Sosok

Di Depan Prabowo, Kiai Hasan Tegaskan Gontor Pilih Pendidikan untuk Bangun Bangsa

IDENESIA.CO –  Pondok Modern Darussalam Gontor menegaskan komitmennya membangun Indonesia melalui jalur pendidikan. Pimpinan PMDG KH Hasan Abdullah Sahal menyampaikan pesan tersebut saat memberikan sambutan dalam resepsi kesyukuran 100 tahun Gontor di Ponorogo, Jawa Timur.

Di hadapan Presiden Prabowo Subianto, Kiai Hasan mengatakan Gontor tetap memilih pendidikan sebagai jalan untuk mendidik sekaligus membangun bangsa. Ia menyampaikan hal itu dengan gaya santai dan menyelipkan sejumlah guyonan yang mengundang tawa para tamu.

“Kami tetap memilih pendidikan. Bapak Presiden, saya… Saya tak (mau) ngomong agak ndak enak ya, Pak. Sorry yee,” kata Kiai Hasan.

Kiai Hasan Singgung Pesan Soekarno

Dalam sambutannya, Kiai Hasan juga mengutip pesan Presiden Soekarno mengenai pentingnya memahami sejarah. Namun, ia menilai Gontor tidak ingin sekadar melihat perjalanan masa lalu.

Menurutnya, generasi saat ini juga harus mampu mengambil peran dalam membentuk sejarah bangsa.

“Dulu Bapak Presiden Soekarno, jasmerah, jangan sekali-kali melupakan sejarah. Saya membaca buku, ‘Bergurulah pada Sejarah’. Gontor tidak puas. Cerdaslah menyikapi sejarah karena kita akan membangun sejarah. Tidak menyerah pada sejarah,” ujarnya.

Karena itu, Kiai Hasan menempatkan pendidikan sebagai salah satu cara Gontor berkontribusi bagi Indonesia.

Guyonan ‘Cari Muka’ di Depan Prabowo

Suasana acara semakin cair ketika Kiai Hasan menceritakan penantiannya terhadap kedatangan Prabowo ke Gontor.

Ia mengaku sudah lama memikirkan rencana kehadiran Prabowo. Kiai Hasan kemudian melontarkan guyonan mengenai istilah “cari muka”.

“Sejak Pak Prabowo ngomong sama saya September, September, September. Otak saya, Pak Prabowo, Pak Prabowo. Andaikata Pak Prabowo hari ini enggak datang, hah ini, muka saya, saya taruh di mana? Akhirnya saya harus cari muka,” tuturnya.

Kiai Hasan kemudian mengaitkan guyonan tersebut dengan berbagai kondisi yang menurutnya sering terjadi di masyarakat.

“Sekarang banyak orang yang cari muka, betul? Orang ndak punya ijazah, cari ijazah. Orang ndak punya nama, cari nama. Orang ndak punya uang, cari uang. Orang ndak punya jabatan, cari jabatan. Orang ndak punya muka, cari muka,” katanya.

Ucapan tersebut langsung mengundang tawa dan tepuk tangan dari para tamu.

Gontor Jadi Tempat Bertemunya Berbagai Latar Belakang

Selain membahas pendidikan, Kiai Hasan menyinggung keberagaman latar belakang organisasi Islam di lingkungan Gontor.

Ia mengatakan santri dari berbagai latar belakang dapat belajar bersama di Gontor. Setelah menyelesaikan pendidikan, para alumni kemudian kembali berkontribusi di lingkungan masing-masing.

“Kami di sini, Bapak Presiden, tidak keluar dari kata-kata iman, Islam, ihsan sesuai dengan ijtihad para pendiri. Sehingga Gontor ini dari NU masuk sini, keluar NU lagi. Anak Muhammadiyah masuk Gontor, keluar Muhammadiyah lagi,” jelasnya.

Kiai Hasan juga menyelipkan guyonan mengenai latar belakang keluarganya. Ia menyebut dirinya pernah mendapat sebutan tertentu terkait kecenderungan Muhammadiyah, sementara para menantunya berasal dari kalangan NU.

“Saya ini orang bebas. Orang bilang Muhammadiyah agak Wahabi dikit katanya. Tapi menantu saya NU kabeh, Pak. Akhirnya saya mendapat titel baru, Hasan Abdullah Aswabi. Aswaja-Wahabi,” ucapnya.

Prabowo Minta Santri Teruskan Perjuangan

Sementara itu, Prabowo dalam sambutannya meminta santri dan santriwati Gontor meneruskan perjuangan membangun Indonesia.

Presiden mengatakan generasi muda Gontor akan mengambil peran dalam melanjutkan perjuangan bangsa.

“Kalian lah yang akan mengambil alih. Kalian yang akan meneruskan perjuangan kita,” kata Prabowo.

Selain itu, Prabowo meminta para santri tetap memegang nilai-nilai yang mereka dapatkan selama menempuh pendidikan di Gontor. Ia juga mendorong mereka memberikan kontribusi terbaik bagi bangsa dan umat.

“Teruskan panggilan sejarah. Teruskan perjuanganmu. Berbuat yang terbaik untuk bangsa dan umat,” ujar Prabowo.

Prabowo Apresiasi Perjalanan 100 Tahun Gontor

Prabowo juga mengapresiasi perjalanan Gontor yang telah memasuki usia satu abad. Menurut Presiden, para pendiri Gontor, yakni KH Ahmad Sahal, KH Zainuddin Fananie, dan KH Imam Zarkasyi, telah menanamkan cita-cita yang kemudian berkembang melalui para alumni.

Prabowo turut menyinggung nilai Panca Jiwa Gontor, yaitu keikhlasan, kesederhanaan, berdikari, ukhuwah Islamiyah, dan kebebasan. Ia menilai nilai tersebut memiliki keterkaitan dengan upaya membangun Indonesia yang mandiri.

Dalam agenda yang sama, Prabowo juga meresmikan Balai Pertemuan Pondok Modern dan Fakultas Kedokteran Universitas Darussalam Gontor.

Puncak peringatan satu abad Gontor tersebut turut dihadiri perwakilan negara sahabat, duta besar, tokoh pendidikan, serta ribuan alumni dari berbagai angkatan.

(Redaksi)

Show More
Back to top button