
IDENESIA.CO – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) memaparkan hasil pertemuan dengan indeks provider global Morgan Stanley Capital International (MSCI). Pertemuan daring pada Senin (2/2/2026) sore itu membahas sejumlah isu krusial pasar modal Indonesia, mulai dari transparansi kepemilikan saham hingga rencana peningkatan free float.
OJK Ajukan Solusi Transparansi dan Likuiditas ke MSCI
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon (KE PMDK) OJK, Hasan Fawzi, menyampaikan bahwa OJK bersama BEI dan KSEI telah mengajukan proposal solusi untuk menjawab seluruh concern MSCI.
“Kami sudah memiliki rencana untuk melakukan pemenuhan atas semua isu yang terkait, yaitu terkait dengan disclosure atas kepemilikan pemegang saham dengan porsi di bawah 5% yang kita komitkan untuk dapat dilakukan kepemilikan saham di atas bahkan 1%,” ujar Hasan dalam konferensi pers di BEI, Jakarta, Senin (2/2/2026).
Klasifikasi Investor Rinci hingga 27 Subtipe
OJK juga mendorong peningkatan transparansi melalui pengelolaan data investor di KSEI. Hasan menjelaskan, klasifikasi investor yang sebelumnya hanya terdiri dari sembilan tipe akan bertambah menjadi 27 subtipe.
“Ini akan lebih memunculkan klarifikasi dan kredibilitas pengungkapan beneficial ownership dari kepemilikan saham tersebut,” jelasnya.
Selain itu, OJK mengusulkan kenaikan batas minimum free float dari 7,5% menjadi 15% yang akan berjalan secara bertahap bersama seluruh pelaku pasar.
MSCI Siap Beri Panduan Teknis
Hasan menilai diskusi dengan MSCI berlangsung konstruktif. Kedua pihak sepakat melanjutkan pembahasan pada level teknis dan menyampaikan perkembangan secara berkala kepada publik.
“Bahkan dari pihak MSCI menyediakan diri untuk memberikan guidance pada saat menjelaskan bagaimana metodologi dan cara perhitungan yang akan mereka lakukan pada akhirnya,” paparnya. “Kami bersepakat akan melakukan regular update kepada publik terkait progres yang kami komitkan.”
BPI Danantara Nilai Pertemuan Konstruktif
Chief Investment Officer (CIO) BPI Danantara, Pandu Sjahrir, yang turut menyaksikan pertemuan tersebut, menilai rapat dengan MSCI berjalan baik dan konstruktif.
“Sekarang memang the devil is in the details. Harus detail nanti ke depan. Tentu kami sebagai market participant juga merasa ini sesuatu yang nanti tentu akan makin baik buat pasar modal kita,” ujarnya.
Pandu menambahkan, tekanan pasar di Asia dan komoditas mendorong rebalancing investor. Menurutnya, MSCI menyoroti peningkatan minat pada saham dengan fundamental, likuiditas, valuasi, dan arus kas yang kuat.
“Itu bisa dari top 20 stocks yang mengalami peningkatan dan top 20 stocks yang mengalami penurunan. Jadi ini perlu hanya secara makro saja, bukan hanya di level Indonesia saja,” tutup Pandu.
(Redaksi)


