Internasional

Mengenal Diabetes Tipe 5 yang Mengancam Jutaan Pasien Kurus di Dunia

IDENESIA.CO – Tim dokter Kongo menyuntikkan insulin harian kepada Noella Mukumbi pada tahun 2023. Sebab, mereka mendiagnosis penata rambut berusia 30 tahun ini mengidap diabetes tipe 1.

Namun, pengobatan tersebut justru membuat Noella sering pusing dan mual. Bahkan, Noella mendadak pingsan di lantai rumahnya. Oleh karena itu, tiga tahun kemudian, dokter spesialis mengubah diagnosis Noella. Dokter menyatakan bahwa Noella sebenarnya mengidap diabetes tipe 5.

Saat ini, penyakit diabetes menyerang lebih dari 830 juta orang di dunia. Penyakit ini muncul ketika tubuh gagal mengontrol kadar gula darah. Sementara itu, Indonesia menempati peringkat kelima dunia untuk jumlah penderita diabetes dewasa.

Selain itu, para peneliti kini menemukan ancaman kesehatan baru bernama diabetes tipe 5. Penyakit ini muncul akibat dampak jangka panjang dari kurang gizi parah pada masa kanak-kanak.

Bahaya Salah Diagnosis Diabetes Tipe 5 pada Pasien

Para ilmuwan memperkirakan bahwa diabetes tipe 5 menyerang 25 juta penderita di dunia. Namun, kesalahan diagnosis pada jenis diabetes ini membawa dampak fatal. Sebab, dokter memberikan terapi medis yang tidak tepat kepada pasien.

Oleh sebab itu, Dr. Meredith Hawkins dari Global Diabetes Institute menjelaskan bahaya ini. Ia menegaskan bahwa salah klasifikasi memicu angka kematian tinggi pada pasien muda akibat suntikan insulin berlebihan.

Sebenarnya, penderita jenis diabetes ini masih membuat insulin sendiri dalam tubuh. Akan tetapi, organ pankreas mereka tidak tumbuh sempurna akibat kekurangan gizi masa kecil.

Akibatnya, kondisi ini membuat tubuh mereka sangat peka terhadap dosis suntikan insulin standar. Dosis insulin berlebihan justru menurunkan kadar gula darah secara drastis. Selanjutnya, pasien mengalami hipoglikemia berat yang memicu kematian saat tidur.

Bahkan, Noella Mukumbi merasakan gejala khas seperti mulut kering dan sering haus. Selain itu, berat badan Noella turun drastis dari 58 kg menjadi 49 kg. Padahal, pasien diabetes tipe 5 umumnya berbadan sangat kurus namun memiliki gula darah tinggi. Oleh karena itu, para dokter sering keliru mengelompokkan mereka sebagai penderita tipe 1.

Tren Diabetes Orang Kurus dan Tantangan Medis Global

Saat ini, Federasi Diabetes Internasional (IDF) resmi mengakui keberadaan diabetes tipe 5. Sebab, mereka menerima hasil riset dari 50 ilmuwan di jurnal Lancet.

Bahkan, penyakit ini tidak hanya menyerang wilayah Afrika dan Asia. Sebaliknya, berbagai riset mencatat peningkatan kasus “diabetes orang kurus” di Amerika Serikat pada pasien non-obesitas.

Contohnya, Sophia Sharer yang merupakan warga London berusia 26 tahun mengalami gejala gula darah tinggi sejak remaja. Padahal, tubuh Sophia sangat kurus sejak kecil. Namun, dokter di Inggris memasukkan Sophia ke klinik tipe 2 karena ketiadaan tes resmi untuk tipe 5. Akibatnya, ribuan pasien di berbagai negara belum menerima kepastian diagnosis yang tepat.

Di sisi lain, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) belum memasukkan kondisi ini ke dalam panduan resmi. Sebab, WHO menilai bukti ilmiah saat ini belum cukup kuat untuk membuat kategori terpisah.

Selain itu, beberapa pakar medis di India juga memberikan pandangan lain. Mereka menganggap kondisi ini hanya variasi dari tipe 2 pada orang kurus, bukan penyakit baru.

Harapan Baru Pengobatan dan Ancaman Krisis Pangan

Biasanya, dokter mendiagnosis penderita melalui pola klinis dan riwayat kurang gizi masa kecil. Sebab, pasien memiliki berat badan rendah dan kepekaan tinggi terhadap insulin.

Namun, para peneliti kini menemukan solusi pengobatan baru. Perbaikan nutrisi serta penggunaan obat tablet metformin memberikan pemulihan lebih baik daripada suntikan insulin harian.

Hasilnya, Noella Mukumbi merasakan perubahan positif setelah dokter mengganti terapi insulin dengan metformin. Akhirnya, penglihatan Noella kembali jernih dan berat badannya bertambah. Bahkan, Noella kini mendapat kembali kekuatan fisiknya.

Oleh sebab itu, keberhasilan ini mendorong lembaga medis internasional untuk menyusun panduan diagnosis formal. Langkah ini bertujuan agar penderita lain mendapat penanganan medis yang tepat.

Namun demikian, pemangkasan dana kesehatan global serta ancaman krisis pangan menjadi tantangan besar. Oleh karena itu, para ilmuwan khawatir bahwa bencana kelaparan dan perang akan menambah jumlah penderita diabetes tipe 5. Kesimpulannya, pengakuan medis resmi dan ketersediaan alat tes menjadi kunci utama untuk menyelamatkan jutaan nyawa penderita.

(Redaksi)

Show More
Back to top button