Internasional

Dominasi Teknologi Otomotif China Menggeser Pasar Mobil Global

IDENESIA.CO – Produsen mobil global kini menghadapi tantangan berat akibat ekspansi masif dari Asia Timur. Merek-merek otomotif asal Amerika Serikat, Eropa, dan Jepang mulai kehilangan dominasi di pasar dunia. Mereka kalah bersaing dari pabrikan asal Negeri Tirai Buku. Pabrikan tersebut kini menguasai pasar kendaraan listrik (EV). Mereka juga memimpin pengembangan teknologi baterai, desain, hingga perangkat lunak.

Pergeseran pasar tersebut terlihat jelas di Indonesia. Pabrikan asal China mencatat penjualan grosir sebanyak 113.258 unit di sepanjang tahun 2025. Padahal, total penjualan mobil nasional hanya sebesar 803.687 unit. Konsumen Indonesia paling banyak membeli kendaraan listrik keluaran BYD, Wuling, dan Chery. Capaian ini menunjukkan peningkatan dua kali lipat daripada tahun sebelumnya. Angka tersebut membuktikan bahwa masyarakat Indonesia menerima kehadiran merek-merek baru ini.

Secara global, negara tersebut mengekspor sekitar tujuh juta unit mobil per tahun. Hampir separuh dari total ekspor tersebut merupakan kendaraan listrik. Pengamatan langsung di pabrik Beijing dan Hefei menunjukkan fakta menarik. Tingkat otomatisasi tinggi dan kecepatan pengembangan perangkat lunak menjadi kunci utama keunggulan mereka. Kondisi ini memaksa merek asing penantang untuk bekerja keras mengejar ketertinggalan.

Tekanan Global dan Strategi Bertahan Merek Konvensional

“Kita tidak memiliki peluang untuk melawan fenomena ini,” ujar Kepala Eksekutif Honda, Toshihiro Mibe. Dia menyampaikan hal itu kepada media Jepang setelah mengamati fasilitas produksi Shanghai yang menggunakan otomatisasi penuh.

Kepala Eksekutif Ford, Jim Farley, juga membawa peringatan serupa. Dia mengingatkan bahwa produsen mobil Barat saat ini sedang berjuang keras untuk bertahan hidup. Kompetitor mereka melakukan ekspansi global secara sangat agresif. Kondisi tersebut memaksa produsen otomotif asing mengubah skema kemitraan usaha patungan (joint venture). Skema lama yang berjalan puluhan tahun kini harus berubah agar perusahaan tidak terdepak dari industri.

Analis otomotif yang berbasis di Shanghai, Bill Russo, menilai ada kekeliruan sudut pandang dari negara-negara barat. “Kesalahan terbesar negara-negara maju adalah menganggap transisi ini hanya seputar mobil listrik. Ini sebenarnya adalah perebutan tentang siapa yang akan memimpin generasi berikutnya dalam teknologi mobilitas,” urai Bill Russo.

Integrasi Ekosistem Digital dan Efisiensi Manufaktur

Keterlibatan raksasa teknologi konsumen seperti Xiaomi, Huawei, dan Alibaba memperkuat teknologi otomotif China. Langkah ini membawa standar perangkat lunak gawai ke dalam sistem otomotif. Sistem tersebut mencakup asisten pengemudi hingga fitur hiburan. Sebagai contoh, fasilitas produksi Xiaomi di pinggiran Beijing mampu menghasilkan satu unit mobil baru setiap 76 detik. Mereka memanfaatkan integrasi ekosistem rumah pintar untuk mencapai target tersebut.

Efisiensi biaya juga menjadi senjata utama pabrikan China. Badan Energi Internasional (IEA) memperkirakan biaya produksi mobil SUV listrik ukuran kecil di sana 30 persen lebih murah daripada negara maju. Rendahnya biaya baterai dan integrasi rantai pasok mewujudkan efisiensi tersebut. Selain itu, pemerintah setempat juga menggelontorkan subsidi puluhan miliar dolar selama bertahun-tahun.

Langkah pemerintah tersebut memicu kritik dari Uni Eropa dan Amerika Serikat terkait perang harga. Namun, ekosistem ini justru melahirkan inovasi cepat. BYD kini meluncurkan teknologi pengisian daya ultra-cepat. Teknologi ini mampu menambah jarak tempuh 400 kilometer dalam waktu lima menit saja. Sementara itu, Pendiri sekaligus CEO XPeng, He Xiaopeng, mulai memprioritaskan pengembangan robot humanoid dan mobil terbang. “Dalam dekade berikutnya, semua perusahaan mobil juga akan merangkap sebagai perusahaan robotika,” kata He Xiaopeng kepada BBC.

Pembalikan Arah Kerja Sama Otomotif Dunia

Merek asing mengalami penurunan performa yang sangat tajam di pasar domestik China. Data konsultan Automobility menunjukkan pangsa pasar merek asing merosot dari 64 persen pada tahun 2020 menjadi 32 persen pada tahun ini. Penurunan ini menggerus pendapatan General Motors (GM) serta produsen Jerman. Bahkan di kelas premium, sedan mewah Maextro S800 besutan Huawei kini melampaui gabungan penjualan Porsche Panamera dan BMW Seri 7.

Kondisi tersebut membalikkan arah kerja sama historis kedua pihak. Stellantis baru saja menandatangani kesepakatan senilai Rp20,7 triliun dengan Dongfeng. Mereka bekerja sama untuk memproduksi model Peugeot serta Jeep. Stellantis juga membawa merek mewah Voyah ke pasar Eropa.

Langkah serupa diambil Volkswagen yang menggelontorkan uang sebesar Rp12,5 triliun. Mereka membeli arsitektur perangkat lunak dan sistem kemudi otonom milik XPeng. “Kami saling mempelajari satu sama lain, sehingga kami saling percaya dan saling membantu,” tutur CEO XPeng, He Xiaopeng, mengenai hubungan kerja sama tersebut. Toyota, Hyundai, Ford, dan Nissan kini juga memperluas operasi riset mereka demi memanfaatkan talenta lokal setempat.

Tantangan Industri dan Dampak ke Pasar Asia Tenggara

Industri ini tetap menghadapi tantangan internal di tengah ekspansi yang agresif. Audi terpaksa memberikan diskon besar-besaran untuk model E5 karena angka permintaan yang rendah. GM juga mencatat penurunan nilai aset miliaran dolar. Mereka melaporkan penurunan penjualan sebesar 21 persen pada kuartal pertama. Sementara itu, lambatnya transisi kendaraan listrik membuat posisi produsen Jepang sangat rentan. Kini, kehilangan pangsa pasar tersebut mulai merembet ke kawasan Asia Tenggara.

Pasar domestik China secara umum juga mulai melambat. Kelebihan kapasitas produksi dan perang harga yang ketat menahan laju pertumbuhan mereka. Kondisi ini memicu merek besar seperti BYD, Chery, dan SAIC untuk bergerak ke pasar luar negeri. Mereka mengincar pasar Eropa meskipun harus menghadapi tarif bea masuk hingga 45 persen. Di Amerika Serikat, pemerintah menerapkan tarif lebih dari 100 persen untuk menutup akses masuk.

Pergeseran pusat produksi teknologi otomotif China ini akan memengaruhi stabilitas ekonomi Eropa dan Asia Tenggara. Fenomena ini juga mengancam ketersediaan lapangan kerja manufaktur setempat. Mengenai pembatasan dagang, konsultan James Pearson mengingatkan bahwa kebijakan tarif tidak akan selalu melindungi industri lokal. “Jika Anda menutup akses mereka ke satu pasar, mereka akan menemukan pasar lain,” jelas James Pearson.

Sebagai penutup, Bill Russo menegaskan bahwa pusat gravitasi industri otomotif global saat ini telah resmi bergeser. Perusahaan global yang bersedia berkolaborasi memiliki peluang lebih besar untuk bertahan. Sebaliknya, pihak yang memilih jalan konvensional akan semakin tertinggal di belakang.

(Redaksi)

Show More
Back to top button