
IDENESIA.CO – PSSI kini memusatkan perhatian penuh pada pencarian pelatih baru Timnas Indonesia setelah kegagalan melangkah ke Piala Dunia 2026. Federasi menilai penunjukan juru taktik berikutnya tidak boleh bersifat kompromistis, melainkan harus berbasis kebutuhan jangka panjang.
Target besar pun sudah dipancang: membawa Timnas Indonesia lolos ke Piala Dunia 2030. Untuk mewujudkan ambisi tersebut, PSSI menetapkan lima syarat utama yang wajib dipenuhi calon pelatih Garuda.
Komitmen itu disampaikan secara terbuka oleh dua anggota Komite Eksekutif (Exco) PSSI, Sumardji dan Endri Erawan, dalam konferensi pers di Menara Mandiri, Jakarta, Selasa (16/12) malam. Keduanya menegaskan bahwa proses seleksi berjalan ketat dan terukur, dengan sejumlah kandidat yang sudah melewati tahapan penting.
Saat ini, PSSI telah mengerucutkan nama calon pelatih Timnas Indonesia menjadi dua kandidat utama. Dua nama tersebut merupakan hasil penyaringan dari lima kandidat awal yang masuk dalam proyeksi federasi. Dari lima nama tersebut, empat kandidat telah mengikuti sesi wawancara langsung di Eropa.
PSSI juga memastikan bahwa seluruh kandidat sudah menerima penjelasan menyeluruh terkait syarat dan tanggung jawab yang akan diemban apabila terpilih menangani Timnas Indonesia.
Pengalaman Mengantar Tim ke Piala Dunia Jadi Syarat Utama
Syarat pertama yang ditetapkan PSSI menyentuh aspek paling krusial, yakni rekam jejak dan pengalaman internasional. Federasi menilai Timnas Indonesia membutuhkan pelatih yang tidak hanya kuat secara taktik, tetapi juga terbukti mampu membawa tim bersaing di level tertinggi.
Endri Erawan menegaskan bahwa PSSI mencari sosok yang memiliki pengalaman konkret meloloskan tim ke Piala Dunia.
“Harus punya pengalaman bagus meloloskan tim ke Piala Dunia,” kata Endri dalam jumpa pers.
Kriteria ini menegaskan bahwa PSSI tidak ingin bereksperimen. Federasi menginginkan pelatih yang sudah pernah merasakan tekanan dan dinamika kualifikasi Piala Dunia, sehingga mampu membangun mental juara di tubuh Timnas Indonesia.
PSSI Wajibkan Pelatih Tinggal di Indonesia
Selain kualitas teknis, PSSI juga menaruh perhatian besar pada komitmen personal pelatih. Federasi menegaskan bahwa pelatih Timnas Indonesia harus bersedia tinggal di Indonesia dalam jangka waktu panjang, bahkan diharapkan menetap bersama keluarga.
“Kalau perlu tinggal bersama keluarganya di Indonesia,” ujar Endri.
Syarat ini muncul sebagai refleksi dari pengalaman sebelumnya, ketika pelatih tidak menetap di Indonesia sehingga dinilai kurang maksimal memantau perkembangan sepak bola nasional. Dengan tinggal di Indonesia, pelatih diharapkan dapat memahami kultur sepak bola lokal dan aktif memantau kompetisi domestik.
Asisten Pelatih Lokal Wajib Masuk Tim Kepelatihan
PSSI juga menegaskan pentingnya transfer ilmu kepada pelatih lokal. Karena itu, federasi mewajibkan calon pelatih Timnas Indonesia untuk menerima asisten pelatih dari dalam negeri sebagai bagian dari tim kepelatihan.
Sumardji menekankan bahwa poin ini bersifat mutlak dan tidak bisa ditawar.
“Terpenting adalah pelatih tim senior ini harus menerima asisten dari kami, pelatih lokal, untuk bergabung bersama. Itu penting sekali,” tegas Sumardji.
PSSI menilai kebijakan ini terbukti efektif. Pada era Shin Tae Yong, Nova Arianto dipercaya menjadi asisten pelatih. Setelah bertahun-tahun menyerap ilmu, Nova kini dipercaya menangani Timnas Indonesia U-17.
Pelatih Diminta Aktif Jadi Mentor Kursus Kepelatihan
Kontribusi pelatih Timnas Indonesia tidak berhenti di lapangan. PSSI juga mewajibkan calon pelatih untuk aktif berkontribusi dalam pengembangan pelatih nasional, salah satunya dengan menjadi mentor dalam kursus kepelatihan.
“Harus berkontribusi ke pelatih lokal. Kalau ada pengambilan lisensi pelatih, turut mengisi kursus,” jelas Endri.
PSSI menilai kehadiran pelatih top dunia harus membawa efek domino positif. Dengan berbagi ilmu melalui kursus lisensi, kualitas pelatih lokal diharapkan meningkat secara merata dan berkelanjutan.
PSSI Dorong Sinergi dengan Klub Liga 1 dan Liga 2
Syarat terakhir yang ditekankan PSSI adalah sinergi dengan klub-klub nasional. Federasi ingin pelatih Timnas Indonesia menjalin komunikasi intens dengan klub Liga 1 dan Liga 2 agar pembinaan pemain berjalan searah.
“Harus dekat dengan klub Liga 1 dan Liga 2,” kata Endri.
PSSI menilai pemain lokal yang berlaga di kompetisi domestik tetap memegang peran penting dalam struktur Timnas Indonesia. Karena itu, pelatih wajib memantau perkembangan mereka secara langsung, bukan hanya mengandalkan laporan atau pemain naturalisasi.
Dengan lima syarat tersebut, PSSI menegaskan bahwa proses pencarian pelatih Timnas Indonesia tidak sekadar mencari nama besar. Federasi ingin menghadirkan figur yang berkomitmen penuh, mau membangun dari dalam, dan mampu meninggalkan warisan sistem sepak bola yang berkelanjutan. Keputusan akhir akan ditentukan dalam rapat Exco PSSI dalam waktu dekat, sekaligus menjadi penentu arah masa depan Garuda menuju Piala Dunia 2030.
(Redaksi)

