Nasional

BNPB Kerahkan Operasi Modifikasi Cuaca, Lima Provinsi Masih Jadi Prioritas Karhutla

IDENESIA.CO – Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia kini berfokus pada lima provinsi, dengan upaya pengendalian titik api berjalan beriringan dengan penanganan kabut asap. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat Riau keluar dari daftar prioritas setelah tidak lagi menemukan titik api di wilayah tersebut, sedangkan Sumatera Selatan dan Jambi masih mencatat kenaikan titik api.

Kepala BNPB Letjen Kristomei Sianturi menyampaikan perkembangan itu pada Jumat, 23/10/2026. Ia juga melaporkan penyemaian 3.900 kilogram dry ice di Kalimantan Tengah dan Sumatera Selatan, yang menurut laporannya diikuti peningkatan jarak pandang di Palembang.

Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa penanganan karhutla tidak hanya menyasar sumber kebakaran. Pemerintah juga berupaya mengurangi dampak asap yang dapat mengganggu aktivitas masyarakat dan menurunkan kualitas udara.

Lima Provinsi Masih Menjadi Prioritas Penanganan Karhutla

BNPB menetapkan Kalimantan Tengah, Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, Jambi, dan Kalimantan Barat sebagai lima provinsi prioritas penanganan karhutla. Sebelumnya, lembaga tersebut memasukkan enam provinsi dalam daftar pemantauan prioritas.

Kristomei menjelaskan bahwa BNPB mengeluarkan Riau dari daftar setelah kondisi titik api di wilayah itu menunjukkan perkembangan positif.

“Riau sudah kami keluarkan dari daftar prioritas karena saat ini tidak ada lagi titik api yang terpantau di sana,” ujar Kristomei.

Perubahan tersebut mengurangi jumlah provinsi prioritas dari enam menjadi lima. Meski demikian, BNPB tetap perlu memantau perkembangan kondisi di setiap wilayah karena situasi kebakaran dapat berubah mengikuti kondisi cuaca dan lingkungan.

Kristomei sebelumnya memaparkan perkembangan penanganan karhutla dalam sidang kabinet paripurna dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Dalam forum tersebut, ia menjelaskan kondisi terkini dan langkah pemerintah menangani kebakaran di sejumlah daerah.

Titik Api Sumsel dan Jambi Masih Naik

Di tengah berkurangnya jumlah provinsi prioritas, BNPB masih menghadapi perkembangan titik api di Sumatera Selatan dan Jambi. Kristomei menyebut kenaikan di kedua provinsi tersebut belum terlalu signifikan, tetapi pemantauan tetap berlanjut.

BNPB berkoordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta sejumlah unsur pemerintah untuk mengikuti perkembangan karhutla. Lembaga tersebut juga melakukan kunjungan lapangan ke Sumatera Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan guna melihat pelaksanaan operasi secara langsung.

Menurut Kristomei, koordinasi dan pemeriksaan lapangan membantu BNPB mengikuti kondisi terkini sekaligus memantau pelaksanaan penanganan di wilayah terdampak.

“Kenaikan titik api di Sumatera Selatan dan Jambi memang belum terlalu signifikan. Namun, kami tetap berkoordinasi dengan BMKG dan memeriksa langsung pelaksanaan operasi karhutla di lapangan,” kata Kristomei.

BNPB Laporkan Penyemaian 3,9 Ton Dry Ice

Selain memantau titik api, BNPB melaporkan upaya penanganan kabut asap melalui penyemaian dry ice atau es kering. Berdasarkan keterangan Kristomei, petugas menyemai 3.100 kilogram bahan tersebut di Kalimantan Tengah melalui lima sorti penerbangan sejak 20 Oktober 2026.

Sementara itu, tim di Sumatera Selatan menyemai 800 kilogram melalui satu sorti penerbangan. Dengan demikian, total bahan yang dilaporkan mencapai 3.900 kilogram atau 3,9 ton.

Kristomei menyampaikan bahwa operasi tersebut diikuti penurunan konsentrasi PM2,5 dan peningkatan jarak pandang di Palembang. Ia melaporkan jarak pandang meningkat dari 700 meter menjadi 7.000 meter.

“Di Palembang, jarak pandang meningkat dari 700 meter menjadi 7.000 meter, sementara konsentrasi PM2,5 mengalami penurunan,” terang Kristomei.

PM2,5 merupakan partikel polutan berukuran sangat kecil yang dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan. Ketika kebakaran menghasilkan asap, konsentrasi partikel ini menjadi salah satu indikator penting untuk memantau kualitas udara dan potensi paparan terhadap masyarakat.

Pemantauan Berlanjut di Lima Provinsi

BNPB masih memusatkan penanganan karhutla di lima provinsi, meskipun perkembangan titik api menunjukkan kondisi berbeda di setiap wilayah. Riau keluar dari daftar prioritas, sedangkan Sumatera Selatan dan Jambi tetap menjadi perhatian karena kenaikan titik api.

Di sisi lain, laporan penyemaian dry ice menunjukkan bahwa BNPB juga menjalankan upaya untuk mengurangi dampak kabut asap. Pemantauan kualitas udara dan pelaksanaan operasi lapangan menjadi bagian penting dalam menilai perkembangan penanganan.

BNPB belum mengumumkan perubahan lebih lanjut terhadap daftar lima provinsi prioritas tersebut dalam bahan informasi yang tersedia. Perkembangan berikutnya bergantung pada pemantauan kondisi kebakaran dan hasil operasi di masing-masing wilayah.

(Redaksi)

Show More
Back to top button