
IDENESIA.CO – Universitas Oxford kembali menarik perhatian dunia internasional setelah mengumumkan bahwa mantan Menteri Keuangan Indonesia, Sri Mulyani Indrawati, akan bergabung sebagai pengajar di salah satu program kepemimpinan global mereka pada 2026.
Kabar ini dirilis langsung oleh Blavatnik School of Government, fakultas kebijakan publik global Oxford, yang menyebut Sri Mulyani terpilih mengikuti World Leaders Fellowship, program prestisius yang hanya diberikan kepada tokoh-tokoh ternama dunia.
“Sri Mulyani Indrawati, mantan Menteri Keuangan Indonesia dan mantan Direktur Pelaksana serta Chief Operating Officer di Bank Dunia, akan mengikuti World Leaders Fellowship di Blavatnik School of Government untuk tahun 2026,” tulis pengumuman resmi tersebut, Kamis (11/12/2025).
Keikutsertaan Sri Mulyani menempatkannya di jajaran elite pemimpin dunia yang mendapat kesempatan mengajar, berdiskusi, dan memfasilitasi pengembangan keterampilan kepemimpinan bagi para peserta program internasional tersebut.
Program ini berlangsung selama setahun penuh dan berfokus pada reformasi kebijakan publik, tata kelola, serta pelayanan publik.
Peran Sri Mulyani dalam Program Fellowship
Melalui program ini, Sri Mulyani akan mengajar sekaligus membagikan pengalaman panjangnya dalam mengelola kebijakan fiskal, menghadapi krisis ekonomi global, hingga membangun tata kelola pemerintahan yang transparan. Dengan reputasinya di tingkat internasional, Oxford berharap kontribusinya dapat memperluas cakrawala peserta dalam memahami tantangan pemerintahan modern.
Meskipun Blavatnik School of Government baru berdiri pada 2010, lembaga ini berkembang cepat menjadi pusat studi kebijakan publik global yang ternama dan mendapat kehormatan. Kehadiran tokoh sekelas Sri Mulyani, menurut para akademisi Oxford, menunjukkan komitmen mereka menghadirkan perspektif kepemimpinan dari berbagai negara berkembang.
Berpindah ke Sejarah Oxford, Kampus yang Sudah Mengajar Sejak 1096
Transisi ke sejarah panjang Universitas Oxford selalu menarik, terutama karena kampus ini berada di antara tiga universitas tertua di dunia yang masih beroperasi hingga kini, bersama Universitas Bologna (Italia) dan Al-Qarawiyyin (Maroko).
Menurut Guinness World Records, Al-Qarawiyyin merupakan lembaga pendidikan tertua, berdiri pada 859 M di Fez, Maroko. Lembaga ini telah memberikan sertifikat pendidikan tingkat sarjana sejak 1040.
Sementara itu, Universitas Bologna di Italia, yang berdiri pada 1088, dikenal luas sebagai universitas tertua di dunia karena tidak pernah berhenti beroperasi sejak pendiriannya. Bologna juga banyak mencetak tokoh hukum dan politik terkemuka Eropa.
Universitas Oxford menyusul tak lama kemudian. Bukti pengajaran di Oxford tercatat sejak 1096, meski tanggal resmi pendiriannya masih samar. Namun sejarah sepakat bahwa aktivitas akademik kampus ini meningkat tajam setelah tahun 1167.
Bagaimana Oxford Bisa Berkembang Pesat?
Pertumbuhan pesat Oxford pada abad ke-12 tidak terlepas dari peristiwa politik besar di Inggris. Ketika Raja Henry II melarang warganya untuk belajar di Universitas Paris akibat konflik dengan Thomas Becket, para pelajar Inggris yang sebelumnya menuntut ilmu di Prancis kembali ke negara asal. Gelombang kepulangan inilah yang mendorong Oxford berkembang menjadi pusat pendidikan prestisius.
Memasuki abad ke-13, Oxford mulai membangun berbagai fasilitas pendukung akademik, termasuk sistem perguruan tinggi (colleges) yang kini ternama seperti University College, Balliol College, dan Merton College.
Dengan struktur akademik yang semakin matang, Oxford menjelma sebagai salah satu pusat intelektual terpenting di Inggris Raya.
Oxford Lebih Tua dari Peradaban Aztec
Salah satu fakta menarik adalah usia Oxford yang bahkan lebih tua dari peradaban Aztec di Meksiko Tengah. Berdasarkan catatan arkeolog, peradaban Aztec baru mulai terbentuk pada 1325, ketika mereka membangun ibu kota Tenochtitlan di Danau Texcoco.
Artinya, Oxford telah memberikan pengajaran selama 229 tahun sebelum Aztec memulai peradabannya.
Aztec menjadi salah satu peradaban kuno paling maju. Mereka membangun pertanian chinampa (ladang terapung), arsitektur megah, dan sistem perdagangan yang kompleks. Namun, peradaban ini runtuh pada 1521 ketika ditaklukkan oleh pasukan Spanyol.
Kini, lokasi bekas ibu kota Tenochtitlan menjadi pusat Kota Meksiko modern, dan jejak Aztec masih terlihat melalui situs-situs arkeologi yang tersebar.
Oxford Tetap Relevan di Era Modern
Melihat sejarah panjang Oxford, keputusan fakultas untuk menghadirkan tokoh seperti Sri Mulyani merupakan bukti bahwa kampus ini tidak hanya menjaga tradisi, tetapi juga terus berinovasi. Oxford mempertahankan reputasinya sebagai rumah bagi para pemikir global, pemimpin dunia, dan pelopor riset multidisiplin.
Dengan masuknya Sri Mulyani dalam jajaran pengajar program fellowship, Oxford kembali menunjukkan pengaruhnya dalam membentuk generasi pemimpin masa depan.
(Redaksi)
