
IDENESIA.CO – Indonesia menggelontorkan dana sekitar US$65 juta atau setara Rp1 triliun untuk mengamankan hak siar Piala Dunia 2026. Nilai tersebut setara dengan biaya yang dikeluarkan Spanyol. Namun, sejumlah negara lain justru memperoleh hak siar dengan harga lebih rendah.
Pengamat penyiaran publik A.H. Jauzie menjelaskan setiap negara menghadapi skema penawaran yang berbeda dari FIFA. Karena itu, publik tidak bisa membandingkan biaya hak siar secara langsung.
FIFA Tentukan Harga Berdasarkan Potensi Pasar
Jauzie mengatakan FIFA mempertimbangkan berbagai faktor saat menawarkan hak siar kepada suatu negara. Salah satu faktor utama ialah jumlah penduduk dan potensi penonton.
“Semakin besar jumlah penduduk suatu negara, semakin tinggi pula nilai penawarannya. Karena itu China sempat menerima penawaran sekitar US$300 juta, sedangkan India sekitar US$100 juta,” ujarnya, Kamis (18/6/2026).
Ia menjelaskan bahwa Indonesia biasanya memperoleh hak siar melalui agen yang berbasis di Singapura. Untuk Piala Dunia 2026, FIFA menawarkan hak siar secara langsung kepada sejumlah televisi nasional melalui roadshow sejak April 2025.
TVRI Menangi Persaingan Hak Siar Piala Dunia 2026
Menurut Jauzie, TVRI mendapat penugasan untuk mengamankan hak siar Piala Dunia 2026 agar masyarakat bisa menonton pertandingan secara gratis.
TVRI kemudian mengikuti proses bidding bersama sejumlah stasiun televisi lain. Setelah menjalani negosiasi panjang, TVRI berhasil memenangkan persaingan tersebut.
“TVRI akhirnya memperoleh hak siar dengan nilai sekitar US$65 juta atau Rp1 triliun. Angka itu setara dengan biaya yang dibayar Spanyol, yakni sekitar 55 juta euro,” katanya.
Jauzie juga meluruskan informasi mengenai angka Rp1,3 triliun yang sempat beredar di masyarakat.
Menurut dia, nilai kontrak hak siar berada di kisaran Rp1 triliun. Sementara itu, tambahan pajak sekitar Rp300 miliar membuat total anggaran mencapai Rp1,3 triliun.
China dan India Bayar Lebih Murah karena Negosiasi di Akhir Waktu
Jauzie menilai waktu penandatanganan kontrak sangat memengaruhi harga hak siar.
Indonesia harus menyelesaikan kontrak lebih awal karena menggunakan anggaran negara. Di sisi lain, beberapa negara baru mencapai kesepakatan menjelang turnamen berlangsung.
India menjadi salah satu contohnya. Negara itu awalnya menerima penawaran sekitar US$100 juta. Namun, India akhirnya memperoleh hak siar dengan nilai sekitar US$40 juta setelah menyepakati kontrak mendekati kick off.
China mengalami kondisi serupa. FIFA sempat menawarkan hak siar sekitar US$300 juta. Setelah negosiasi berlanjut hingga mendekati turnamen, China mengamankan hak siar dengan nilai sekitar US$60 juta.
Malaysia dan Vietnam Keluarkan Biaya Lebih Rendah
Vietnam juga memperoleh harga yang lebih rendah. Negara tersebut mengamankan hak siar sekitar dua bulan sebelum turnamen dimulai dengan nilai sekitar US$15 juta.
Malaysia menyelesaikan negosiasi sekitar satu bulan sebelum kick off. Berdasarkan laporan media setempat, Malaysia membayar sekitar US$35 juta atau setara 137 juta ringgit Malaysia.
Pemerintah Malaysia menanggung sebagian biaya tersebut. Sementara itu, pihak swasta menutup sisa kebutuhan pendanaan.
Perbandingan Hak Siar Tidak Bisa Dilakukan Secara Langsung
Jauzie menegaskan bahwa publik perlu melihat banyak faktor sebelum membandingkan biaya hak siar antarnegara.
Perbedaan waktu negosiasi, jumlah penduduk, potensi pasar, hingga model penyiaran memengaruhi harga yang ditawarkan FIFA.
Karena itu, biaya hak siar Piala Dunia 2026 di Indonesia tidak bisa dibandingkan secara langsung dengan China, India, Vietnam, maupun Malaysia. Setiap negara memiliki kondisi dan mekanisme negosiasi yang berbeda.
(Redaksi)

