Sosok

Profil Thomas Djiwandono: Deputi Gubernur BI Baru dan Jejak Kariernya

IDENESIA.CO – Komisi XI DPR RI resmi menetapkan Thomas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) pada Senin (26/1/2026). Penunjukan keponakan Presiden Prabowo Subianto ini menjadi sorotan utama karena ia menggantikan Juda Agung yang mengundurkan diri. Publik kini mulai mencari tahu profil Thomas Djiwandono yang sebelumnya menjabat sebagai Wakil Menteri Keuangan dalam Kabinet Merah Putih.

Kesepakatan Bulat di Komisi XI DPR RI

Ketua Komisi XI DPR RI, Misbakhun, menjelaskan bahwa proses penetapan ini berlangsung melalui musyawarah mufakat. Seluruh fraksi di DPR menerima sosok Thomas Djiwandono sebagai figur yang tepat untuk memperkuat bank sentral. Misbakhun menilai Thomas memiliki kemampuan komunikasi yang luar biasa antarpartai politik.

Selain itu, Thomas mampu memaparkan strategi sinergi antara kebijakan moneter dan kebijakan fiskal secara komprehensif. Kemampuan ini menjadi modal penting bagi Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional di masa depan. Rapat internal Komisi XI akhirnya mengukuhkan posisi tersebut setelah melalui uji kelayakan dan kepatutan yang ketat di Jakarta.

Mengenal Profil Thomas Djiwandono dan Latar Belakang Keluarga

Mengulas profil Thomas Djiwandono tidak lepas dari garis keturunan keluarganya yang kental dengan dunia keuangan. Pria yang akrab dengan sapaan Tommy ini lahir di Jakarta pada 7 Mei 1972. Saat ini, ia telah memasuki usia 54 tahun dengan segudang pengalaman profesional di berbagai sektor.

Darah perbankan mengalir kuat dalam tubuhnya karena sang ayah, Soedradjad Djiwandono, merupakan mantan Gubernur Bank Indonesia. Ibunya, Biantiningsih Miderawati, adalah kakak kandung dari Presiden RI ke-8, Prabowo Subianto. Bahkan, Thomas merupakan keturunan langsung dari RM Margono Djojohadikusumo yang merupakan pendiri Bank BNI. Latar belakang ini menempatkan Thomas dalam posisi strategis sejak usia muda.

Riwayat Pendidikan Internasional yang Gemilang

Dalam aspek akademis, profil Thomas Djiwandono mencerminkan standar pendidikan tinggi kelas dunia. Ia menyelesaikan pendidikan sarjana (S1) pada tahun 1994 di Haverford College, Amerika Serikat, dengan fokus pada program studi Sejarah. Meskipun memulai dari bidang humaniora, minatnya pada ekonomi dan hubungan internasional terus berkembang pesat.

Thomas kemudian melanjutkan studi master ke Johns Hopkins University, Amerika Serikat. Ia berhasil meraih gelar Master di bidang Hubungan Internasional dan Ekonomi Internasional pada tahun 2003. Kombinasi ilmu sejarah, ekonomi, dan hubungan internasional ini membentuk pola pikirnya yang strategis dalam melihat dinamika pasar global dan domestik.

Perjalanan Karier dari Jurnalis hingga Menjadi Pejabat Negara

Sebelum menduduki jabatan tinggi di pemerintahan, Thomas Djiwandono merintis karier dari bawah. Ia memulai langkah profesionalnya sebagai wartawan magang di majalah Tempo pada tahun 1993. Setahun kemudian, ia bekerja sebagai jurnalis di Indonesia Business Weekly untuk mengasah kemampuan analisisnya terhadap isu-isu ekonomi terkini.

Setelah puas di dunia media, Thomas beralih ke sektor korporasi dan keuangan. Ia pernah menjabat sebagai analis keuangan di Natwest Market dan konsultan di Castle Asia. Kariernya semakin menanjak saat ia memegang posisi direktur dan CEO di Comexindo International. Ia juga sempat menjabat sebagai Deputi CEO Arsari Group, sebuah perusahaan milik Hashim Djojohadikusumo, paman kandungnya.

Di ranah politik, Thomas mengemban amanah sebagai Bendahara Umum Partai Gerindra sejak tahun 2008. Pengalaman panjangnya di dunia profesional membawanya masuk ke lingkaran pemerintahan sebagai Wakil Menteri Keuangan pada tahun 2024. Hingga akhirnya, pada awal 2026, ia resmi memulai babak baru sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia.

Rincian Harta Kekayaan Thomas Djiwandono

Selain membahas profil Thomas Djiwandono, laporan kekayaannya juga menarik perhatian masyarakat. Berdasarkan Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) tahun 2024, total harta kekayaan Thomas mencapai Rp 73 miliar. Angka ini mencakup berbagai aset mulai dari properti hingga surat berharga.

Aset tanah dan bangunan menyumbang nilai terbesar yaitu sekitar Rp 40,57 miliar. Ia juga memiliki koleksi alat transportasi dan mesin senilai Rp 4,21 miliar. Selain itu, Thomas menyimpan dana dalam bentuk surat berharga sebesar Rp 13,07 miliar serta kas dan setara kas senilai Rp 13,97 miliar. Kepemilikan harta yang transparan ini menunjukkan akuntabilitasnya sebagai pejabat publik yang akan mengelola kebijakan moneter negara.

Penunjukan Thomas Djiwandono membawa harapan baru bagi sinkronisasi kebijakan ekonomi di Indonesia. Dengan latar belakang pendidikan yang kuat, pengalaman korporasi yang luas, dan pemahaman politik yang mendalam, ia siap membantu Bank Indonesia menghadapi tantangan ekonomi global.

(Redaksi)

Show More
Back to top button