
IDENESIA.CO – Pasar keuangan Indonesia menghadapi tekanan hebat menyusul keputusan Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang membekukan sebagian indeks saham Indonesia. Langkah tak terduga ini memicu pelemahan signifikan pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Pengamat Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, menegaskan bahwa kebijakan tersebut merusak kepercayaan investor global secara mendalam.
Ibrahim menilai pembekuan indeks oleh MSCI memberikan dampak luar biasa bagi stabilitas pasar modal nasional. Kondisi ini memaksa IHSG terjun bebas ke zona merah dan menekan rupiah hingga kehilangan kekuatannya. “Kita harus melihat pembekuan yang dilakukan MSCI cukup luar biasa terhadap pasar modal Indonesia. Dampaknya IHSG turun, kemudian rupiah pun juga mengalami pelemahan,” ujar Ibrahim di Jakarta, Ahad (8/2/2026).
Dampak Pembekuan Indeks MSCI Terhadap Kepercayaan Global
Sentimen negatif terhadap ekonomi Indonesia kian menguat seiring langkah lembaga keuangan internasional lainnya. Ibrahim mengungkapkan bahwa raksasa perbankan global seperti Goldman Sachs, Nomura, dan UBS mulai menurunkan peringkat saham Indonesia (downgrade). Penurunan peringkat ini mencerminkan keraguan dunia internasional terhadap prospek pasar ekuitas domestik dalam jangka pendek.
Selain penurunan peringkat saham, lembaga pemeringkat Moody’s juga mengubah prospek (outlook) utang Indonesia. Moody’s menggeser status utang Indonesia dari posisi stabil menjadi negatif. Perubahan ini memberikan sinyal peringatan bagi para pemegang obligasi dan investor asing untuk lebih waspada. Namun, Ibrahim mencatat adanya anomali antara kondisi pasar keuangan dengan data fundamental ekonomi makro.
Badan Pusat Statistik sebelumnya melaporkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2025 mencapai angka 5,11 persen. Angka ini sebenarnya menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan performa ekonomi terbaik di kawasan Asia. Namun, Ibrahim menilai pencapaian tersebut belum mampu memberikan perlindungan yang cukup bagi pasar modal. “Walaupun pertumbuhan ekonomi di 2025 cukup bagus, bahkan terbaik di Asia 5,11 persen, namun pertumbuhan ekonomi ini belum bisa menopang penguatan IHSG dan mata uang rupiah,” ucapnya.
Sorotan Tajam Terhadap Defisit Fiskal dan Resiko Pasar
Persoalan lain yang memicu kecemasan pasar adalah kondisi kesehatan anggaran negara. Sejumlah lembaga pemeringkat internasional kini memberikan perhatian serius pada defisit fiskal Indonesia. Mereka memprediksi angka defisit tersebut akan mendekati batas aman tiga persen, sebuah angka yang dianggap berisiko tinggi bagi stabilitas fiskal.
Ibrahim mengkritik sikap para pejabat pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto. Ia melihat ada kecenderungan dari para pembantu presiden untuk menolak fakta mengenai risiko defisit fiskal tersebut. Menurutnya, sikap menyangkal realitas ekonomi hanya akan menambah kebingungan di kalangan pelaku pasar. Para investor membutuhkan transparansi dan solusi konkret daripada sekadar narasi penolakan.
Lembaga internasional menilai para pejabat Indonesia belum sepenuhnya siap menghadapi kenyataan pahit mengenai kondisi anggaran. Narasi yang tidak sinkron antara data global dan pernyataan pemerintah justru memperkeruh suasana. Hal ini menciptakan sentimen pesimistis yang berkelanjutan di lantai bursa dan pasar valuta asing.
Proyeksi IHSG dan Rupiah Hingga Mei 2026
Ibrahim memprediksi bahwa gejolak pada pasar keuangan nasional tidak akan mereda dalam waktu dekat. Tekanan ini kemungkinan besar masih akan menghantui hingga periode April atau Mei 2026. Ketidakpastian ini berakar pada belum tuntasnya koordinasi antara MSCI, Bursa Efek Indonesia (BEI), dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Selama sinkronisasi kebijakan belum tercapai, investor cenderung akan menarik modal mereka (outflow) dari Indonesia.
Dalam skenario terburuk, Ibrahim memperingatkan bahwa nilai tukar rupiah memiliki risiko melemah hingga ke level Rp17.200 per dolar AS. Sementara itu, IHSG berpotensi terus merosot menjauhi level psikologisnya saat ini. “Artinya masih ada fluktuasi sampai April atau Mei. IHSG masih akan mengalami pelemahan bahkan kemungkinan besar akan menuju level 6.000,” pungkas Ibrahim.
Kondisi ini menuntut langkah cepat dari otoritas moneter dan fiskal untuk menenangkan pasar. Tanpa intervensi dan komunikasi yang transparan, pasar keuangan Indonesia akan terus berada dalam bayang-bayang ketidakpastian global yang dipicu oleh langkah MSCI.
(Redaksi)




