
IDENESIA.CO – Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengejutkan banyak pihak pada pembukaan perdagangan awal pekan ini. Kondisi pasar modal Indonesia justru mengalami tekanan hebat yang kontras dengan pernyataan optimis pejabat negara. Faktanya, IHSG ambrol pagi ini meskipun Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sebelumnya meyakini pasar akan bergerak di zona hijau.
Para investor menyaksikan layar perdagangan yang memerah sejak bel pembukaan berbunyi. Penurunan tajam ini memicu kekhawatiran di kalangan pelaku pasar yang berharap pada stabilitas ekonomi nasional. Namun, realitas pasar menunjukkan dinamika yang berbeda dari proyeksi pemerintah selama akhir pekan lalu.
IHSG Ambrol Pagi Ini Hingga Terjun Hampir 5 Persen
Berdasarkan data terbaru dari RTI Business pada Senin (2/2/2026), IHSG mencatatkan rapor merah yang cukup dalam. Tepat pada pukul 10.30 WIB, indeks berada pada level 7.919. Angka ini menunjukkan pelemahan sebesar 410 poin atau setara dengan 4,92 persen. Kondisi ini memperlihatkan tren menurun yang konsisten sejak pembukaan perdagangan yang berada di level 8.306.
Selanjutnya, tekanan jual dari investor asing dan domestik terlihat mendominasi berbagai sektor saham unggulan. Volume perdagangan yang tinggi pada sisi penjualan membuat indeks sulit untuk rebound ke posisi semula. Penurunan hampir 5 persen ini menjadi salah satu koreksi harian yang cukup signifikan pada awal tahun 2026.
Meskipun demikian, otoritas bursa terus memantau pergerakan harga agar tetap berada dalam koridor yang wajar. Penurunan yang terjadi secara mendadak ini membuat para analis mulai menghitung ulang potensi risiko pasar untuk beberapa hari ke depan. Hal ini juga menjadi pengingat bahwa sentimen pasar seringkali bergerak lebih liar daripada prediksi matematis maupun narasi politik.
Kontradiksi Pernyataan Menkeu Purbaya Sebelum Bursa Buka
Peristiwa IHSG ambrol pagi ini menjadi sorotan utama karena bertolak belakang dengan pernyataan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Sebelum perdagangan Senin dimulai, Purbaya sempat memberikan pernyataan menenangkan kepada publik. Ia menegaskan bahwa bursa tidak akan mengalami “kebakaran” atau penurunan tajam akibat pergantian direksi.
Purbaya menyampaikan rasa optimisnya saat berada di Wisma Danantara Indonesia pada Sabtu (31/1/2026). Beliau meyakinkan wartawan bahwa indeks akan mengalami penguatan. “Harusnya bursanya akan naik, jadi Anda tidak usah khawatir,” tegas Purbaya saat itu. Ia bahkan secara spesifik menepis kekhawatiran tentang potensi pelemahan bursa pada hari Senin.
Namun, kenyataan di lapangan berkata lain. Keyakinan Menkeu bahwa pasar akan merespons positif tidak terwujud dalam sesi pertama perdagangan hari ini. Perbedaan antara ekspektasi pemerintah dan realitas pasar modal ini kini memicu diskusi hangat di kalangan pengamat ekonomi mengenai faktor apa yang sebenarnya membebani indeks secara mendalam.
Transisi Kepemimpinan di Bursa Efek Indonesia Tetap Berjalan
Selain faktor eksternal, publik sempat menyoroti kondisi internal Bursa Efek Indonesia (BEI) menyusul mundurnya Iman Rachman dari posisi Direktur Utama. Menkeu Purbaya menjelaskan bahwa sistem di bursa tetap stabil karena kehadiran Pejabat sementara (Pjs) Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik. Ia menjamin bahwa transisi ini tidak akan mengganggu operasional pasar modal.
Purbaya menilai sistem otomatis di BEI mampu menggantikan posisi direksi dengan sangat cepat dan efisien. Kehadiran Jeffrey Hendrik menjadi bukti bahwa struktur organisasi bursa memiliki ketahanan yang baik dalam menghadapi situasi darurat. Oleh karena itu, Menkeu mengklaim bahwa gangguan administratif bukan merupakan penyebab dari fluktuasi harga saham.
Pemerintah juga terus menekankan bahwa investor sebaiknya tetap berfokus pada fundamental ekonomi nasional. Purbaya menegaskan komitmennya untuk terus memperbaiki pondasi ekonomi agar tetap kompetitif di mata dunia. Fokus utama pemerintah saat ini adalah menjaga iklim investasi tetap kondusif di tengah dinamika pergantian personel di lembaga-lembaga keuangan strategis.
Upaya Pemerintah Mendorong Pertumbuhan Ekonomi 6 Persen
Di tengah situasi IHSG ambrol pagi ini, Menteri Keuangan tetap memegang rencana jangka panjang untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi. Beliau menargetkan angka pertumbuhan ekonomi Indonesia mampu mendekati level 6 persen pada tahun ini. Angka ini merupakan target yang ambisius namun dianggap realistis oleh pihak kementerian melalui berbagai stimulus fiskal.
Purbaya menjelaskan bahwa fundamental ekonomi Indonesia saat ini berada dalam posisi yang sangat bagus. Pemerintah akan terus mendorong kebijakan yang mampu memacu produktivitas nasional dan menarik lebih banyak investasi asing masuk ke tanah air. Ia meyakini bahwa pasar modal nantinya akan mengikuti tren positif dari pertumbuhan ekonomi riil tersebut.
Meskipun bursa sedang mengalami tekanan jangka pendek, Menkeu mengajak investor untuk melihat gambaran yang lebih besar. Perbaikan fundamental yang terus berjalan merupakan kunci utama untuk mengembalikan kepercayaan pasar. Pemerintah berjanji akan terus mendampingi para pelaku usaha agar target pertumbuhan ekonomi 6 persen dapat tercapai sesuai rencana yang telah ditetapkan sebelumnya.
(Redaksi)
