
IDENESIA.CO – Pemerintah Rusia menyatakan kesiapan penuh untuk menghadapi realitas dunia baru tanpa batasan pengendalian senjata nuklir. Kondisi ini muncul seiring berakhirnya masa berlaku Perjanjian New START antara Moskow dan Amerika Serikat (AS) pada akhir pekan ini.
Melansir laporan Reuters pada Selasa (3/2/2026), Washington di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump belum memberikan respons resmi. Padahal, pihak Moskow telah mengajukan usulan untuk memperpanjang pembatasan yang tertuang dalam perjanjian bersejarah tersebut.
Ketidakpastian Masa Depan Perjanjian New START
Hingga saat ini, kedua negara belum mencapai kesepahaman bilateral pada menit-menit terakhir menjelang tenggat waktu. Jika tidak ada kesepakatan baru, Perjanjian New START akan resmi berakhir pada tanggal 5 Februari mendatang.
Wakil Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Ryabkov, menyoroti sikap diam dari pihak Amerika Serikat. Beliau menegaskan bahwa tidak adanya jawaban dari Washington merupakan sebuah jawaban tersurat bagi Kremlin. Ryabkov, yang juga berperan sebagai juru bicara pengendalian senjata, menyatakan bahwa Moskow telah menyiapkan langkah antisipasi.
Selanjutnya, Ryabkov menjelaskan bahwa dunia akan memasuki fase baru di mana dua kekuatan nuklir terbesar tidak memiliki batasan hukum. Ini merupakan pertama kalinya dalam beberapa dekade terakhir Rusia dan AS beroperasi tanpa koridor pengendalian senjata yang jelas.
Dampak Berakhirnya Pengendalian Senjata Nuklir Strategis
Mantan Presiden Rusia, Dmitry Medvedev, turut memberikan peringatan keras mengenai konsekuensi dari situasi ini. Medvedev yang kini menjabat sebagai Wakil Ketua Dewan Keamanan Rusia menilai berakhirnya perjanjian ini sebagai sinyal bahaya bagi stabilitas global.
Meskipun demikian, Medvedev tidak ingin secara langsung menyebut bahwa berakhirnya Perjanjian New START akan memicu perang nuklir dalam waktu dekat. Namun, beliau menekankan bahwa hilangnya kontrol terhadap senjata strategis harus menjadi kekhawatiran serius bagi seluruh masyarakat internasional.
Sebagai informasi tambahan, Medvedev dan Barack Obama menandatangani kesepakatan ini pada tahun 2010 silam. Perjanjian ini mengatur pembatasan penempatan senjata nuklir strategis yang memiliki jangkauan jauh serta daya ledak yang sangat tinggi.
Sikap Donald Trump Terhadap Keamanan Global
Di sisi lain, Presiden Donald Trump justru menunjukkan sikap yang berbeda terkait masa depan pengendalian senjata. Trump memberikan indikasi bahwa dirinya akan membiarkan Perjanjian New START berakhir begitu saja tanpa menerima tawaran perpanjangan sukarela dari Rusia.
Oleh karena itu, Washington kini mulai menyarankan agar China bergabung dalam pembicaraan pengendalian senjata di masa depan. AS menganggap China sebagai kekuatan nuklir terbesar ketiga yang harus tunduk pada aturan internasional yang sama.
Namun, Beijing hingga saat ini tidak menunjukkan keinginan sedikitpun untuk bergabung dalam pakta tersebut. Ryabkov menyatakan bahwa Rusia mendukung posisi China yang menolak tekanan dari Amerika Serikat dalam urusan persenjataan mereka.
Harapan Rusia dan Ambisi Baru Amerika Serikat
Dalam wawancara terbarunya dengan New York Times, Donald Trump terkesan tidak memusingkan berakhirnya masa berlaku perjanjian ini. Beliau melontarkan pernyataan bahwa Amerika Serikat sanggup membuat perjanjian baru yang jauh lebih baik daripada sebelumnya.
Sebagai hasilnya, dunia kini menanti langkah nyata dari kedua negara sebelum tanggal 5 Februari. Tanpa adanya dokumen pengganti, perlombaan senjata nuklir berisiko kembali memanas dan mengancam perdamaian yang selama ini terjaga melalui kesepakatan formal.
Selain itu, para pengamat internasional memprediksi bahwa berakhirnya Perjanjian New START akan mengubah peta kekuatan geopolitik secara drastis. Moskow tetap memegang prinsip bahwa mereka akan menjaga kedaulatan meskipun tanpa adanya ikatan perjanjian bilateral dengan Washington.
Kesimpulannya, kebuntuan diplomasi antara Rusia dan Amerika Serikat membawa dunia ke ambang ketidakpastian nuklir. Semua mata kini tertuju pada Washington untuk melihat apakah ada keputusan mendadak yang dapat menyelamatkan kerangka pengendalian senjata internasional tersebut.
(Redaksi)

