Sosok

Dino Patti Djalal Nilai Indonesia Terlalu Lunak soal Venezuela, Kemlu Diminta Lebih Tegas

IDENESIA.CO – Mantan Duta Besar Republik Indonesia untuk Amerika Serikat, Dino Patti Djalal, melontarkan kritik terbuka terhadap sikap Kementerian Luar Negeri RI dalam merespons situasi Venezuela. Ia menilai pernyataan resmi pemerintah terlalu normatif dan tidak menunjukkan ketegasan Indonesia dalam menyikapi dugaan pelanggaran hukum internasional.

Kritik tersebut Dino sampaikan melalui akun media sosial X pada Senin (5/1/2026). Dalam unggahannya, Dino secara langsung mempertanyakan keberanian Kemlu RI karena tidak menyebut Amerika Serikat sebagai aktor utama dalam dinamika Venezuela. Menurutnya, sikap tersebut berpotensi melemahkan posisi diplomatik Indonesia di mata dunia.

Selain itu, Dino menilai momentum krisis Venezuela seharusnya mendorong Indonesia tampil lebih tegas. Oleh karena itu, ia mengingatkan pentingnya konsistensi politik luar negeri bebas aktif yang selama ini menjadi prinsip utama diplomasi Indonesia.

Pernyataan Kemlu Dinilai Terlalu Normatif

Dino menyoroti redaksi pernyataan Kemlu RI yang menurutnya terlalu umum dan berhati-hati. Ia mengaku heran karena pernyataan tersebut sama sekali tidak menyebut Amerika Serikat, meskipun isu tersebut menjadi perhatian luas komunitas internasional.

“Saya heran membaca pernyataan Kemlu RI terkait Venezuela yang sangat standar dan sama sekali tidak menyebut Amerika Serikat,” tulis Dino.

Menurut Dino, Indonesia tidak seharusnya ragu mengkritik negara mitra apabila terjadi pelanggaran hukum internasional. Sebaliknya, ia menilai keberanian menyebut aktor yang terlibat justru memperkuat kredibilitas diplomasi Indonesia.

Lebih jauh, Dino menegaskan bahwa hubungan baik dengan negara besar tidak boleh membatasi kebebasan Indonesia dalam bersikap. Karena itu, ia meminta Kemlu RI menyampaikan posisi yang lebih jelas dan lugas.

Menlu Sugiono Diminta Lebih Aktif Bersuara

Selain mengkritik institusi Kemlu, Dino juga mempertanyakan sikap Menteri Luar Negeri RI, Sugiono. Hingga saat ini, kata Dino, Sugiono belum menyampaikan pandangan terbuka terkait Venezuela, padahal dunia internasional menunggu sikap Indonesia.

“Kenapa Menlu Sugiono sampai sekarang tidak bersuara, padahal dunia menunggu pandangan Indonesia sebagai pemain Global South yang penting,” ujar Dino.

Menurut Dino, Indonesia memiliki peran strategis sebagai negara berkembang besar. Oleh karena itu, ia menilai keheningan Menlu justru berisiko mengurangi pengaruh Indonesia dalam percaturan global.

Di sisi lain, Dino menilai krisis Venezuela menjadi kesempatan penting bagi Indonesia untuk menunjukkan kepemimpinan diplomatik. Dengan demikian, ia mendorong Menlu tampil lebih aktif dan komunikatif dalam menyampaikan kebijakan luar negeri.

Bebas Aktif Harus Diwujudkan Lewat Sikap Tegas

Dino kembali menekankan makna politik luar negeri bebas aktif. Menurutnya, prinsip tersebut bukan sekadar jargon, melainkan keberanian untuk mengambil posisi yang jelas, termasuk terhadap negara mitra.

Ia mengingatkan bahwa Indonesia pernah menunjukkan sikap tegas ketika menentang invasi Amerika Serikat ke Irak. Oleh sebab itu, ia menilai Indonesia seharusnya mampu menunjukkan ketegasan serupa dalam isu Venezuela.

“Bebas aktif itu artinya berani berpendirian. Bermitra dengan AS dan negara mana pun tidak boleh menjadikan Indonesia negara penurut,” tegas Dino.

Selain itu, Dino menilai konsistensi sikap akan memperkuat kepercayaan internasional terhadap Indonesia. Dengan kata lain, ketegasan justru akan meningkatkan posisi tawar Indonesia, bukan sebaliknya.

Kepemimpinan Kemlu Ikut Disorot

Tidak hanya menyoroti isu Venezuela, Dino juga mengkritik kepemimpinan Sugiono selama sekitar satu tahun menjabat sebagai Menteri Luar Negeri RI. Menurutnya, Kemlu saat ini membutuhkan kepemimpinan yang lebih fokus dan terarah.

Dino menyebut banyak diplomat kehilangan arahan strategis karena minimnya panduan dari pusat. Selain itu, ia menyoroti tertundanya rapat koordinasi para duta besar hampir selama satu tahun.

Lebih lanjut, Dino menilai komunikasi Menlu dengan publik masih sangat terbatas. Selama setahun terakhir, kata dia, Menlu jarang menyampaikan pidato kebijakan atau memberikan wawancara terkait arah politik luar negeri Indonesia.

“Sebagai konstituen hubungan internasional, kami merasa Menlu jauh dari kami. Tidak komunikatif, tidak responsif, dan tidak aksesibel,” ujarnya.

Oleh karena itu, Dino mendesak Menlu meningkatkan komunikasi publik dan memperkuat kepemimpinan internal. Di tengah dinamika geopolitik global yang semakin kompleks, banyak pihak menilai kejelasan sikap dan komunikasi menjadi kunci menjaga peran strategis Indonesia di tingkat internasional.

(Redaksi)

Show More
Back to top button