
IDENESIA.CO – Jelang libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2026, Pemerintah Kota Samarinda mendorong penguatan kesiapsiagaan bencana melalui koordinasi intensif lintas sektor. Langkah ini muncul karena potensi curah hujan yang meningkat pada akhir tahun dan tingginya kerentanan banjir di sejumlah kawasan Kota Tepian. Wakil Wali Kota Samarinda, Saefuddin Zuhri, memimpin langsung rapat koordinasi dan memastikan seluruh unsur pemerintah bergerak dalam jalur yang sama.
Koordinasi Lintas Instansi Difokuskan pada Penanganan Cuaca Akhir Tahun
Rapat dipusatkan pada sinkronisasi kerja antara BPBD, BWS, BMKG, relawan kebencanaan, serta organisasi perangkat daerah yang memiliki fungsi teknis dalam mitigasi. Saefuddin menekankan pentingnya persamaan langkah agar pengamanan libur akhir tahun berjalan efektif dan tidak berjalan sendiri-sendiri.
“Semua kumpul untuk menyatukan persepsi dan aspirasi. Supaya kegiatan pengamanan ini tidak berjalan sendiri-sendiri. Alhamdulillah koordinasi berjalan baik,” ujarnya.
Melalui forum itu, pemerintah meninjau ulang seluruh kesiapan teknis, termasuk peralatan pendukung, titik pemantauan lapangan, serta instruksi operasional bagi petugas selama masa siaga. Saefuddin memastikan tingkat kesiapan mencapai tahap akhir.
“Semua OPD yang berkaitan sudah siap dan tidak ada masalah. Kalau ada alat yang kurang sehat, ya disehatkan dulu. Itu masalah kecil. Kesiapan sudah 90 persen,” tegasnya.
BMKG Tidak Mengeluarkan Peringatan Ekstrem, Namun Pemkot Tetap Siaga
Dalam paparan BMKG, tidak terdapat potensi cuaca ekstrem menjelang perayaan Nataru. Meskipun demikian, Saefuddin menegaskan bahwa Pemkot tetap memilih sikap antisipatif agar tidak terjadi kelengahan, mengingat Samarinda memiliki banyak titik rawan banjir.
“BMKG memaparkan bahwa tidak ada cuaca ekstrem. Tapi kita tetap siapkan semuanya untuk berjaga-jaga,” lanjutnya.
Samarinda masih menghadapi risiko banjir tahunan yang dipicu intensitas hujan, kontur wilayah perbukitan, serta kepadatan penduduk di beberapa kawasan. Karena itu, BPBD telah memetakan titik rawan dan menyiapkan personel pemantau. Saefuddin menegaskan bahwa kecepatan informasi bagi masyarakat di wilayah rawan menjadi prioritas.
“Yang paling penting adalah masyarakat di lokasi rawan harus mendapat informasi cepat jika terjadi cuaca ekstrem,” katanya.
Relawan, camat, dan lurah menjadi jaringan terdepan untuk menyampaikan peringatan dini.
TWAP Turun ke Lapangan untuk Memeriksa Drainase dan Titik Rawan
Ketua Tim Wali Kota untuk Akselerasi Pembangunan (TWAP) Samarinda, Syaparudin, menguatkan langkah antisipatif Pemkot melalui inspeksi lapangan selama beberapa hari. Ia menegaskan bahwa TWAP akan memeriksa kondisi drainase dan memastikan alur air menuju sungai tidak terhambat.
“Kami akan turun cek drainase di titik-titik krusial. Bersama Pak Wakil Wali Kota dan PUPR, kami ingin memastikan air bisa mengalir lancar ke alur sungai di dalam kota,” tegasnya.
Beberapa lokasi prioritas dalam inspeksi tersebut meliputi Jalan Dr. Soetomo, Simpang Vorvo, Gunung Lingai, kawasan Ring Road, hingga Poros Sungai Kunjang. Permasalahan inti seperti sedimentasi, penyempitan alur, dan potensi penyumbatan menjadi fokus pemeriksaan.
TWAP turut menggerakkan berbagai instansi pemerintah, mulai dari BPBD, DLH, Dinas PUPR, camat, hingga lurah. Setiap unsur menjalankan perannya seperti pemetaan timbunan sampah, pembersihan saluran, hingga persiapan logistik keadaan darurat.
Kewaspadaan Ditingkatkan Meski Kota Tidak Terancam Banjir Kiriman
Di tengah langkah antisipatif itu, Syaparudin menyebut bahwa Samarinda relatif aman dari risiko banjir kiriman yang menimpa beberapa daerah lain seperti Sumatera dan Aceh. Namun perubahan iklim global tetap menjadi alasan kuat bagi pemerintah untuk mempertahankan alarm tinggi dalam menghadapi hujan intensitas sedang hingga tinggi.
“Di beberapa daerah sedang terjadi musibah hidrometeorologi. Ini gerakan alam yang berdampak pada lingkungan. Kita tetap harus waspada,” ujarnya.
Rencana Jangka Panjang Melalui Pembangunan Forder
Selain penanganan jangka pendek untuk menghadapi Nataru, Pemkot bersama TWAP mulai menggodok rencana jangka panjang berupa pembangunan forder di wilayah utara dan Loa Janan. Struktur tersebut bertujuan menahan limpasan air dari perbukitan sebelum mengalir ke pusat kota.
“Border ini penting supaya limpasan air dari wilayah utara tidak langsung mengalir deras ke pusat kota,” jelasnya.
Meski masih berada dalam tahap komunikasi dengan pemerintah kabupaten, langkah ini masuk dalam skema pengendalian banjir jangka panjang di Samarinda.
Pemkot Tegaskan Mode Siaga Penuh
Saefuddin menegaskan bahwa seluruh kesiapan menuju Nataru dilakukan maksimal, baik dari sisi keamanan warga maupun penanggulangan potensi bencana selama musim hujan berlangsung. Inspeksi lapangan, koordinasi lintas instansi, hingga pemetaan titik rawan dilaksanakan secara paralel.
“Intinya, kita ingin libur akhir tahun ini aman dan nyaman bagi semua warga Samarinda,” tutupnya.
Gabungan langkah cepat TWAP dan koordinasi Pemkot Samarinda menunjukkan bahwa pemerintah bersungguh-sungguh menghadapi musim hujan, serta berupaya mengurangi risiko yang selama ini menjadi kekhawatiran warga di setiap akhir tahun.
(Redaksi(
