IDENESIA.CO – Kelompok Houthi yang mendapat dukungan dari Iran resmi mengumumkan serangan rudal terbaru ke wilayah Israel. Selain meluncurkan serangan udara, kelompok yang berbasis di Yaman ini juga memberlakukan larangan pelayaran total bagi seluruh kapal milik Israel yang melintasi kawasan perairan Laut Merah.
Langkah sepihak ini berpotensi besar memicu kembali gangguan massal pada jalur perdagangan maritim utama dunia. Selama perang antara Israel dan Hamas di Jalur Gaza berkecamuk, Houthi terus mengincar kapal-kapal kargo di jalur vital tersebut. Akibatnya, banyak perusahaan pelayaran internasional terpaksa mengalihkan rute perjalanan yang lebih jauh memutari ujung selatan Afrika.
Ketegangan Baru dan Blokade Jalur Maritim Internasional
Ancaman terbaru dari Houthi ini muncul saat Selat Hormuz masih berada dalam status blokade oleh pihak Iran. Blokade pintu gerbang ekspor energi Teluk Persia tersebut merupakan imbas dari konflik Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel. Sejak gencatan senjata yang longgar dimulai pada 8 April lalu, aksi ini menjadi momentum pertama Houthi mengumumkan kembali serangan rudal ke Israel.
Angkatan Bersenjata Houthi menegaskan sikap mereka melalui sebuah pernyataan resmi. Kelompok ini memberlakukan aturan hukum sepihak secara ketat di wilayah perairan tersebut.
“Pihak kami menetapkan pemblokiran penuh dan menyeluruh terhadap seluruh navigasi maritim milik Israel di Laut Merah,” tulis Angkatan Bersenjata Houthi dalam rilis resmi yang dikutip dari AFP dan Al Arabiya, Selasa (9/6/2026).
Kelompok Houthi juga menambahkan bahwa militer mereka siap menyerang armada kapal yang melanggar aturan tersebut.
“Pasukan kami mengategorikan setiap pergerakan musuh sebagai sasaran militer yang sah sejak pengumuman ini resmi terbit,” tambah pernyataan dari kelompok tersebut.
Militer Israel Mengaktifkan Sistem Pertahanan Udara
Merespons serangan udara tersebut, pihak militer Israel segera mengambil tindakan penyelamatan. Melalui saluran resmi Telegram, militer Israel mengonfirmasi adanya aktivitas proyektil berbahaya yang mengarah ke wilayah kedaulatan mereka.
“Pasukan kami mendeteksi peluncuran rudal yang berasal dari wilayah Yaman menuju ke arah wilayah Israel. Saat ini, sistem pertahanan udara kami sedang bekerja aktif untuk mencegat ancaman tersebut,” tulis pernyataan resmi Militer Israel.
Di sisi lain, pihak Houthi mengklaim bahwa operasi militer mereka berjalan sukses. Perwakilan Houthi menyatakan bahwa pasukan mereka telah melepaskan sejumlah rudal yang membidik titik-titik krusial milik Israel dan serangan tersebut berhasil mengenai sasaran secara akurat.
Ancaman Terhadap Gencatan Senjata Timur Tengah
Aksi saling serang yang kembali melibatkan Iran dan Israel pada Senin (8/6) memicu eskalasi konflik yang melibatkan kelompok Houthi ini. Situasi terbaru tersebut memberikan tekanan berat pada komitmen gencatan senjata yang selama ini berjalan rapuh. Peristiwa ini juga mengancam proses negosiasi menuju kesepakatan damai yang permanen di kawasan tersebut.
Dalam peta politik Timur Tengah, Houthi tidak bergerak sendirian. Kelompok Houthi bersama dengan kelompok Hizbullah di Lebanon merupakan bagian dari jaringan “Poros Perlawanan”. Jaringan pasukan yang menyatukan kelompok-kelompok pro-Iran ini memiliki misi utama untuk menentang pengaruh politik serta militer Amerika Serikat dan Israel di kawasan Timur Tengah.
(Redaksi)
