Budaya

Perayaan Nyepi di Samarinda, Umat Hindu Lakukan Refleksi Sosial

IDENESIA.CO – Umat Hindu di Kota Samarinda menyambut Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948 dengan membawa pesan mendalam mengenai kebersamaan. Perayaan tahun ini mengusung tema universal Vasudhaiva Kutumbakam yang memiliki arti “Satu Bumi, Satu Keluarga”. Selain itu, tema tersebut berfungsi sebagai landasan spiritual sekaligus ajakan untuk melakukan refleksi sosial di tengah pesatnya pembangunan daerah.

Perayaan Nyepi di Samarinda menjadi momentum penting bagi masyarakat Kalimantan Timur, terutama saat wilayah ini bertransformasi menjadi penyangga Ibu Kota Nusantara. Oleh karena itu, melalui tema tersebut, umat Hindu menekankan pentingnya harmoni, nilai kebersamaan, dan kepedulian terhadap lingkungan hidup kepada masyarakat luas.

Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kota Samarinda, I Putu Suberata, memberikan penjelasan mengenai makna mendalam di balik ritual ini. Beliau menegaskan bahwa Nyepi bukan sekadar rutinitas keagamaan tahunan bagi umat. Sebaliknya, momen ini merupakan ruang refleksi bagi seluruh umat manusia untuk menakar kembali hubungan mereka dengan semesta.

Makna Filosofis Perayaan Nyepi di Samarinda

“Kami menjalankan Catur Brata Penyepian untuk memberikan waktu bagi bumi agar beristirahat sejenak. Kemudian, langkah ini merupakan kontribusi nyata kami demi keberlanjutan kehidupan bersama di masa depan,” ujar I Putu Suberata. Ia menambahkan bahwa filosofi “Satu Bumi, Satu Keluarga” mengingatkan setiap individu bahwa tindakan manusia selalu berdampak pada lingkungan dan sesama.

Rangkaian Perayaan Nyepi di Samarinda bermula dengan ritual yang mengandung pesan keseimbangan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. Umat Hindu melaksanakan ritual Melasti pada Selasa, 17 Maret 2026, di sepanjang aliran Sungai Mahakam. Selanjutnya, prosesi ini bertujuan untuk menyucikan diri manusia dan alam semesta dari segala pengaruh negatif.

Selama Melasti, umat membawa benda-benda suci seperti pratima dan pralingga menuju sumber air. Dalam kepercayaan Hindu, air melambangkan sumber kehidupan yang menyatukan seluruh makhluk hidup. Maka dari itu, ritual ini berfungsi menghanyutkan kotoran spiritual dan mengambil sari pati kehidupan sebagai bekal menyambut hari hening.

Suasana khidmat menyertai prosesi tersebut dengan iringan gamelan balaganjur, pajeng, dan umbul-umbul yang warna-warni. Kehadiran atribut budaya ini melambangkan kehormatan serta kemuliaan bagi para peserta upacara. Setelah itu, pada hari berikutnya, umat melanjutkan agenda dengan ritual Tawur Agung Kesanga pada Rabu, 18 Maret 2026.

Ritual Tawur Agung dan Pawai Ogoh-Ogoh

Kegiatan Tawur Agung Kesanga berlangsung di kawasan Pura Jagat Hita Karana dan melibatkan pawai ogoh-ogoh. Ritual ini memiliki fungsi simbolis untuk menetralkan energi negatif atau bhuta kala menjadi energi positif. Alhasil, proses transformasi energi ini diharapkan mampu membawa keseimbangan dan kedamaian bagi lingkungan sekitar.

Tokoh umat Hindu Samarinda, I Made Subamia, menyatakan bahwa prosesi ini memegang peranan vital dalam menjaga harmoni kehidupan kota. Menurutnya, Tawur Agung Kesanga merupakan upaya manusia untuk menyeimbangkan energi alam. Selain itu, acara ini juga menjadi doa bersama bagi keamanan serta kedamaian daerah Kalimantan Timur.

Puncak dari seluruh rangkaian Perayaan Nyepi di Samarinda jatuh pada Kamis, 19 Maret 2026. Umat Hindu akan melaksanakan Catur Brata Penyepian selama 24 jam penuh. Dalam fase ini, umat menjalankan empat pantangan utama: Amati Geni (tidak menyalakan api), Amati Karya (tidak bekerja), Amati Lelungan (tidak bepergian), dan Amati Lelanguan (tidak bersenang-senang).

Ketua panitia, I Gusti Bagus Armayasa, menjelaskan bahwa pihak panitia telah menyiapkan seluruh tahapan secara matang. Sebagai contoh, persiapan meliputi gotong royong pembuatan sarana upacara hingga ritual pengambilan air suci atau tirta di laut. Semangat kebersamaan umat terlihat jelas dalam setiap tahapan persiapan yang mereka lakukan secara teliti.

Penutupan dan Semangat Persaudaraan

Setelah menjalani hari tanpa aktivitas, umat Hindu akan merayakan Ngembak Geni pada Jumat, 20 Maret 2026. Momen ini menjadi kesempatan bagi umat untuk bersilaturahmi dan saling memaafkan. Bahkan, Ngembak Geni juga mencerminkan keterbukaan serta persaudaraan lintas komunitas di tengah kemajemukan warga Samarinda.

Pihak panitia memberikan apresiasi yang tinggi terhadap toleransi masyarakat Samarinda. Sikap saling menghormati dari warga sekitar sangat membantu kelancaran pelaksanaan ibadah Nyepi. Meskipun demikian, keharmonisan ini menunjukkan bahwa perbedaan keyakinan bukan menjadi penghalang untuk menjaga kedamaian kota secara bersama-sama.

Melalui perayaan ini, umat Hindu mengajak semua elemen masyarakat untuk merenungkan tanggung jawab kolektif terhadap bumi. Keheningan Nyepi memberikan pengingat bahwa jeda sejenak sangat berguna untuk memperbaiki diri dan mempererat hubungan sosial. Akhirnya, dengan hidup selaras bersama alam, manusia dapat menjamin keberlangsungan hidup bagi generasi mendatang.

(Redaksi)

Show More
Back to top button