Budaya

Pentas Tunggal Teater Mahardika Tampil 26 April 2026, Naskah “RT Nol RW Nol” Jadi Penanda Kebangkitan

IDENESIA.CO – Setelah hampir tujuh tahun vakum, Teater Mahardika SMAN 8 Samarinda akhirnya kembali menghidupkan panggung Pentas Tunggal mereka. Kali ini, kelompok teater pelajar tersebut memilih naskah “RT Nol RW Nol” karya Iwan Simatupang sebagai penanda kebangkitan mereka.

Pementasan dijadwalkan berlangsung pada Minggu malam, 26 April 2026, di Taman Budaya Kaltim. Momentum ini menjadi titik balik setelah sejak 2019 panggung Pentas Tunggal Teater Mahardika sempat “gelap” tanpa aktivitas.

Vakum Sejak 2019, Teater Mahardika Kembali dengan Pilihan Berani

Selama bertahun-tahun, Pentas Tunggal menjadi ruang penting bagi Teater Mahardika untuk menunjukkan eksistensi. Namun, aktivitas tersebut sempat terhenti dan nyaris hilang dari kalender mereka.

Kini, mereka tidak sekadar kembali. Sebaliknya, mereka langsung memilih naskah yang dikenal kompleks dan tidak mudah dipahami.

Ketua Teater Mahardika, Aji, menegaskan bahwa pementasan ini bukan sekadar pertunjukan biasa.

“Ini bukan sekadar pertunjukan. Ini adalah momen kebangkitan,” ujarnya.

Ia juga menekankan bahwa kembalinya Pentas Tunggal menjadi bentuk pernyataan bahwa Teater Mahardika masih ada dan siap melangkah lebih jauh.

Angkat Naskah Absurd dengan Pendekatan Realisme

Di bawah arahan sutradara Haura, naskah “RT Nol RW Nol” tidak dipentaskan secara konvensional. Tim produksi membongkar struktur cerita, lalu menyusunnya ulang dengan pendekatan realisme agar lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Pendekatan ini membuat karakter-karakter dalam cerita tampil lebih nyata. Mereka tidak lagi sekadar simbol, tetapi hadir sebagai representasi manusia yang bisa ditemui di sudut kota.

Tokoh Kakek digambarkan sebagai pemulung yang bertahan hidup. Pincang mengais belas kasihan di jalan. Bopeng mengamen, sementara Ani dan Ina menjual diri. Ati hadir sebagai perempuan yang terdesak keadaan.

Namun, di balik realitas tersebut, muncul lapisan cerita yang lebih dalam. Kehidupan para tokoh terlihat masuk akal, tetapi tetap berujung pada kondisi yang tidak menentu.

“Kadang, absurditas justru hadir dalam kehidupan yang terlalu masuk akal,” kata Haura.

Cerita Tentang Pilihan dan Konsekuensi

Alur cerita bergerak perlahan, tetapi terus berkembang melalui keputusan-keputusan tokohnya. Bopeng memilih pergi menjadi kelasi kapal demi masa depan. Ani memutuskan menikah dengan pelanggan tetapnya. Ina ikut meninggalkan tempat itu, sementara Pincang kehilangan arah.

Setiap keputusan memicu perubahan baru. Tidak ada tokoh yang benar-benar diam. Namun, tidak satu pun dari mereka mencapai titik akhir yang jelas.

Menjelang akhir pertunjukan, suasana panggung justru semakin sunyi. Satu per satu tokoh pergi, meninggalkan ruang yang dulu mereka huni bersama.

Hanya Kakek yang tetap tinggal. Ia tidak bergerak, tetapi menyaksikan semuanya runtuh perlahan.

Di titik ini, pertunjukan tidak lagi sekadar menyajikan cerita. Sebaliknya, ia menghadirkan pertanyaan bagi penonton tentang makna pilihan dan konsekuensi hidup.

Lebih dari Sekadar Comeback

Praktisi teater Kalimantan Timur, Fachri Mahayupa, menilai pementasan ini lebih dari sekadar kembalinya sebuah kelompok teater pelajar.

Ia melihatnya sebagai cara Teater Mahardika berbicara kembali kepada publik, sekaligus menunjukkan keberanian mereka dalam memilih karya yang tidak mudah.

“Pertunjukan ini layak ditunggu. Bukan karena semuanya indah, tapi karena ada kemungkinan sesuatu akan tertinggal di kepala penonton setelah lampu padam,” ujarnya.

Menurutnya, keputusan memilih naskah kompleks justru menunjukkan keseriusan Teater Mahardika dalam membangun kembali identitas mereka.

Momentum Kebangkitan Teater Mahardika

Setelah hampir tujuh tahun tanpa Pentas Tunggal, Teater Mahardika tidak mengambil jalan aman. Mereka justru memilih tantangan, baik dari sisi naskah maupun pendekatan pementasan.

Melalui “RT Nol RW Nol”, mereka ingin menegaskan bahwa panggung bukan sekadar ruang hiburan, tetapi juga ruang refleksi.

Seorang siswi kelas XI yang memerankan tokoh Ina bahkan mengajak publik untuk menyaksikan langsung pementasan ini.

“Mungkin ini momen yang tidak ingin dilewatkan, saat kami ingin membuktikan bahwa kami belum selesai, bahkan baru memulai,” ujarnya.

Dengan semangat tersebut, Teater Mahardika seolah ingin menyampaikan satu pesan: mereka tidak sekadar kembali, tetapi juga siap membuka babak baru di panggung teater pelajar Samarinda.

Tim Artistik Pentas Tunggal Teater Mahardika 2026:

A. Aktor/Aktris:
Wahyu sebagai Kakek
Roji sebagai Pincang
Reda sebagai Ani
Aji sebagai Ina
Reyhan sebagai Bopeng
Haura sebagai Ati

B. Penata Bunyi:
Dewo, Baim, Fifi, Dipcil

C. Penata Cahaya:
Riska, Inka

D. Penata Panggung:
Dewo, Belut

E. Penata Makeup & Kostum:
Besse

F. Stage Manager:
Inka

G. Sutradara:
Haura

H. Steering Committee:
Rio Ateng, Faizal Oyo, Nadhif, Lek’cil

(Redaksi)

Show More
Back to top button