah memberikan khotbah Jumat atau pidato politik secara terbuka. Karakter misterius ini membuat banyak warga Iran jarang mendengar suaranya secara langsung di media massa.
Tantangan Kepemimpinan dan Sorotan Internasional
Penunjukan Ayatollah Mojtaba Khamenei memicu perdebatan sensitif mengenai sistem kepemimpinan di Republik Islam tersebut. Sejumlah pihak menilai langkah ini menciptakan kesan sistem dinasti yang mirip dengan era monarki sebelum Revolusi Islam 1979. Selain itu, status keagamaannya juga mendapatkan sorotan tajam karena ia sebelumnya menyandang gelar Hojtoleslam atau ulama tingkat menengah.
Kubu reformis sering mengaitkan nama Mojtaba dengan tindakan keras terhadap aksi protes di dalam negeri. Mereka menudingnya berperan dalam penumpasan Gerakan Hijau pada tahun 2009 serta operasi pasukan Basij dalam meredam protes nasional beberapa bulan lalu. Di ranah internasional, Amerika Serikat dan negara-negara Barat telah memasukkan namanya ke dalam daftar sanksi ekonomi.
Laporan media Barat menuduh Mojtaba mengelola aset ekonomi bernilai miliaran dolar melalui jaringan internal yang luas. Namanya juga sempat muncul dalam keterkaitan dengan skandal perbankan yang memicu inflasi hebat di negara tersebut. Saat ini, pemerintah Iran masih memberlakukan pembatasan arus informasi dan pemadaman internet nasional seiring dengan kampanye militer yang terus berlangsung di wilayah mereka.
(Redaksi)




