Internasional

Kebijakan Tarif Trump Bikin Ritel AS Babak Belur, Kelangkaan Stok Ancam Penjualan Nataru

Dampak Finansial dan Ketidakpastian Mencekik Investor

IDENESIA.CO – Periode libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) secara tradisional merupakan momen puncak penjualan dan keuntungan bagi sektor ritel di Amerika Serikat (AS). Namun, kemeriahan Nataru tahun ini diprediksi akan menjadi periode paling memusingkan bagi pengusaha ritel imbas kebijakan tarif Presiden Donald Trump. 

Kebijakan dagang yang fluktuatif dan pengenaan bea masuk tinggi telah menyebabkan disrupsi serius pada rantai pasokan, yang berujung pada kelangkaan stok barang di gudang-gudang ritel.

Melansir Reuters, Kamis (27/11/2025), para pengusaha ritel di AS kini tengah kelabakan menghadapi kurangnya pasokan dan inventaris barang dagangan untuk dijual selama musim belanja akhir tahun. 

Kelangkaan ini terjadi karena gangguan rantai pasok yang terutama disebabkan oleh kenaikan harga yang tak terduga setelah pengenaan tarif masuk oleh Pemerintahan Trump. Situasi ini mengancam kinerja keuangan sektor ritel, yang biasanya memperoleh rata-rata sekitar sepertiga dari laba tahunan perusahaan selama periode November dan Desember.

Dilema Ritel: Terjebak Antara Tarif Tinggi dan Pemasok Baru

Kebijakan tarif resiprokal yang diterapkan oleh Presiden Trump terhadap Tiongkok telah menciptakan dilema besar bagi pengusaha AS yang selama ini sangat bergantung pada rantai pasokan dari Negeri Tirai Bambu. 

Para pengusaha terpaksa memilih antara membayar bea masuk yang sangat tinggi atau mencari pemasok baru di negara lain, yang pada akhirnya sama-sama meningkatkan biaya modal secara signifikan.

Matt Hassett, pendiri merek kesehatan Loftie yang berbasis di New York, menjadi salah satu contoh nyata dampak kebijakan ini. Hassett kini mengalami kelangkaan stok barang dagangan hingga ke titik terendah sejak ia membuka usaha. 

Mayoritas produk Loftie selama ini berasal dari Tiongkok. Saat Trump pertama kali mengumumkan pengenaan tarif, Hassett terpaksa mencari pemasok baru di luar Tiongkok untuk menjaga harga produknya tetap kompetitif di pasar domestik.

Namun, ketidakpastian kebijakan justru menjadi jebakan. Tepat ketika Hassett berhasil menemukan alternatif pemasok yang menawarkan harga lebih murah, AS malah mengumumkan penurunan tarif terhadap Tiongkok. 

Setelah dihitung ulang, ternyata harga produk dari Tiongkok, meskipun terkena tarif, tetap lebih kompetitif dibandingkan harga dari negara lain.

Situasi yang tidak menentu ini menyebabkan pemesanan produk dari pabrik-pabrik di Tiongkok menjadi terlambat. Keterlambatan ini berimplikasi langsung pada ketersediaan barang yang belum siap untuk periode libur akhir tahun. 

Sangat sulit untuk mempersiapkan diri. Kami telah kehabisan stok barang hingga ke titik terendah, kami mungkin hanya memiliki sekitar 10% dari inventaris yang kami butuhkan, keluh Hassett awal pekan ini, menggambarkan betapa kritisnya kekurangan stok yang dihadapi perusahaannya.

Dampak Finansial dan Ketidakpastian Mencekik Investor

Bukan hanya Loftie, toko ritel fesyen daring Lo & Sons yang berbasis di Brooklyn juga merasakan masalah rantai pasok yang parah akibat tarif Trump. Toko yang menjual tas travel dan aksesori secara daring ini terpaksa memeriksa hingga delapan pabrik di berbagai negara, termasuk India dan Kamboja, sebelum akhirnya memutuskan untuk kembali kepada pemasok lamanya di Tiongkok.

CEO dan salah satu pendiri Lo & Sons, Derek Lo, mengungkapkan bahwa ketidakpastian regulasi inilah yang paling merusak bisnis. 

“Selain menghabiskan banyak biaya untuk pembayaran tarif, ketidakpastian ini juga mencegah kami melakukan pemesanan pembelian,” kata Derek Lo. 

Ia menegaskan, Sekarang inventaris kami berada di bawah ideal. Keputusan menunda pemesanan demi menghindari risiko perubahan tarif mendadak membuat inventaris mereka menipis menjelang musim puncak penjualan.

Lebih dari selusin peritel kecil AS lain yang diwawancarai Reuters juga mengaku mengalami kenaikan biaya operasional yang signifikan. Kenaikan biaya modal ini memaksa beberapa di antaranya mengambil langkah drastis, seperti memangkas pekerjaan atau mengurangi penawaran produk untuk menghemat uang. 

Ironisnya, tindakan penghematan ini dilakukan menjelang periode penjualan Nataru, yang biasanya menjadi penentu kesehatan finansial tahunan mereka.

Ancaman Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Akhir Tahun

Kelangkaan stok yang dialami sektor ritel AS ini memberikan gambaran nyata tentang konsekuensi kebijakan dagang yang agresif dan tidak stabil. Meskipun tujuan tarif adalah melindungi industri domestik, efek jangka pendeknya justru menciptakan ketidakpastian, mengganggu perencanaan bisnis, dan akhirnya menghambat kemampuan perusahaan ritel untuk memenuhi permintaan konsumen.

Jika kondisi kurangnya inventaris ini berlanjut, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh perusahaan ritel kecil dan menengah, tetapi juga dapat menyeret turun angka pertumbuhan ekonomi AS di kuartal keempat. Padahal, penjualan selama bulan November dan Desember adalah penyumbang pendapatan tahunan yang sangat besar. Rata-rata, kontribusi pendapatan dari periode ini setidaknya mencapai sepertiga dari total laba tahunan.

Para pelaku bisnis kini berharap adanya kejelasan dan stabilitas dalam kebijakan dagang pemerintah agar dapat merencanakan rantai pasok tanpa dihantui risiko kenaikan tarif mendadak, demi memastikan keberlangsungan usaha dan menghindari kerugian yang lebih besar pada Nataru mendatang.

(Redaksi)

Show More
Back to top button