
IDENESIA.CO – Prediksi mengenai konfrontasi besar di Timur Tengah kembali mencuat melalui pernyataan Prof Jiang Xueqin. Pendidik sekaligus penulis ini memberikan analisis mendalam mengenai potensi kekalahan Amerika Serikat (AS) dalam konflik melawan Iran. Melalui kanal pribadinya, Jiang menyebut bahwa strategi militer konvensional AS tidak lagi relevan dalam menghadapi pola peperangan modern yang melibatkan fanatisme dan teknologi drone.
Kegagalan Strategi Militer Abad ke-21
Jiang Xueqin menilai bahwa strategi shock and awe milik Amerika Serikat telah usang. Strategi ini mengandalkan pelumpuhan komando pusat atau “memenggal kepala” musuh dengan harapan organisasi tersebut akan runtuh seketika. Namun, Jiang menegaskan bahwa strategi tersebut tidak akan mempan terhadap Iran. Ia memandang bahwa Iran mimpi buruk bagi doktrin militer Barat karena mereka siap menjalankan perang jangka panjang yang bersifat total.
Struktur pertahanan Iran tetap akan berfungsi meskipun pimpinan tertinggi mereka gugur di medan perang. Hal ini terjadi karena Iran memandang konflik tersebut sebagai perang agama yang bersifat menyeluruh. Pasukan Iran tidak bergantung sepenuhnya pada satu komando pusat yang terpusat. Oleh karena itu, upaya Amerika Serikat untuk mengakhiri perang dengan cepat melalui serangan udara ke pusat pemerintahan kemungkinan besar akan menemui jalan buntu.
Ancaman Penutupan Selat Hormuz
Selain faktor personel, faktor geografis dan ekonomi menjadi senjata utama bagi pihak Teheran. Jiang Xueqin menyoroti posisi strategis Selat Hormuz sebagai titik nadi ekonomi global. Jika perang pecah secara terbuka, Iran memiliki kemampuan untuk menutup jalur perdagangan minyak tersebut sepenuhnya. Aksi ini secara otomatis akan mencekik pasokan energi dunia dan memicu krisis ekonomi yang sangat hebat bagi negara-negara Barat.
Kondisi ekonomi yang tidak stabil akibat penutupan jalur laut ini bisa menjadi faktor utama runtuhnya dominasi Amerika Serikat. Jiang berpendapat bahwa militer Amerika mungkin terlihat tidak terkalahkan di atas kertas. Namun, mereka tidak memiliki persiapan yang cukup untuk menghadapi perang asimetris. Penggunaan drone murah namun efektif serta perlawanan dari kelompok yang memiliki motivasi ideologi kuat membuat posisi Iran mimpi buruk bagi stabilitas geopolitik AS.
Perubahan Tatanan Dunia Baru
Analisis Jiang juga menyentuh aspek durasi konflik yang mungkin berlangsung selama berminggu-minggu hingga bertahun-tahun. Ia meyakini bahwa dunia tidak akan pernah sama lagi setelah perang ini berakhir. Perubahan tatanan global akan terjadi secara drastis seiring dengan melemahnya pengaruh militer dan ekonomi Amerika Serikat di kawasan Teluk.
Ketidaksiapan Amerika Serikat dalam menghadapi teknologi drone menjadi catatan kritis dari Jiang. Militer AS masih terjebak pada doktrin lama, sementara lawan-lawan mereka telah beradaptasi dengan alat perang yang lebih efisien dan mematikan. Situasi ini memperkuat argumen bahwa kekuatan besar tidak selalu menjamin kemenangan dalam perang abad ke-21. Realita di lapangan menunjukkan bahwa Iran mimpi buruk yang nyata bagi rencana-rencana militer konvensional yang selama ini diagungkan oleh Pentagon.
Pada akhirnya, Jiang Xueqin mengingatkan bahwa perang ini bukan sekadar adu kekuatan senjata berat. Ini adalah benturan antara doktrin militer modern melawan ketahanan ideologi dan penguasaan jalur ekonomi strategis. Jika Amerika Serikat tetap menggunakan pola lama, mereka harus bersiap menghadapi konsekuensi yang sangat berat bagi eksistensi global mereka.
(Redaksi)




