
IDENESIA.CO – Proyek baterai kendaraan listrik RI-China kini menunjukkan perkembangan terbaru setelah Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memberikan pernyataan resmi. Pemerintah terus mendorong percepatan kerja sama investasi antara PT Aneka Tambang Tbk (Antam) dengan perusahaan asal China, Zhejiang Huayou Cobalt Co. Kolaborasi strategis ini bertujuan untuk membangun ekosistem baterai yang solid guna mendukung kemandirian energi nasional.
ESDM Kawal Proyek Baterai Kendaraan Listrik RI-China Hingga Tuntas
Sekretaris Satuan Tugas Hilirisasi dan Ketahanan Energi Nasional, Ahmad Erani Yustika, memberikan penjelasan mendalam mengenai status kerja sama ini. Beliau menegaskan bahwa kedua belah pihak saat ini masih aktif melakukan pembahasan teknis serta kajian mendalam. Meskipun proses tersebut membutuhkan waktu, pemerintah memastikan bahwa rencana investasi besar ini tetap berjalan sesuai jalur.
Erani menyampaikan informasi tersebut saat berada di kantor Kementerian ESDM, Jakarta, pada Rabu (21/1/2026). Ia mengakui bahwa finalisasi dokumen memerlukan ketelitian yang sangat tinggi. Oleh karena itu, semua pihak harus bersabar menanti hasil kajian tersebut rampung.
Selain itu, Erani menjelaskan bahwa belum ada penetapan tanggal pasti untuk proses peletakan batu pertama atau groundbreaking. Pemerintah memprioritaskan kualitas kesepakatan agar proyek ini memberikan dampak maksimal bagi ekonomi Indonesia. Fokus utama saat ini adalah menyelesaikan seluruh aspek administrasi dan teknis agar eksekusi di lapangan berjalan tanpa kendala berarti.
Menteri ESDM Minta Percepatan Eksekusi Proyek Baterai Kendaraan Listrik RI-China
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia memberikan instruksi tegas terkait keberlanjutan investasi ini. Beliau menginginkan agar proyek tersebut segera memasuki tahap eksekusi fisik dalam waktu dekat. Pasalnya, ketersediaan sumber daya alam Indonesia sangat melimpah untuk mendukung industri baterai ini.
Menurut Erani, anggaran seharusnya tidak menjadi penghalang utama dalam merealisasikan kerja sama ini. Pihak kementerian melihat bahwa potensi besar tersebut harus segera berubah menjadi aksi nyata. Oleh sebab itu, koordinasi antara Antam dan Huayou Cobalt terus mengalami peningkatan intensitas agar kesepakatan final segera tercapai.
Selanjutnya, percepatan ini juga sejalan dengan ambisi Indonesia untuk menjadi pemain kunci dalam rantai pasok global. Kehadiran investor kelas dunia seperti Huayou Cobalt akan membawa teknologi mutakhir ke dalam negeri. Hal tersebut tentunya akan meningkatkan nilai tambah dari pengolahan nikel yang menjadi bahan baku utama baterai.
Proyek Titan Perkuat Sinergi Antam dan Huayou Cobalt
Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung sebelumnya juga menyinggung progres kerja sama yang bernama Proyek Titan ini. Beliau menyatakan bahwa Antam dan Huayou tengah merampungkan perjanjian detail untuk memayungi investasi tersebut. Meskipun demikian, pemerintah belum bersedia membeberkan poin-poin spesifik yang masih dalam tahap negosiasi antara kedua perusahaan.
Upaya pendorong percepatan terus berlangsung sejak pertemuan di Sidang Kabinet Paripurna tahun lalu. Proyek Titan menjadi simbol baru kolaborasi hilirisasi nikel di Indonesia. Keberhasilan proyek ini akan membuktikan bahwa iklim investasi di sektor energi hijau Indonesia tetap kompetitif dan menarik bagi pemodal asing.
Sebagai informasi tambahan, Zhejiang Huayou Cobalt secara resmi masuk menggantikan posisi LG Energy Solution (LGES) dalam proyek ini. Perusahaan asal China tersebut menyatakan komitmen untuk menggarap investasi raksasa senilai US$ 8,6 miliar atau setara dengan Rp139 triliun. Angka tersebut mencerminkan betapa besarnya skala industri yang akan dibangun.
Terakhir, integrasi hulu ke hilir dalam proyek baterai kendaraan listrik RI-China ini akan memperkuat posisi tawar Indonesia di Asia Tenggara. Pemerintah berharap kolaborasi ini menciptakan lapangan kerja baru dan mentransfer keahlian teknologi bagi tenaga kerja lokal. Dengan demikian, industri otomotif masa depan berbasis listrik dapat segera terwujud di tanah air.
(Redaksi)
