
IDENESIA.CO – Pemerintah berbagai negara melayangkan kecaman keras terhadap Israel. Dunia internasional memprotes cara aparat memperlakukan ratusan sukarelawan pro-Palestina dalam misi Global Sumud Flotilla 2.0. Protes massal muncul setelah Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, mengunggah video kontroversial. Rekaman tersebut menampilkan Ben-Gvir sedang mengejek peserta misi kemanusiaan. Para relawan asing itu tampak berlutut dengan posisi tangan terikat ke belakang. Tindakan merendahkan ini memicu kemarahan global atas kasus penahanan aktivis flotila tersebut.
Misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla (GSF) bergerak dari Turki pada Kamis (14/05/2026). Armada kemanusiaan ini membawa lebih dari 50 kapal. Pasukan bersenjata dari Angkatan Laut Israel kemudian menghadang armada tersebut di perairan internasional sebelah barat Siprus pada Senin (18/05/2026) pagi. Pihak penyelenggara menyatakan bahwa tentara Israel menguasai seluruh kapal pada Selasa (19/05/2026) malam. Satu kapal sempat mendekati jarak 80 mil laut dari pantai Gaza sebelum tentara menghentikannya.
Kronologi Hadangan Kapal Bantuan di Laut Lepas
Penyelenggara misi menuduh militer Israel melakukan tindakan agresi ilegal di laut internasional. Mereka menyatakan bahwa komando bersenjata Israel menembaki enam kapal. Aparat juga menyemprotkan meriam air dan menabrak satu kapal secara sengaja.
Kementerian Luar Negeri Israel membantah penggunaan peluru tajam oleh pasukan mereka. Otoritas Israel menegaskan aksi itu demi menegakkan blokade laut atas wilayah Gaza. Pihak kementerian mengklaim telah memindahkan seluruh sukarelawan ke kapal militer. Mereka menjanjikan akses pertemuan dengan perwakilan konsuler setelah para aktivis tiba di darat.
Kelompok pembela hak asasi manusia di Israel, Adalah, mengonfirmasi bahwa aparat membawa para sukarelawan ke Pelabuhan Ashdod. Tindakan tersebut berlangsung secara paksa tanpa persetujuan para peserta. Perwakilan Adalah menyatakan, “Tim hukum kami segera menguji legalitas tindakan penahanan aktivis flotila ini di pengadilan. Kami menuntut otoritas terkait untuk membebaskan seluruh peserta misi kemanusiaan tanpa syarat.”
Kontroversi Video Menteri Keamanan Nasional Israel
Kasus penahanan aktivis flotila ini memicu polemik yang lebih besar menyusul tindakan Itamar Ben-Gvir pada Rabu (20/05/2026) sore. Melalui akun media sosialnya, menteri berhaluan ultra-nasionalis tersebut membagikan video kunjungan ke Pelabuhan Ashdod. Dia menyertakan tulisan “Selamat datang di Israel” pada unggahannya.
Rekaman tersebut memperlihatkan Ben-Gvir memberikan dukungan kepada petugas keamanan. Aparat saat itu sedang menundukkan seorang aktivis perempuan yang berteriak meminta kemerdekaan Palestina. Tokoh ultra-nasionalis tersebut kemudian mengibarkan bendera Israel berukuran besar di depan puluhan sukarelawan. “Selamat datang di Israel. Kami adalah penguasa di sini,” kata Ben-Gvir dalam bahasa Ibrani kepada para tahanan yang berlutut.
Aksi Ben-Gvir langsung memicu reaksi negatif dari dalam kabinet Israel sendiri. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengeluarkan pernyataan resmi untuk menegur tindakan bawahannya tersebut.
Benjamin Netanyahu menyatakan, “Israel memegang hak penuh untuk menghentikan kapal provokatif pendukung kelompok Hamas. Namun, cara Menteri Ben-Gvir memperlakukan para peserta misi bertolak belakang dengan nilai dan norma bangsa Israel.” Netanyahu menambahkan bahwa ia telah memerintahkan jajarannya untuk segera mengusir para aktivis tersebut dari wilayah Israel.
Menteri Luar Negeri Israel, Gideon Saar, juga menyampaikan kritik terbuka melalui media sosial X. Saar menulis, “Tindakan memalukan ini secara sadar merugikan posisi diplomatik negara kita di mata dunia. Kejadian seperti ini bukan untuk pertama kalinya.” Ben-Gvir membalas kritikan tersebut secara cepat. Dia menyatakan bahwa menteri luar negeri seharusnya sadar bahwa Israel bukan lagi pihak yang mudah tunduk pada tekanan luar.
Respons Indonesia dan Negara Dunia Terkait Penahanan Aktivis Flotila
Insiden penahanan aktivis flotila yang melibatkan warga dari 40 negara ini memicu aksi diplomatik massal. Duta Besar Amerika Serikat untuk Israel, Mike Huckabee, menyebut perbuatan Ben-Gvir sebagai tindakan yang menjijikkan. Sementara itu, Menteri Luar Negeri Inggris, Yvette Cooper, melayangkan surat panggilan resmi kepada Kedutaan Besar Israel. Cooper menyebut tayangan video itu sebagai peristiwa yang sangat memalukan.
Perdana Menteri Kanada, Mark Carney, turut mengecam keras insiden tersebut melalui pernyataan di platform X. Mark Carney menegaskan, “Perlakuan terhadap para sukarelawan tersebut sangat tidak dapat diterima. Aparat harus menegakkan perlindungan warga sipil serta penghormatan pada martabat manusia dalam kondisi apa pun.” Pemerintah Prancis, Italia, Belanda, Belgia, dan Spanyol juga mengambil langkah serupa dengan memanggil duta besar Israel.
Pemerintah Indonesia memberikan perhatian khusus karena terdapat sembilan warga negara Indonesia (WNI) dalam misi tersebut. Menteri Luar Negeri Indonesia, Sugiono, mengonfirmasi bahwa kementeriannya sedang mengupayakan langkah penyelamatan.
Sugiono menjelaskan, “Pemerintah berharap seluruh WNI berada dalam kondisi yang baik saat ini. Kami terus memaksimalkan koordinasi jalur diplomatik secara tidak langsung karena Indonesia tidak memiliki hubungan bilateral resmi dengan Israel.” Sugiono menambahkan bahwa pihak Kemenlu meminta bantuan dari negara sahabat seperti Yordania dan Turki. Negara-negara tersebut memiliki warga yang mengalami situasi serupa. Indonesia berharap para WNI dapat segera pulang ke tanah air dengan selamat.
Misi Global Sumud Flotilla 2.0 sendiri membawa pasokan bantuan penting bagi warga Gaza. Sukarelawan membawa bahan makanan, susu formula untuk bayi, dan alat-alat medis. Berdasarkan laporan terkini dari PBB, jutaan warga Gaza masih hidup di tenda-tenda darurat yang padat. Mereka menghadapi krisis akses air bersih akibat pembatasan ketat masuknya barang kebutuhan pokok.
(Redaksi)




