Internasional

Daftar Negara Paling Tidak Aman Jika Perang Dunia III Pecah, Simak Risikonya

IDENESIA.CO – Ketegangan geopolitik global yang terus memanas memicu kekhawatiran masyarakat internasional mengenai potensi konflik berskala besar. Banyak pengamat militer kini mulai memetakan daftar negara paling tidak aman jika Perang Dunia III pecah di tengah krisis yang melibatkan kekuatan nuklir dunia. Situasi ini memburuk seiring dengan pergerakan militer Amerika Serikat, Rusia, hingga China yang semakin agresif di berbagai kawasan strategis.

Timur Tengah Menjadi Titik Api Perang Dunia III

Timur Tengah menempati posisi teratas dalam daftar negara paling tidak aman jika Perang Dunia III pecah. Eskalasi ini meningkat setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengirim Kelompok Tempur Kapal Induk USS Abraham Lincoln menuju Iran. Langkah Washington ini memicu reaksi keras dari Teheran yang mengancam akan membalas setiap serangan militer.

Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, menegaskan bahwa pasukannya siap menyerang pangkalan militer AS dan wilayah Israel. Kondisi ini menempatkan Israel dan Iran dalam risiko konflik langsung yang sangat tinggi. Para peneliti dari Universitas Cambridge menilai bahwa melemahnya jaringan proksi seperti Hizbullah justru mendorong Iran mengambil langkah konfrontatif yang lebih ekstrem.

Risiko Benturan Nuklir Rusia dan Blok NATO

Rusia dan negara-negara anggota NATO juga masuk dalam daftar negara paling tidak aman jika Perang Dunia III pecah. Presiden Vladimir Putin terus meningkatkan produksi rudal hipersonik yang mampu menjangkau seluruh daratan Eropa hingga Amerika Serikat. Moskwa bahkan secara rutin menguji pertahanan udara di wilayah Baltik, Rumania, dan Polandia yang memicu kesiagaan tempur tingkat tinggi.

Menanggapi ancaman tersebut, negara-negara seperti Estonia, Finlandia, dan Polandia memperkuat perbatasan mereka dengan membangun sabuk pertahanan Baltik. Analis geopolitik menyebut bahwa retorika perang di kedua sisi Atlantik saat ini mencapai level yang lebih berbahaya daripada era Perang Dingin. Benturan langsung antara Rusia dan kekuatan Barat berpotensi menghancurkan stabilitas keamanan di belahan bumi utara secara permanen.

Krisis Taiwan dan Ancaman Invasi China

Asia Timur tidak luput dari daftar wilayah berisiko tinggi akibat ambisi Beijing terhadap Taiwan. China terus menggelar latihan militer besar-besaran dan simulasi blokade laut di Selat Taiwan. Banyak analis memprediksi bahwa Beijing mungkin akan meluncurkan invasi penuh pada tahun 2027 mendatang bertepatan dengan peringatan satu abad tentara mereka.

Keterlibatan Amerika Serikat dalam mendukung pertahanan Taiwan membuat kawasan ini menjadi medan tempur yang sangat mematikan. Jika konflik meletus, negara-negara tetangga seperti Jepang, Australia, dan Filipina akan terseret ke dalam pusaran perang. Teknologi pemotong kabel bawah laut milik China juga mengancam kelumpuhan akses internet global yang dapat menghancurkan ekonomi digital dunia dalam sekejap.

Ketegangan Nuklir di Semenanjung Korea

Semenanjung Korea melengkapi daftar negara paling tidak aman jika Perang Dunia III pecah akibat manuver Kim Jong Un. Korea Utara secara agresif meningkatkan produksi senjata nuklir taktis dan meluncurkan berbagai rudal balistik ke arah laut. Kim Jong Un juga telah meninggalkan gagasan penyatuan damai dengan Korea Selatan dan justru memilih mempererat kerja sama militer dengan Rusia.

Korea Selatan merespons ancaman ini dengan membatalkan pakta nonpermusuhan dan memperkuat aliansi pertahanan bersama Amerika Serikat. Keberadaan senjata nuklir di kedua sisi semenanjung menciptakan risiko kehancuran massal yang sulit dihindari. Para ahli memperingatkan bahwa dorongan dari pihak ketiga dapat memicu Korea Utara untuk membuka front pertempuran baru yang sangat menghancurkan.

Dampak Kelaparan Global Akibat Konflik Besar

Selain kehancuran fisik, perang nuklir membawa konsekuensi kemanusiaan yang sangat mengerikan bagi penduduk bumi. Studi dalam jurnal Nature Food mengungkapkan bahwa konflik besar dapat memicu runtuhnya sistem pangan dunia secara total. Sebanyak 6,7 miliar orang terancam mengalami kelaparan ekstrem akibat debu nuklir yang menghalangi sinar matahari dan merusak lahan pertanian di seluruh dunia.

Masyarakat internasional kini menanti langkah diplomasi nyata untuk meredam api konflik yang mulai menjalar di berbagai benua. Semua pihak berharap agar para pemimpin dunia mengutamakan dialog daripada memaksakan kehendak militer yang membahayakan peradaban. Tanpa deeskalasi segera, daftar wilayah rawan ini akan terus bertambah panjang seiring dengan meningkatnya ego politik global.

(Redaksi)

Show More
Back to top button